Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

3 Kriteria Ulama Sejati Menurut Gus Dhofir: Rabbani, Ahludz Dzikr, dan Berbasis Ilmu

Khoiril Arif Ya'qob • Sabtu, 11 April 2026 | 15:01 WIB
Ilustrasi belajar ilmu agama kepada ulama yang tepat. (AI FREEPIK)
Ilustrasi belajar ilmu agama kepada ulama yang tepat. (AI FREEPIK)

PONTIANAK POST - Di tengah derasnya arus informasi keagamaan, memahami kriteria ulama menjadi hal mendesak.

Ach Dhofir Zuhry memaparkan melalui kanal YouTube NU Online, bahwa ulama sejati dalam Islam memiliki ciri yang jelas, tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki kepribadian, tanggung jawab, dan peran sosial yang kuat.

Definisi Ulama

Gus Dhofir menjelaskan bahwa kata ulama berasal dari akar kata ilmu yang bermakna terang dan jelas.

Baca Juga: Waspada Ulama Palsu! Gus Dhofir Ungkap Ciri-cirinya, Dampaknya Bisa Rusak Umat

“Setiap kata yang terbentuk dari ‘ain lam mim itu menunjukkan sesuatu yang terang, benderang,” terang dia.

Artinya, ulama adalah sosok yang ilmunya tidak membingungkan, melainkan memberi kejelasan bagi umat.

Ia juga menegaskan bahwa ilmu tidak cukup hanya diketahui di permukaan. “Kalau tahu kulit luarnya saja, itu tidak disebut ilmu,” tambahnya.

Menurutnya, ilmu harus memiliki tiga unsur, yakni konseptual, metodologis, dan aplikatif.

Baca Juga: Pahala Besar Dibalik Puasa Syawal dan Cara Menunaikannya Menurut Ulama

Tiga Kategori Ulama dalam Al-Qur’an

Mengacu pada kajian Al-Qur’an, Gus Dhofir menyebut ada tiga tipe utama ulama:

1. Ulama Rabbaniyyun (Pendidik dan Pembimbing)

Ulama jenis ini adalah sosok yang mendidik umat secara konsisten. “Kriteria ulama… belajar (ngaji) lalu mengajar,” kata dia.

Mereka tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membina dan membentuk karakter umat.

2. Ahludz Dzikr (Tempat Bertanya dan Rujukan)

Ulama juga berfungsi sebagai rujukan ketika umat menghadapi persoalan. “Fas’alu ahludz dzikri… kalau tidak tahu, bertanyalah,” ujarnya.

Gus Dhofir menjelaskan bahwa ulama harus mampu memberi jawaban yang mencerahkan, bukan membingungkan.

3. Ulama yang Takut kepada Allah

Ciri paling mendasar adalah rasa takut kepada Allah yang lahir dari ilmu. “Yang paling takut kepada Allah adalah ulama,” tegas Gus Dhofir.

Menurutnya, ilmu sejati akan melahirkan ketakwaan, bukan kesombongan.

Baca Juga: Bolehkah Bayar Zakat Fitrah di Awal Ramadan? Ini Penjelasan Ulama Fikih

Ilmu Tanpa Akhlak Tidak Cukup

Gus Dhofir mengingatkan bahwa tidak semua orang berilmu layak disebut ulama. “Ada yang bertambah ilmunya, tapi justru semakin jauh dari Tuhan,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa ilmu harus selaras dengan perilaku. Jika tidak, maka ilmu tersebut justru bisa menyesatkan.

Selain aspek keilmuan dan spiritual, ulama juga memiliki tanggung jawab luas, yakni tanggung jawab keilmuan, tanggung jawab kebangsaan, dan juga tanggung jawab kemanusiaan.

Menurut Gus Dhofir, ulama tidak boleh hanya fokus pada dirinya sendiri, tetapi harus hadir sebagai solusi bagi masyarakat.

Melalui penjelasan ini, Gus Dhofir menegaskan bahwa ulama sejati adalah sosok yang utuh: berilmu, berakhlak, dan berperan aktif dalam kehidupan umat.

Di era modern, memahami kriteria ini menjadi penting agar masyarakat tidak salah dalam memilih panutan. (*)

Editor : Miftahul Khair
#kriteria ulama sejati menurut Gus Dhofir #definisi ulama #Gus Dhofir Zuhry