Kalbar dipilih menjadi wilayah yang dipilih lantaran memiliki cadangan bahan baku yang terbilang cukup besar. Namun, Sugeng tak menyebut berapa besarannya. Ia menjelaskan Kalbar merupakan salah satu sumber bahan baku bauksit yang bisa diubah menjadi aluminium. Menurutnya, secara unsur kimiawi bauksit mengikat unsur lain di dalamnya.
Guru Besar Kimia Universitas Tanjungpura, Prof Dr Thamrin Usman DEA menyebut informasi ketersediaan bahan baku nuklir bukan hal baru. Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) bersama tim peneliti dari Prancis misalnya, sudah meneliti kandungan uranium di Kalbar sejak tahun 1970-an. "Lokasi terbesar ada di Sui Kalan, Nanga Pinoh. Ini kawasan dengan kandungan batuan uranium yang sudah terukur kuantitas dan kualitas satu satunya di Indonesia," ujar Thamrin.
Sementara soal, kandungan uranium di tanah bauksit yang hendak diteliti Amerika Serikat, ia malah menawarkan material lainnya. "Berkaitan dengan uranium di tanah bauksit itu lebih ke unsur radio aktif yang bukan uranium. Jumlah tidak banyak malah," ucapnya. "Tetapi yang menarik adalah hadirnya unsur tanah jarang (rare earth elements) yang dapat digunakan untuk sumber energi listrik non-uranium," timpal dia.
Nuklir Sangat Politis
Thamrin menyebut, kehadiran pembangkit listrik bertenaga nuklir adalah sebuah keniscayaan. Namun kehadirannya di Indonesia sangat sulit, lantaran berkaitan dengan politik dan ekonomi global. Menurutnya, penting bagi Indonesia untuk menjalin kerja sama dengan negara-negara kuat.
"Negara mana yang perlu dipertimbangkan untuk mitra pengembangan PLTN di kita adalah negara kuat. Misalkan harus negara yang memiliki hak veto di PBB (Perancis,Amerika,Rusia atau China).
Harus ada tukar guling misalkan transfer teknologi pengkayaan uranium dan limbah PLTN untuk ndonesia. Posisikan Indonesia sebagai mitra sejajar," ucapnya.
Ia mendambakan PLTN dapat dibangun di wilayah Kalbar, sehingga daerah ini dapat menjual listrik murah di daratan Kalimantan dan Borneo.
"Dengan listrik murah dari PLTN memungkinkan daerah ini mengembangkan moda transportasi murah semisal kereta api dan tram. Juga membuat daya saing kita tinggi, dan ujungnya kemakmuran bangsa Indonesia, utamanya masyarakat Kalbar," ujarnya.
Ia menyebut apabila ingin harga dasar listrik murah, sudah seharusnya pemerintah melakukan konversi sumber energi untuk kelistrikan di Indonesia. Sumber energi yang paling murah menurut dia adalah energi nuklir. “Semua negara industri besar di dunia ini menggunakan energi nuklir. Mereka bisa menjadi negara besar karena menggunakan energi nuklir. Karena memang murah ini,” sebutnya.
Dia mengakui, penggunaan energi nuklir memang mematik banyak perdebatan, terutama soal keamanannya. Namun, lanjut dia, di era teknologi yang semakin canggih sekarang ini, faktor keamanan bukan lagi menjadi isu yang seharusnya dipertentangkan. Apalagi, kata dia, banyak pulau di Indonesia yang tidak rawan gempa, salah satu ancaman reaktor nuklir. (ars) Editor : Administrator