PONTIANAK POST – Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Kalimantan bersama Community Movement Program (CMP) Japan International Cooperation Agency (JICA) memperkuat strategi pencegahan karhutla melalui peningkatan kapasitas Manggala Agni Pendamping Desa (MAPD) yang dipadukan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat di Kalimantan Barat.
Penguatan tersebut dilakukan melalui lokalatih peningkatan kapasitas mentor fasilitator dan fasilitator MAPD. Program ini dirancang untuk membentuk pendamping yang mampu menggerakkan masyarakat mencegah kebakaran hutan dan lahan secara mandiri dan berkelanjutan.
Baca Juga: Hadapi Puncak Kemarau, Polri Gandeng BPBD dan Perusahaan Perkuat Antisipasi Karhutla di Sanggau
Fasilitator Menjadi Penggerak Pencegahan Karhutla di Tingkat Desa
Kepala Seksi Wilayah II Pontianak Balai Dalkarhut Wilayah Kalimantan, Sahat Irawan Manik, mengatakan pelatihan tersebut menggunakan pendekatan Participatory Learning and Action (PLA), sehingga masyarakat dilibatkan secara aktif dalam mengenali persoalan hingga menyusun solusi pencegahan karhutla.
Menurutnya, keberadaan fasilitator menjadi kunci untuk membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat di tingkat desa.
"Fasilitator memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan di tingkat tapak. Kami berharap seluruh peserta mampu melatih rekan-rekan Manggala Agni lainnya menjadi fasilitator yang adaptif, solutif, dan mampu menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama mencegah kebakaran hutan dan lahan," katanya.
Sahat menjelaskan, penguatan kapasitas MAPD telah diterapkan di seluruh daerah operasi (Daops) Manggala Agni di Kalimantan Barat sebagai bagian dari strategi membangun sistem pencegahan karhutla yang berbasis masyarakat.
Baca Juga: Sembilan Jam Lawan Api Karhutla di Sanggau, Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran Lahan Tiga Hektare
Pemberdayaan Masyarakat Jadi Kunci Pengendalian Karhutla
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, menegaskan keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada kesiapsiagaan petugas, tetapi juga keterlibatan aktif masyarakat.
Menurutnya, masyarakat yang didampingi fasilitator memiliki peran penting dalam mencegah munculnya titik api sejak dini.
"Pendekatan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu kunci keberhasilan pengendalian karhutla. Kami berharap seluruh peserta mampu menerapkan ilmu yang diperoleh untuk membangun kemandirian desa dan memperkuat pencegahan karhutla secara berkelanjutan," ujarnya.
MPA Karimunting Ubah Limbah Vegetasi Menjadi Pakan Ternak
Sebagai tindak lanjut program, Balai Dalkarhut Wilayah Kalimantan bersama tim CMP Project JICA melakukan monitoring pemberdayaan Masyarakat Peduli Api (MPA) di Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang.
Program tersebut bertujuan memastikan keberlanjutan pemberdayaan masyarakat sekaligus mendorong inovasi yang mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa merusak lingkungan.
Kelompok MPA Karimunting memperoleh bantuan hibah 12 ekor kambing etawa yang dikembangkan menggunakan teknologi pakan fermentasi dan silase berbahan limbah vegetasi hasil pembersihan lahan.
Pemanfaatan limbah tersebut diharapkan dapat mengurangi praktik pembakaran sisa vegetasi yang selama ini berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.
Baca Juga: Kementerian Kehutanan Jadikan Kalbar Percontohan Nasional Pencegahan Karhutla Berbasis Sains
Dari Limbah Menjadi Sumber Penghasilan Masyarakat
Sahat mengapresiasi inovasi "MPA Karimunting Bersinar" yang mengubah limbah vegetasi menjadi pakan ternak bernilai ekonomi.
Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya mengurangi potensi munculnya asap akibat pembakaran, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa.
"Daripada limbah hasil tebasan dibakar dan menjadi potensi sumber asap, lebih baik dimanfaatkan sebagai pakan ternak kambing Etawa. Dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, kita dapat menciptakan manfaat ekonomi sekaligus menjadi bagian dari upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan," katanya.
Kolaborasi Diharapkan Menjadi Model Pencegahan Karhutla Berkelanjutan
Sahat menambahkan, kolaborasi Balai Dalkarhut Wilayah Kalimantan dengan CMP Project JICA menunjukkan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Model tersebut diharapkan dapat diterapkan di desa-desa lain di Kalimantan Barat sehingga pencegahan karhutla tidak hanya mengandalkan penanganan saat kebakaran terjadi, tetapi dimulai dari peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara