Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Karhutla Cemari Udara

Syahriani Siregar • Senin, 14 Agustus 2023 | 14:53 WIB
CEMARI UDARA: Sejumlah anggota Satuan Brimob berusaha memadamkan kebakaran lahan di Desa Rasau Jaya 1, Patok 23 Sekunder B, kemarin. Kebakaran hutan dan lahan di Kalbar menyebabkan kualitas udara menjadi tercemar dan tidak sehat. Masyarakat diimbau menggu
CEMARI UDARA: Sejumlah anggota Satuan Brimob berusaha memadamkan kebakaran lahan di Desa Rasau Jaya 1, Patok 23 Sekunder B, kemarin. Kebakaran hutan dan lahan di Kalbar menyebabkan kualitas udara menjadi tercemar dan tidak sehat. Masyarakat diimbau menggu
PONTIANAK - Dampak El Nino tidak hanya mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, tetapi juga menyebabkan kualitas udara tidak sehat, terutama pada malam hari.

Pada aplikasi IQAir, pada tanggal 13 Agustus 2023, pukul 15.47 WIB, indeks kualitas udara berada pada angka 169 AQI dengan tingkat kualitas tidak sehat atau unhealthy.

Sementara berdasarkan pantauan Pontianak Post, sejak sepekan terakhir Kota Pontianak diselimuti kabut asap, terutama pada malam hari. Kabut asap mulai muncul dari petang hingga pagi hari.

Kepekatan kabut asap begitu terasa di sekitar kawasan Sungai Raya Dalam, Kota Baru, Purnama, hingga kawasan Gajah Mada. Sementara itu, sebaran titik panas berdasarkan data BMKG tanggal 12 Agustus 2023, sebanyak 778 titik panas, tersebar di seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Barat.

Sedangkan untuk luasan lahan yang terbakar, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) mencapai 5.788,73 Ha.

Untuk mengantisipasi terus meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, Kodam XII/Tanjungpura bersama pemerintah daerah melakukan sinergitas dalam upaya penyecagahan dan pemadaman kebakaran hutan san lahan.

Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Iwan Setiawan mengaku, saat ini sedang fokus dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Barat. Jenderal bintang dua TNI itu telah menyiagakan tim darat dan tim udara, di antaranya menyiapkan empat helicopter patroli dan helicopter waterbombing.

Ia menyatakan, bahwa dirinya telah mengikuti rapat koordinasi dalam penanganan karhutla Kalbar bersama Gubernur, Kapolda, Kajari serta instansi terkait lainnya.

“Minggu kemarin kami sudah melaksanakan rapat koordinasi terkait karhutla,” katanya usai mempimpin upacara serah terima jabatan Komadan Yonif Kaveleri 12/Beruang Cakti, Sabtu (13/8).

Menurut Iwan, jajaran TNI maupun Polri yang ada di Kalbar telah bersinergi untuk menangani karhutla tersebut, baik itu di tingkat satuan wilayah maupun yang ada di daerah.

“Saya sudah perintahkan Kodim jajaran untuk bersama-sama dengan Polres, melakukan patroli serta menyiapkan peralatan untuk mengatasi karhutla,” kata Iwan.

Iwan mengungkapkan bahwa pihanya telah menyiapkan helikopter untuk melakukan patroli serta helikopter waterboom untuk ikut memadamkan api dari udara.

“Kami sudah menyiapkan dua helikopter patroli dan dua helikopter waterboom, kami akan optimalkan,” ucapnya.

Selain itu Iwan menyatakan bahwa telah ada posko terpadu dalam penanganan ini, sehingga semua pihak dapat saling berkoordinasi untuk mengatasi karhutla.  “Kami juga mengajak seluruh unsur masyarakat serta para tokoh dalam mensosialisasikan terkait dengan pencegahan karhutla,” lanjutnya.

Pada kesempatan itu, pihaknya mengajak para pengusaha di Kalbar untuk turut membantu membangun embung di musim kemarau ini, terutama di daerah yang rawan terjadinya karhutla.

“Saat ini musim kemarau panjang, embung sangat dibutuhkan, karena banyak daerah yang belum ada titik air sebagai penyuplai pemadaman jika terjadi kebakaran,” katanya.

Ditambahkan Mayjen TNI Iwan, jika pun ada kemungkinan jauh dari titik rawan kebakaran, sehingga embung saat dibutuhkan dalam penanganan karhutla.

“Mari kita berdoa bersama semoga musim kemarau panjang ini tidak terjadi Karhutla yang signifikan seperti apa yang diprediksikan musim kemarau Agustus hingga September 2023,” pungkasnya. (arf) Editor : Syahriani Siregar
#cemari udara #karhutla #kualitas udara