Menurutnya, dengan hal itu, secara tak langsung dapat menumbuhkan rasa kepedulian dan cinta akan budaya yang telah diturunkan oleh leluhur. "Perlu kita ketahui bersama, bahwa selama ini budaya dapat menjadi benteng pertahanan dari ancaman budaya luar. Apalagi berbicara sekarang ini bagi negara lain, justru sudah menjadikan budaya sebagai senjata perang yang dapat membuat perubahan sosial yang signifikan bagi masyarakat," terangnya.
Bupati berharap kepada praktisi di wilayah Kabupaten Bengkayang, agar lebih memperhatikan kualitas pendidikan dan kebudayaan dengan tak mengesampingkan budaya lokal.
"Kita tahu bahwa peran dunia pendidikan sangat vital. Semoga mau kedepan lingkungan pendidikan tersedia guru yang dikhususkan mengajar bahasa dan sastra Dayak, seperti bahasa Bakatik, Baahe, Banyadu, Bajare, Badameo, Bidayuh, Iban, dan sebagainya," paparnya.
Selain bahasa, Bupati, juga mengungkapkan beberapa unsur budaya lain yang mesti dijaga dan dilestarikan kedepannya. Termasuk, di antaranya kuliner maupun permainan tradisional khas suku Dayak.
Saat membuka kegiatan tersebut, Bupati menyebut bahwa Pemda Bengkayang sangat mendukung, serta mengapresiasi seluruh pihak yang mengambil bagian dalam kegiatan budaya ini. "Saya meyakini bahwa kegiatan ini dapat terwujud tentu karena ada pribadi-pribadi yang masih peduli dengan pelestarian nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat," ucapnya.
Dia menjelaskan, dalam tradisi orang Dayak, khususnya Bakati Lumar, kegiatan Ngarantek Sawa sendiri mengandung makna filosofis yang dalam dan telah menyatu dengan jiwa masyarakat sejak berabad-abad lamanya. Hal ini, kata dia, pada hakikatnya merupakan ungkapan syukur dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar memperoleh petunjuk perlindungan serta berkat dalam memulai tahun yang baru.
"Saya berharap giat yang sudah dipersiapkan matang ini, tidak sekedar sampai pada tataran seremonial belakang saja. Namun dapat juga diusulkan menjadi materi pembelajaran yang dapat diatur dalam sebuah sistem pendidikan nasional kita, seperti muatan lokal," ungkapnya. "Jangan sampai anak-anak kita lebih tahu budaya luar tapi tidak kenal dengan budaya leluhurnya sendiri," tegasnya. (Sig) Editor : Misbahul Munir S