DENY HAMDANI, PONTIANAK.
PEMILIK akun @andretraderkripto cukup dikenal di dunia trading dalam grup telegram. Dia menjadi trading kripto sambilan, sejak tahun 2014 silam. Sebelumnya, dia adalah anak muda, yang suka main internet dan game. Dulunya dia juga banyak memiliki bitcoin secara cuma-cuma. Tetapi tidak bisa ditarik karena wallet pribadinya kehilangan private key, yang dicatatnya dalam selembar kertas saja.
"Menyesal saya seumur hidup, kenapa saya hanya catat lewat secarik kertas buram. Kertas itu sudah hilang. Harusnya dalam buku besar catatannya. Mungkin sekarang kalau bisa ditarik, saya beli perusahaan tempat saya kerja ini," kata karyawan toko komputer dengan nada penuh kesal bercerita lewat sambungan telpon medsos @telegram.
Akun dengan nama @andretraderkripto adalah kepanjangan dari Andri Wahyudi. Dia merupakan anak muda yang tinggal di Palembang, Sumatera Selatan. Karena kehilangan private key nya dari wallet pribadi, sebanyak 353 Bitcoin miliknya tidak bisa diakses. Padahal kalkulasi jumlah 353 bitcoin x Rp936.030,243,00 setara Rp330.418.675,779 miliar dikonversi dengan harga hari ini (kemarin).
"Dengan uang segitu dari jumlah bitcoin yang saya peroleh, harusnya di umur muda begini sudah pensiun kerja sama orang. Sudah buka usaha sendiri. Tetapi apa mau dikata bang. Nasi sudah menjadi bubur," kata pria berkacamata ini.
Senada dengannya, Richo Almeida, profesional security dan trader cryprocurency pemilik grup telegram trader Indonesia dan dunia mengatakan faktor keamanan pengucian wallet pribadi (private key) adalah faktor terpenting ketika berinvetasi kripto. Dulu, tepatnya 11 tahun silam pada tahun 2010 harga bitcoin masih setara di bawah 0,1 sampai 0,5 $ per 1 BTC, belum ada exchanger dunia memperdagangkan atau menyimpannya.
Banyak miner (penambang) terhubung komputer, laptop dan gadget memperoleh uang kripto dengan mudah. Mulai para gamer menyelesaikan permainan game, mengisi survei, mendukung web situs tertentu, menyelesaikan pekerjaan hingga hanya dibayar ribuan BTC. Bitcoin waktu itu terkesan dibagikan gratis karena belum memiliki value (nilai) pada waktu itu.
Sekarang, mendapatkan bitcoin secara free bukan perkara gampang. Caranya menambang melalui hardware (perangkat keras). Namun hitungan hash ratenya masih terlampau panjang dan sulit. Butuh komputasi tinggi dan berbiaya mahal. Antara ongkos operasional hardware, beban listrik, dan biaya lain, sering tak seimbang dengan bitcoin yang diperoleh.
Masih menurut Richo tempo dulu dan sekarang berbeda. Harga aset raja kripto ini, nyaris menyentuh Rp1 miliar. Kalkulasi kurs dolarnya sekitar (64.463,88) $ per 1 BTC.
Dulu juga, lanjut dia, penambang banyak memperoleh bitcoin dalam jumlah puluhan, ratusan hingga ribuan dengan mudah. Sayangnya, mereka sering mengabaikan private key (kunci pribadi) dari dompet walletnya yang diinstalnya. Mereka mengabaikan pengamanan karena beranggapan aset raja kripto ini tidak akan berguna pada masa depan.
"Prediksi tersebut terbalik. Justru sekarang sibuk mencari sana kesini. Saya juga pernah dimintai tolong menyelamatkan 2890 bitcoin. Disuruh bagi dua lagi. Mana bisa kalau private key pribadi miliknya sudah hilang," ujarnya.
Richo menambahkan sebenarnya calon orang-orang super tajir tersebut, banyak memiliki bitcon dengan cara sederhana saja. Bermain game, menyelesaikan survei, membantu pekerjaan web internet orang dan pekerjaan lain berhubungan dengan blokchain. "Hadiahnya dulu bitcoin," ucap dia.
Hadiah bitcoin secara cuma-cuma tersebut, kini menjadi cerita legenda dalam dunia kripto. Nada penyelesaian seumur hidup, gigit cari sampai terbawa-bawa mimpi dirasakan pemilik ratusan hingga ribuan bitcon tersebut. Antara rasa menyesal, kesal dan gundah bersatu padu. Jadilah puluhan ribu bitcoin pemilik orang tajir tersebut, seperti berada di awang-awang dalam dunia blockchain.
Sementara itu ceritag berbeda dibagikan akun medsos di facebook @matarante. Pemilik alamat bitcoin 1DzjE3ANaKLasY2n6e5ToJ4CQCXrvDvwsf punya sekitar 7.000,00298291 bitcoin. Diketahui pemilik akun anonim tersebut memiliki bitcoin sejak tahun 2010 silam. Banyak yang memprediksi dia adalah gamer, rajin mengisi survei di web-web, tetapi mengabaikan private key walletnya.
Andai dikalkulasikan volume 7.000 bitcoin x Rp936.030,243,00 jawabannyah adalah Rp6.552.214.490.370,12414. Atau setara dengan Rp6,5 triliun rupiah. Jelas saja, orang tersebut super tajir dan kaya raya. "Namun tetap saja tidak bisa menjadi tajir," ucap profesional trader kripto asal Jakarta ini.
Jumlah bitcoin lainnya sebanyak 2.274,145333115 juga bernasib sama. Pun demikian alamat bitcoin 18Hp8j2JMvwtPs1eqNaYEEVvuFpjQJRFVY) dengan saldo 4.333,00185813 BTC tidak dapat diakses. Orang-orang super tajir diketahui ada yang asalnya dari Indonesia, juga luar negeri. Alamat key publik tersebut dibagikan sebagai menjadi bahan cerita para pemain kripto dunia. "Masih banyak lagi. Mungkin ada puluhan atau ratusan orang-orang super tajir, akibat kecerobohan mereka sendiri tidak bisa mengakses bitcoin milik sendiri," ucapnya.
Richo melanjutkan bahwa hampir semua uang kripto, termasuk Bitcoin dan Ethereum, menggunakan private key dan public key sebagai alat keamanan dalam sistem blockchain masing-masing. Dia menyebutkan bahwa teknologi blockchain dibuat mengadopsi kriptografi. Kriptografi sendiri adalah enkripsi alamat maupun data dengan operasi matematis komputer canggih. "Kriptografi merupakan bagian inti dalam mekanisme pengamanan transaksi mata uang kripto," jelasnya.
Menurutnya pintu masuk pengguna menuju blockchain menggunakan sistem khusus yang dinamakan public key cryptography. Sistem tersebut berawal dari public key user yaitu serentetan angka dan huruf panjang yang digunakan untuk nomor akun ketika berinteraksi ke blockchain. Informasi ditujukan untuk pengguna dienkripsi menggunakan public key milik mereka saat akan dikirimkan ke blockchain. "Nah, private key ini penting sebelum masuk ke dunia kripto," katanya sedikit memberikan gambaran. (*) Editor : Yulfi Asmadi