PONTIANAK POST – Grand Syekh Al-Azhar Mesir, Syekh Ahmad Thayyib, dalam bukunya Al-Athfal Yas’alunal Imam, menjawab berbagai pertanyaan anak-anak yang kerap lahir dari dunia imajinasi mereka.
Tak jarang, di sela waktu bermain atau menjelang tidur, anak-anak tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang membuat orang dewasa terdiam sejenak.
Seperti, jika Allah itu ada, sebenarnya Dia tinggal di mana?
Pertanyaan ini bukanlah bentuk keraguan, melainkan usaha polos pikiran anak untuk memahami dan membayangkan keberadaan Sang Pencipta.
Baca Juga: Kenapa Wujud Nabi Muhammad Tidak Boleh Digambar? Ini Penjelasan Habib Husein Ja’far
Memahami Wujud Allah
Dikutip dari Islami.co, Syekh Ahmad Thayyib menjelaskan melalui bukunya bahwa Allah SWT benar-benar ada, namun keberadaan-Nya tidak terikat oleh waktu maupun tempat.
Justru sebagai Pencipta waktu dan ruang, Allah tidak bergantung pada keduanya. Imam Besar Al-Azhar itu mengajak kita memahami bahwa wujud Allah tidak dapat disamakan dengan benda atau materi yang membutuhkan ruang sebagai tempat berdiam.
“Allah SWT ada tanpa dibatasi oleh waktu dan tidak diliputi oleh tempat. Hal itu karena Dialah Pencipta waktu dan tempat, sehingga Dia tidak membutuhkan keduanya.”
Agar anak-anak tidak terjebak pada gambaran fisik yang keliru atau membayangkan Allah layaknya sosok dalam cerita fiksi, Syekh Ahmad Thayyib memberikan rambu yang sangat mendidik.
Baca Juga: Apa yang Terjadi dengan Doa-Doa Kita? Refleksi Gus Nadir tentang Doa yang Tidak Kunjung Dijawab
Merenungi Keagungan Ciptaan-Nya
Mantan Rektor Universitas Al-Azhar itu juga mengarahkan rasa ingin tahu ke arah yang lebih tepat dan bermakna, yakni dengan mengajak anak-anak merenungi keajaiban ciptaan-Nya, tanpa memaksakan akal manusia yang terbatas untuk membayangkan rupa atau zat Allah yang berada di luar jangkauan.
“Karena yang membutuhkan tempat untuk keberadaannya adalah jasad (materi). Sedangkan Allah Ta’ala bukanlah jasad. Maha Suci Dia, tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata. Apa pun yang terlintas dalam pikiranmu (tentang wujud Allah), maka Allah berbeda dari hal tersebut.”
Senada dengan hikmah yang dinukil dari Ibnu Abbas, keagungan Tuhan justru tampak ketika manusia berhenti membayangkan bentuk-Nya dan mulai merenungi karya-Nya.
Dengan cara itulah kehadiran Allah dapat dirasakan, melalui keindahan alam semesta, hembusan angin yang lembut, hingga keteraturan bintang-bintang, tanpa harus membatasi-Nya pada satu tempat atau titik tertentu. (*)
Editor : Miftahul Khair