“Data hotspot ini setelah kami overlay di peta konsesi perkebunan memang terindikasi positif (ada hotspot),” ungkapnya, Senin (14/8).
Per 14 Agustus 2023, pihaknya mendata ada 121 hotspot yang terbagi dalam tiga tingkat kepercayaan, yakni level rendah sebanyak 57 titik, sedang 56 titik, dan tinggi delapan titik. Hero mengatakan pihaknya akan lebih fokus pada hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang dan tinggi.
Data ini pun menurutnya membutuhkan validasi dengan pengecekan secara langsung di lapangan. “Karena batas lahan masyarakat juga berdekatan,” tuturnya.
Walau begitu, dirinya mengingatkan pemilik konsesi di daerah setempat untuk siaga terhadap kebakaran hutan dan lahan di perkebunan. Apalagi, kata dia, saat ini tengah terjadi musim kekeringan atau periode El Nino.
Pihaknya juga meminta kepada pemerintah kabupaten/kota untuk melakukan pemantauan terutama pada area-area yang terindikasi adanya titik panas. “Segera pastikan titik panas tersebut di lapangan apakah berupa kebakaran perkebunan atau bukan,” ujarnya.
Bila ternyata terbukti ada area konsesi yang terbakar, maka dirinya memastikan adanya tindakan tegas dari pemerintah. Pemerintah daerah pun diminta untuk memberikan teguran atau sanksi kepada kepada perusahaan yang terbukti lahan konsesinya terbakar. Peran pemerintah daerah dalam hal ini sangat penting karena mereka adalah pemberi izin konsesi bagi perusahaan.
“Untuk penegakan hukum diserahkan kepada pihak terkait. Pemerintah akan menindak tegas perkebunan yang terkonfirmasi positif mengalami kebakaran lahan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," kata dia.
Di samping itu, dirinya berharap lahan masyarakat di sekitar perkebunan untuk bersama dijaga. Apabila terjadi kebakaran bisa ditangani bersama dan diminimalisir dampaknya.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Sutarmidji menanggapi situasi bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi saat ini. Khusus untuk penindakan dan sanksi, ia meminta pemerintah daerah kabupaten/kota lebih tegas, terutama untuk karhutla yang terjadi di lahan milik korporasi.
Khusus di wilayah Kota Pontianak ia mengatakan, sebenarnya sudah hampir tidak ada lahan yang terbakar. Kabut asap yang terjadi di ibu kota Kalbar ini menurutnya disumbangkan dari daerah-daerah sekitar, salah satunya Kabupaten Kubu Raya.
“Yang banyak (terbakar) itu di Kuba Raya, nah kita ini (Pontianak) dikepung asap dari sana. Insyaallah TNI-Polri, kita BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) bahu-membahu memadamkan api," ungkapnya kepada awak media, Senin (14/8).
Salah satu masalah yang cukup menyulitkan dalam pemadaman api dikatakan dia, karena terbatasnya sumber air. Midji-sapaan karibnya mengatakan, saat kunjungan kerja di Kabupaten Sintang, Sekadau, dan Sanggau akhir pekan kemarin, dirinya melihat langsung bahwa sungai-sungai yang berada di daerah hulu itu hampir kering.
“Tapi alhamdulillah di sana itu kebakaran lahan hampir tidak ada, sedikit sekali. Yang paling banyak sekarang ini kan di daerah Kubu Raya,” paparnya.
Hal tersebut lanjut dia, bisa dibuktikan dari data titik panas (hotspot) yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Yang mana jika indikatornya menunjukkan warna merah artinya sudah terjadi karhutla dengan skala besar.
“Tapi kalau kuning biasanya buka ladang, perkiraan saya dalam dua tiga hari ke depan baru hujan. Water bombing juga sudah dilakukan helikopter-helikopter yang ada di sini (Kalbar) sudah beroperasi. Kalau mau modifikasi cuaca dan sebagainya ini masih melihat perkembangan awan dan sebagainya,” paparnya.
Sementara untuk penindakan, orang nomor satu di Kalbar itu melihat perlu ketegasan dari pemerintah kabupaten/kota masing-masing. Sebab pemerintah daerah (pemda) yang memiliki kewenangan untuk membuat aturan turunan terkait penindakan, dengan dasar aturan-aturan di atasnya, termasuk aturan yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov).
“Tergantung pemerintah daerahnya berani tidak mengambil sikap. Kayak Kota Pontianak, Pak Edi saya suruh sudah kembalikan (ke aturan lama) kalau lahan dibakar tak boleh digunakan lima tahun, kan hampir tidak ada kebakaran di Kota Pontianak. Cuma sekarang ini, ini bukan kepong bakol, tapi kepong asap,” pungkasnya.
Di tempat yang sama, Sekretaris Daerah (Sekda) Kalbar Harisson mengungkapkan, akhir-akhir ini, khususnya di Kota Pontianak dan beberapa daerah di Kalbar, terjadi kabut asap akibat karhutla. Untuk itu, ia mengimbau kepada masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar rumah.
“Terutama pada anak-anak, dan sedapat mungkin mereka yang keluar rumah menggunakan masker,” pesannya.
Meski saat ini belum terjadi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Ispa), tapi menurutnya hal tersebut perlu diwaspadai. Sementara untuk penghentian sementara aktivitas belajar di sekolah, Harisson mengatakan masih akan melihat perkembangan ke depan.
“Kita lebih baik mencegah dari pada nanti terjadi (peningkatan kasus) infeksi saluran pernapasan karena asap. Tapi kita belum akan mengeluarkan edaran untuk memberhentikan sementara aktivitas sekolah, dan kita tunggu dalam beberapa hari ini, ke depan akan ada hujan berdasarkan prakiraan BMKG,” tutupnya. (sti/bar) Editor : Syahriani Siregar