PONTIANAK POST - Pakar tafsir Al-Qur’an Prof. Quraish Shihab menegaskan pentingnya regulasi emosi dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengingatkan, kemarahan yang tidak terkendali berpotensi berubah menjadi tindakan destruktif, baik secara verbal maupun fisik.
Dalam pengajiannya di kanal YouTube Pusat Studi Al-Qur’an bertajuk Marah dan Batasannya, Quraish Shihab menjelaskan bahwa Islam tidak sepenuhnya melarang rasa marah.
Dalam situasi tertentu, seperti saat menyaksikan kezaliman atau pelanggaran nilai agama, marah justru dapat dibenarkan.
Baca Juga: Marah Bisa Jadi Tanda Kesedihan yang Dipendam, Kenali Faktanya Menurut Psikologi di Sini
Batasan Marah dalam Islam: Kendalikan Emosi, Jaga Lisan dan Tindakan
Namun demikian, ia menekankan bahwa kemarahan harus dikendalikan secara ketat agar tidak melampaui batas.
“Marah boleh. Tetapi kalau bisa, jangan sampai kemarahan itu terlihat di wajah. Kalau tidak bisa, jangan sampai disertai dengan ucapan. Kalau harus berucap, jangan sampai ucapan itu kasar dan membekas terlalu dalam,” ujarnya.
Ia menjelaskan adanya tahapan atau hierarki dalam pengendalian diri yang sering diabaikan. Menurutnya, banyak orang langsung meluapkan emosi dalam bentuk kata-kata kasar bahkan kekerasan fisik tanpa melalui proses pengendalian.
“Jangan sampai tangan bergerak. Kalau harus bergerak, jangan sampai mencederai,” tegasnya.
Baca Juga: Tips Kelola Emosi ala Gus Baha: Saat Sumpek, Lebih Baik Menyepi daripada Menyakiti Orang Lain
Pola Asuh Tanpa Emosi
Selain itu, Quraish Shihab juga menyoroti praktik pola asuh yang kerap dibungkus dengan alasan mendidik, padahal sebenarnya merupakan pelampiasan emosi.
“Kalau menghukum karena marah, itu ingin membuat jera dengan menyiksa. Tapi kalau mendidik, tujuannya agar anak mendapat pelajaran dan manfaat kebaikan,” jelasnya.
Ia mengajak masyarakat untuk meneladani sifat halim, yakni kemampuan menahan amarah demi memberi ruang bagi orang lain untuk introspeksi dan memperbaiki diri.
Tips Redam Amarah: Dari Ta’awudz hingga Wudhu
Sebagai langkah praktis, ia menyarankan beberapa cara sederhana untuk meredam emosi, seperti membaca ta’awudz, berwudhu, serta mengubah posisi saat marah.
Cara-cara tersebut merupakan teladan yang diajarkan para nabi dalam mengendalikan diri.
Baca Juga: Psikolog Ungkap Silent Treatment Bisa Jadi Bentuk Manipulasi Emosional yang Tak Disadari
Di akhir penyampaiannya, Prof. Quraish Shihab menegaskan bahwa mengendalikan amarah bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban moral yang harus dilatih secara konsisten.
“Kalau ingin marah, ingat kalimat: jangan marah, maka bagimu surga. Nanti akan reda perlahan,” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair