PONTIANAK POST - Di tengah maraknya media sosial seperti Instagram dan TikTok, membagikan aktivitas sehari-hari sudah menjadi hal lumrah termasuk ibadah.
Namun di balik tren tersebut, muncul peringatan penting dalam Islam: jangan sampai niat beribadah tercampur dengan keinginan mendapat pujian.
Di era digital, batas antara ruang privat dan publik semakin blur alias kabur. Ibadah yang sejatinya bersifat personal kini kerap dibagikan dalam bentuk foto, video, hingga cerita di media sosial.
Sebagian dilakukan untuk menginspirasi, namun tidak sedikit yang berpotensi menjadi ajang flexing atau pamer kebaikan.
Baca Juga: Tips Kelola Emosi ala Gus Baha: Saat Sumpek, Lebih Baik Menyepi daripada Menyakiti Orang Lain
Fenomena ini dalam Islam dikenal dengan istilah sum’ah, yakni memperdengarkan atau mempublikasikan amal agar mendapat pengakuan dari orang lain.
Dalam kitab Umdatul Qari dijelaskan bahwa sum’ah adalah tindakan menyebut-nyebut amal agar dilihat dan didengar manusia.
Mengutip dari NU Online, Abu Thalib al-Makki dalam karyanya Qutul Qulub menegaskan bahwa perilaku ini lahir dari dorongan hawa nafsu dan lemahnya jiwa, sehingga berpotensi merusak keikhlasan seseorang dalam beramal.
Peringatan keras juga datang dari Sang Baginda Muhammad SAW. Dalam hadis sahih riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan bahwa siapa yang memperlihatkan amalnya demi pujian, maka Allah akan membuka aib dari amal tersebut.
Riya’ dan Sum’ah, Apa Bedanya?
Meski sering dianggap sama, riya’ dan sum’ah memiliki perbedaan mendasar. Riya’ berkaitan dengan keinginan untuk dilihat, sementara sum’ah lebih pada keinginan untuk didengar.
Ulama besar Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa keduanya sama-sama berakar dari dorongan ingin dipuji, hanya berbeda pada media penyampaiannya penglihatan dan pendengaran.
Dalam konteks kekinian, keduanya kerap muncul dalam bentuk soft flexing di media sosial, seperti memamerkan sedekah, umrah, atau aktivitas sosial dengan harapan mendapat respons positif dari publik.
Baca Juga: Jadwal Puasa Sunnah April 2026 Lengkap: Syawal, Ayyamul Bidh, Senin-Kamis hingga Dzulqa’dah
Antara Syiar dan Pamer Ibadah
Meski demikian, tidak semua bentuk berbagi kebaikan termasuk sum’ah. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Ad-Dhuha ayat 11 agar manusia menceritakan nikmat yang diberikan sebagai bentuk syukur.
Dalam penjelasan ulama, menampakkan amal bisa menjadi anjuran jika bertujuan memberi teladan. Namun, jika niatnya bergeser menjadi mencari validasi, maka di situlah letak bahayanya.
Ujian Keikhlasan di Era Digital
Budaya media sosial yang menuntut eksistensi sering kali mendorong seseorang menampilkan versi terbaik dirinya. Di sinilah keikhlasan diuji.
Flexing ibadah tidak selalu salah. Ia bisa bernilai dakwah jika bertujuan menginspirasi. Namun bisa pula menjadi dosa jika hanya demi pujian.
Baca Juga: Keistimewaan Bulan April Menurut KH Maimoen Zubair, Disebut Penentu Rezeki Setahun
Pada akhirnya, kunci utama terletak pada niat. Pertanyaan sederhana namun mendalam menjadi refleksi: apakah kita ingin Allah yang melihat, atau manusia yang memuji?
Di tengah derasnya arus digital, menjaga keikhlasan menjadi ibadah yang tak kalah berat, namun justru paling berharga.
Wallahu a’lam. (*)
Editor : Miftahul Khair