Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Gus Baha Ungkap Alasan Orang Saleh Harus Kaya, Ini Penjelasan dan Kisah Imam Syafi’i yang Mengejutkan

Khoiril Arif Ya'qob • Sabtu, 28 Maret 2026 | 16:00 WIB

KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha.

PONTIANAK POST - Di tengah anggapan bahwa kesalehan identik dengan hidup sederhana, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha justru menawarkan perspektif berbeda. Menurutnya, orang saleh tidak cukup hanya menjaga moralitas, tetapi juga perlu menguasai harta agar tidak jatuh ke tangan yang salah.

Gus Baha menegaskan bahwa harta kerap dipandang sebagai sumber masalah dalam perspektif fikih. Namun, ia mengingatkan bahwa persoalan utamanya bukan pada harta itu sendiri, melainkan siapa yang memilikinya.

“Kalau dimiliki orang dzalim, itu jadi masalah besar. Maka orang saleh juga harus menguasai harta,” ujarnya, dikutip dari NU Online.

Baca Juga: Pesan Gus Baha Usai Idulfitri: Bekerja Adalah Ibadah Tertinggi, Ini Kisah Mengharukan Pada Tanggal 2 Syawal

Teladan Ulama: Kaya tapi Tetap Berilmu

Gus Baha kemudian mengangkat kisah para ulama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Malik, hingga Muhammad bin Hasan Asy-Syaiban.

Meski dikenal zuhud, para ulama ini tidak alergi terhadap kekayaan. Bahkan Imam Malik hidup berkecukupan dengan gaya hidup yang layak, sementara Muhammad bin Hasan Asy-Syaiban juga dikenal sebagai ulama yang kaya.

Perjalanan Imam Syafi’i ke Irak menjadi titik penting. Ia sempat terkejut melihat kekayaan Muhammad bin Hasan Asy-Syaiban yang begitu melimpah.

Namun, penjelasan tuan rumah membuka sudut pandang baru. Harta tersebut justru dijaga agar tidak digunakan oleh orang-orang fasik untuk kemaksiatan.

Dari sinilah, Imam Syafi’i menyadari bahwa harta memang lebih aman berada di tangan orang saleh.

Baca Juga: Hukum Zakat Fitrah Pakai Uang Menurut Gus Baha dan Pandangan Ulama

“Kiai Harus Kaya”, Apa Maksudnya?

Gus Baha kemudian menyimpulkan bahwa kiai dan orang alim tidak hanya boleh kaya, tetapi dalam kondisi tertentu justru perlu memiliki kekuatan ekonomi.

Istilah “kiai kudu sugih” (kiai harus kaya) muncul sebagai refleksi dari gagasan ini, meski ia mengakui tidak semua mampu mencapainya.

Lebih jauh, Gus Baha mengaitkan konsep ini dengan kekuasaan. Menurutnya, seperti halnya harta, kekuasaan juga harus berada di tangan orang saleh.

Jika tidak, dampaknya bisa jauh lebih berbahaya bagi masyarakat luas. Inilah yang kemudian menjelaskan mengapa banyak kiai terjun ke dunia kepemimpinan, termasuk menjadi kepala daerah.

Ini menegaskan satu hal penting. Dalam pandangan Islam, harta bukan untuk dijauhi, melainkan untuk dikelola oleh orang yang tepat agar menjadi sumber kebaikan, bukan kerusakan. (*)

Editor : Miftahul Khair
#orang saleh harus kaya #KH Ahmad Bahauddin #ulama #imam syafii #Gus Baha