Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Nyobeng Jadi Magnet Wisata Budaya Perbatasan, Ratusan Warga Malaysia Hadir di Bengkayang

Uray Ronald • Senin, 15 Juni 2026 | 21:22 WIB
Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis ikut menari saat menghadiri perayaan budaya Nyobeng di Dusun Sebujit, Desa Hlu Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. (ANTARA)
Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis ikut menari saat menghadiri perayaan budaya Nyobeng di Dusun Sebujit, Desa Hlu Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang. (ANTARA)

 

PONTIANAK POST – Tradisi Nyobeng 2026 yang digelar masyarakat Dayak Bidayuh di Dusun Sebujit, Desa Hlu Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, kembali menjadi magnet wisata budaya perbatasan. Ratusan warga dari Malaysia turut menghadiri perayaan adat yang berlangsung di Rumah Adat Baluk Sebujit, Senin (15/6).

Kehadiran sedikitnya 420 tamu dari berbagai daerah, termasuk rombongan dari Kuala Lumpur dan Sarawak, menunjukkan bahwa Tradisi Nyobeng tidak hanya menjadi warisan budaya lokal, tetapi juga perekat hubungan masyarakat Dayak Bidayuh yang hidup di dua negara.

Momentum ini sekaligus memperkuat posisi Bengkayang sebagai salah satu tujuan wisata budaya perbatasan yang semakin dikenal di tingkat regional.

Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis mengatakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut terus berkembang menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menarik kunjungan lintas daerah hingga mancanegara.

"Tradisi Nyobeng ini terus berkembang menjadi daya tarik wisata budaya perbatasan yang mampu menarik kunjungan masyarakat lintas daerah hingga mancanegara," ujarnya saat menghadiri perayaan tersebut.

Baca Juga: Bupati Ketapang Resmi Buka Gawai Nyapat Taunt XV Kecamatan Simpang Hulu

Warisan Leluhur yang Menjadi Identitas Dayak Bidayuh

Bagi masyarakat Dayak Bidayuh, Nyobeng bukan sekadar serangkaian prosesi adat. Tradisi ini merupakan simbol penghormatan kepada leluhur, persaudaraan, gotong royong, dan identitas budaya yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Di lapangan, suasana kebersamaan terlihat kuat saat masyarakat adat menyambut tamu dari berbagai wilayah. Interaksi antara warga Indonesia dan Malaysia berlangsung hangat, mencerminkan ikatan budaya satu rumpun yang telah terjalin selama ratusan tahun.

Menurut Darwis, warisan budaya tersebut memiliki nilai strategis bagi pengembangan sektor pariwisata sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat perbatasan.

"Kegiatan ini harus terus dilestarikan karena merupakan identitas masyarakat Dayak Bidayuh sekaligus kekayaan budaya Kalimantan Barat yang dapat menjadi daya tarik wisata," katanya.

Atraksi Budaya yang Menarik Wisatawan

Selain ritual adat, pengunjung disuguhi berbagai pertunjukan budaya khas Dayak Bidayuh. Prosesi adat, seni pertunjukan tradisional, hingga atraksi panjat tiang menjadi daya tarik yang paling banyak menyedot perhatian pengunjung.

Kehadiran tamu mancanegara menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki daya saing tinggi sebagai produk wisata berbasis pengalaman dan kearifan lokal.

Rumah Adat Baluk Sebujit Disiapkan Jadi Destinasi Unggulan

Pemerintah Kabupaten Bengkayang menargetkan kawasan Rumah Adat Baluk Sebujit menjadi salah satu destinasi wisata budaya unggulan Kalimantan Barat. Penataan kawasan akan dilakukan secara bertahap untuk mendukung pengembangan wisata berbasis budaya dan masyarakat.

Menurut Darwis, Rumah Adat Baluk memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bahkan, replika rumah adat tersebut telah dibangun di Taman Mini Indonesia Indah sebagai representasi budaya Dayak Bidayuh Kalimantan Barat.

Pemerintah daerah juga optimistis rencana pembukaan akses perbatasan dalam beberapa tahun mendatang akan meningkatkan arus wisatawan menuju Kecamatan Siding dan kawasan Sebujit.

"Kita ingin kawasan ini menjadi tujuan wisata budaya unggulan Kalimantan Barat yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat tanpa meninggalkan nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan leluhur," katanya.

Baca Juga: Wagub Kalbar: Gawia Sowa Simbol Pelestarian Budaya Dayak Bidayuh di Bengkayang

Pariwisata Diharapkan Meningkatkan Kesejahteraan Warga

Pemerintah daerah menilai pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat. Pengembangan sektor pertanian, ketahanan pangan, serta desa wisata menjadi bagian dari strategi pembangunan kawasan perbatasan.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat masyarakat adat tidak hanya berperan sebagai penjaga tradisi, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi langsung dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

Di sisi lain, Ketua Panitia Nyobeng 2026, Gunawan, menegaskan bahwa tema kegiatan tahun ini adalah "Nyobeng sebagai Warisan Leluhur, Berakar dalam Tradisi dan Tumbuh dalam Kebersamaan".

Menurutnya, nilai utama yang diwariskan melalui tradisi tersebut meliputi gotong royong, persaudaraan, penghormatan kepada leluhur, serta komitmen menjaga budaya di tengah perkembangan modern.

"Tujuan kegiatan ini untuk mempererat hubungan persaudaraan masyarakat Dayak Bidayuh yang berada di Indonesia maupun Malaysia serta meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa," ujarnya.

Warisan Budaya untuk Generasi Mendatang

Perwakilan Dewan Adat Dayak Kabupaten Bengkayang menilai Nyobeng merupakan warisan budaya penting yang harus terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi muda.

Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, keberlangsungan tradisi seperti Nyobeng menjadi bukti bahwa identitas budaya dapat tetap hidup ketika masyarakat, pemerintah, dan lembaga adat bekerja bersama menjaga akar sejarahnya.

"Kegiatan ini merupakan milik kita bersama yang harus terus dilestarikan agar tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang," ujarnya.*

Editor : Uray Ronald
#Tradisi Nyobeng #wisata budaya Bengkayang #Rumah Adat Baluk Sebujit #Dayak Bidayuh #Perbatasan Indonesia Malaysia