Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Meraih Esensi dan Substansi Puasa di Bulan Ramadan

Syahriani Siregar • Sabtu, 16 Maret 2024 | 15:43 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi.
Ramadan menjadi ibadah tahunan yang rutin dilaksanakan umat Islam yang telah mukallaf. Mukallaf adalah orang yang telah dikenai kewajiban syariat.

Dosen IAIN Pontianak, Dahlia Haliah Ma’u menyatakan puasa tidak hanya sekedar sebagai ajang pelatihan, tapi juga mewujudkan perilaku baik yang permanen bagi umat Islam dalam setiap aktivitas keseharian selama hidupnya.

Ada upaya meraih esensi dan substansi puasa yakni menjadi insan (hamba) yang bertakwa.

Pertama, diawali niat. Upaya ini dimulai dari niat yang melaksanakannya. Jika niat diawali dengan lillahita’ala (karena Allah SWT) maka pasti ada efek positif bagi setiap individu yang melaksanakan ibadah istimewa ini.

Kedua, penguatan niat. Penguatan niat tersebut dikuatkan dengan kesadaran bahwa apapun amal saleh (amal baik) yang dilaksanakan pada bulan mulia ini akan menuai berlipat balasan kebajikan baginya.

Amal saleh yang dilakukan di bulan berkah ini harus dilaksanakan berkesinambungan sampai akhir hidup manusia.

Selain hikmah berlipatnya nilai kebaikan yang diraih bagi hamba-Nya yang berpuasa.

Puasa juga sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada sang pencipta, didikan kejujuran, didikan kepekaan terhadap kesusahan dan kesulitan orang lain yang sulit mendapatkan makanan dan minuman dalam hidupnya, merasakan penderitaan fakir dan miskin, dan tentunya dengan berpuasa berarti terjaga kesehatannya.

Jika umat Islam, memaknai hikmah dari ibadah puasa, maka dampaknya akan selalu termanifestasikan dalam kehidupan.

Dan inilah makna nilai-nilai kebaikan bagi umat Islam dan untuk sesama manusia dan lingkungannya.

Bagi umat Islam, amaliyah puasa ini tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban, tapi juga sebagai momentum untuk menjadi pribadi yang taat melaksanakan kewajiban agama dan mencegah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar.

“Ibadah puasa kita akan menjadi sia-sia jika kewajiban lainnya tidak dilaksanakan, seperti salat, zakat, berbuat baik pada orangtua, berbuat baik pada kerabat dan sesama, menutup aurat, dan ibadah sosial lainnya. Disamping ibadah yang sifatnya wajib, kita juga diamanahi untuk mengerjakan amal sholeh lainnya di bulan mulia ini seperti tadarus Alquran, Tarawih, menuntut ilmu, banyak bersedekah, berwakaf, menolong sesama yang lagi kesulitan, silaturahmi, dan hal-hal baik lainnya,” ungkap Dahlia.

Dahlia menambahkan penting bagi umat Islam melaksanakan kewajiban agama secara utuh (kaffah) sehingga kebahagiaan dunia akhirat tercapai bersama.

Selanjutnya perlu juga dideskripsikan bahwa agar ibadah puasa kita tidak sia-sia, maka marilah kita selalu ingat petuah ulama yang diambil dari intisari syariat tentang hal-hal yang menghilangkan pahala puasa seseorang.

Yakni, berdusta dan menebar kedustaan, ghibah dan membicarakan aib orang lain, menebar fitnah, memandang dengan syahwat (nafsu), dan sumpah palsu.

Hal-hal buruk ini, harus dihindari, tidak hanya melalui lisan tapi juga tulisan melalui berbagai media cetak dan online atau media sosial yang ada.

Sangat disayangkan dan menyedihkan, jika terdapat orang yang berpuasa tapi yang diperoleh dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga. (uni)

Editor : Syahriani Siregar
#Esensi #puasa #mukallaf #ramadan