Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Ratusan Warga Malaysia Hadiri Nyobeng, Ritual Leluhur Dayak Bidayuh Tetap Hidup di Perbatasan

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 16 Juni 2026 | 22:52 WIB
Rumah Adat Baluk Sebujit di Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, menjadi pusat pelaksanaan ritual Nyobeng masyarakat Dayak Bidayuh. Bangunan adat berbentuk bundar yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia ini menjadi simbol identitas budaya sekaligus daya tarik wisata perbatasan Indonesia-Malaysia. (Foto: ANTARA/Narwati)
Rumah Adat Baluk Sebujit di Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, menjadi pusat pelaksanaan ritual Nyobeng masyarakat Dayak Bidayuh. Bangunan adat berbentuk bundar yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia ini menjadi simbol identitas budaya sekaligus daya tarik wisata perbatasan Indonesia-Malaysia. (Foto: ANTARA/Narwati)

PONTIANAK POST – Tabuhan adat, prosesi ritual, dan semangat kebersamaan mewarnai pelaksanaan tradisi Nyobeng yang digelar masyarakat Dayak Bidayuh di Dusun Sebujit, Desa Hli Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Senin (16/6). Tidak hanya dihadiri warga lokal, ritual adat ini juga menarik ratusan masyarakat Dayak Bidayuh dari Malaysia.

Sedikitnya 420 tamu hadir dalam perayaan Nyobeng 2026, termasuk rombongan dari Kuala Lumpur dan Sarawak. Kehadiran masyarakat lintas negara menunjukkan tradisi yang diwariskan turun-temurun tersebut masih menjadi perekat hubungan budaya masyarakat Dayak Bidayuh yang hidup di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.

Ritual yang Menjaga Hubungan dengan Leluhur

Bagi masyarakat Dayak Bidayuh, Nyobeng bukan sekadar agenda tahunan. Ritual ini merupakan warisan leluhur yang mengandung nilai penghormatan kepada nenek moyang, rasa syukur, gotong royong, dan persaudaraan antarkomunitas.

Di tengah arus modernisasi, tradisi tersebut tetap dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat perbatasan.

Ketua Panitia Nyobeng 2026, Gunawan, mengatakan tema tahun ini adalah "Nyobeng sebagai Warisan Leluhur, Berakar dalam Tradisi dan Tumbuh dalam Kebersamaan".

"Tujuan kegiatan ini untuk mempererat hubungan persaudaraan masyarakat Dayak Bidayuh yang berada di Indonesia maupun Malaysia serta meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa," ujarnya dilansir dari ANTARA, Selasa (16/06/2026).

Rumah Adat Baluk Jadi Pusat Ritual dan Identitas Budaya

Pelaksanaan Nyobeng dipusatkan di Rumah Adat Baluk Sebujit, bangunan tradisional berbentuk bundar setinggi sekitar 12 meter yang menjadi simbol budaya masyarakat Dayak Bidayuh.

Rumah adat tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 3040/F4/KB.09.06/2022.

Bagi masyarakat setempat, Baluk bukan hanya bangunan adat, melainkan pusat kehidupan budaya yang menyimpan nilai sejarah, spiritualitas, dan kearifan lokal yang masih dijaga hingga saat ini.

Atraksi Budaya Jadi Daya Tarik Wisata Perbatasan

Selain ritual adat, pengunjung disuguhkan berbagai atraksi budaya khas Dayak Bidayuh, mulai dari prosesi tradisional hingga panjat tiang yang menjadi salah satu ikon budaya masyarakat Sebujit.

Kombinasi antara ritual sakral dan pertunjukan budaya menjadikan Nyobeng sebagai salah satu agenda budaya paling dinantikan di kawasan perbatasan Kalimantan Barat.

Tradisi ini juga berkembang menjadi magnet wisata budaya yang mampu menarik kunjungan masyarakat lintas daerah hingga mancanegara.

Menjaga Warisan di Tengah Perubahan Zaman

Dewan Adat Dayak Kabupaten Bengkayang menilai Nyobeng merupakan salah satu warisan budaya penting yang harus terus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Pelestarian ritual tersebut dinilai penting untuk menjaga identitas masyarakat Dayak Bidayuh sekaligus mengenalkan kekayaan budaya Kalimantan Barat kepada generasi muda.

Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, Nyobeng menjadi bukti bahwa tradisi leluhur masih hidup dan tetap relevan sebagai ruang memperkuat persaudaraan, menjaga identitas budaya, dan merawat hubungan masyarakat serumpun yang dipisahkan batas negara. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#wisata budaya Bengkayang #Nyobeng Dayak Bidayuh #Rumah Adat Baluk #budaya Dayak Bidayuh #Perbatasan Indonesia Malaysia