PONTIANAK POST - Momentum setelah Idulfitri menjadi waktu yang tepat untuk kembali produktif. Rais Syuriah PBNU, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, menegaskan bahwa dalam ajaran Baginda Rasulullah, bekerja justru menjadi ibadah terbaik yang perlu diutamakan, bahkan sejak hari-hari awal pasca lebaran.
Gus Baha menjelaskan bahwa Baginda Rasulullah dalam sabdanya menegaskan pentingnya bekerja sebagai bentuk ibadah utama.
“Ibadah terbaik adalah bekerja, kata Nabi. Orang tetap bekerja sesuai kemampuan masing-masing, dan itu ibadah yang paling utama,” ungkap Gus Baha dalam kanal YouTube NU Online.
Ia menambahkan, meskipun aktivitas lain seperti menerima tamu termasuk perbuatan baik, namun bukanlah yang utama.
“Tidak ada yang berkata ibadah terbaik adalah menemui tamu. Itu baik, tapi ibadah terbaik adalah kerja,” tegasnya.
Untuk menggambarkan hal tersebut, Gus Baha membagikan pengalaman pribadinya saat pergi ke pasar pada 2 Syawal, sehari setelah Hari Raya Idul Fitri. Di sana, ia menyaksikan seorang pedagang ayam yang sudah kembali berjualan.
“Di tanggal 2 Syawal itu sudah ada penjual ayam. Saya sampai terharu, ya Allah, tanggal 2 Syawal sudah cari uang,” tuturnya.
Tersentuh oleh semangat kerja tersebut, Gus Baha spontan membeli dagangan pedagang itu. Bahkan, sang penjual yang mengenalnya sempat heran dengan jumlah pembelian.
“Beli berapa ayam, Gus?” tanya penjual.
“Beli dua ratus ribu,” jawab Gus Baha.
Jumlah tersebut membuat pedagang itu semakin heran. Gus Baha pun menjawab dengan santai, “Dipakai untuk pelajaran,” kelakarnya.
Menurut pengasuh Ponpes Tahfidzul Qur’an LP3IA itu, perayaan hari raya sebaiknya tidak berlangsung terlalu lama karena dapat menghambat perputaran ekonomi masyarakat, khususnya di pasar.
Karena itu, tradisi Lebaran di kediamannya hanya dirayakan pada hari pertama dan malam kedua Syawal.
Gus Baha juga mengungkapkan bahwa pemahaman tentang pentingnya bekerja sebagai ibadah ia teladani dari gurunya, mendiang KH Maimoen Zubair atau yang lebih akrab disapa Mbah Moen.
Meski memiliki pengaruh besar, Mbah Moen tetap menjalani hidup dari hasil usahanya sendiri.
“Ketika makan di rumahnya, yang dimakan adalah hasil dari jualannya,” kata Gus Baha.
Ia juga menceritakan, Mbah Moen kerap menyantap pecel yang dijual kepada para santrinya. Hal ini menunjukkan kesederhanaan dan kemandirian yang patut dicontoh.
Teladan serupa juga ia lihat dari ayahnya, KH Nursalim. Meski dikenal sebagai tokoh besar, kehidupan sehari-harinya tetap sederhana.
“Bapak saya juga begitu. Betapa besarnya bapak, sekalinya di rumah tetap seperti orang biasa,” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair