PONTIANAK POST - Rasa kantuk sering datang tanpa waktu, bahkan saat seseorang hendak melaksanakan salat.
Dalam kondisi seperti ini, Islam ternyata memberikan panduan yang bijak: bukan memaksakan diri, tetapi memastikan ibadah tetap dilakukan dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan.
Rasa kantuk merupakan hal yang wajar dialami setiap orang, baik di siang maupun malam hari. Namun, persoalan menjadi dilema ketika kantuk datang tepat saat seseorang hendak melaksanakan salat.
Baca Juga: Gus Kautsar Kritik Fenomena ‘Keramat’: Jangan Cari Sensasi, Jadilah Kiai yang Bermanfaat
Hindari Salat dalam Keadaan Mengantuk
Melansir Islami.co, dalam ajaran Islam, kondisi ini sudah mendapat perhatian khusus. Melalui hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah, Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa seseorang yang mengantuk sebaiknya tidak memaksakan diri untuk langsung salat.
Beliau bersabda, jika seseorang mengantuk saat hendak salat, maka dianjurkan untuk tidur terlebih dahulu hingga rasa kantuknya hilang.
Sebab, dalam kondisi tersebut seseorang bisa saja tidak sadar dengan apa yang diucapkannya, bahkan berpotensi “mendoakan keburukan” bagi dirinya sendiri.
Baca Juga: Simak Doa Rasulullah untuk Orang yang Hendak Pergi Haji Beserta Dalilnya
Hadis serupa juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang menyebutkan bahwa jika bacaan salat menjadi tidak jelas karena mengantuk, maka lebih baik berhenti dan beristirahat terlebih dahulu.
Jaga Kualitas Salat
Penjelasan ini kemudian diperluas oleh ulama besar seperti Imam Nawawi. Dalam kitab Syarh Muslim, ia menegaskan bahwa anjuran tersebut berlaku umum, baik untuk salat wajib maupun sunah, siang maupun malam.
Tujuannya adalah menjaga kualitas salat agar tetap khusyuk. Sebab, inti dari ibadah salat adalah ketenangan, fokus, dan kehadiran hati, sesuatu yang sulit dicapai saat tubuh dalam kondisi mengantuk.
Lapar dan Kantuk Bisa Ganggu Ibadah
Prinsip ini juga berlaku dalam kondisi lain, seperti saat lapar. Dalam hadis riwayat Shahih Bukhari, Nabi menganjurkan untuk makan terlebih dahulu jika makanan sudah tersedia, agar tidak mengganggu konsentrasi saat salat.
Sikap ini bahkan dicontohkan oleh sahabat Nabi seperti Abdullah ibn Umar, yang tetap menyelesaikan makan meski iqamah telah dikumandangkan, baru kemudian melaksanakan salat.
Perdebatan Ulama soal Khusyuk dan Jamaah
Dalam konteks kekhusyukan, Al-Ghazali bahkan pernah menyampaikan pandangan bahwa salat sendirian dengan khusyuk bisa lebih baik daripada berjamaah tanpa kekhusyukan.
Namun, pendapat ini tidak lepas dari kritik. Banyak ulama lain menegaskan bahwa salat berjamaah tetap memiliki keutamaan yang lebih kuat karena didukung oleh banyak hadis.
Baca Juga: Ingin Pahala Maksimal Salat Jumat, Lakukan Amalan Ini Sesuai Sunnah Nabi
Catatan Penting, Jangan Sampai Lewat Waktu Salat
Meski Islam memberikan keringanan, ada batas yang tidak boleh dilanggar. Menunda salat karena kantuk atau lapar hanya diperbolehkan selama tidak keluar dari waktu salat.
Jika waktu sudah hampir habis, maka seseorang tetap dianjurkan untuk segera melaksanakan salat, meskipun dalam kondisi kurang ideal.
Ajaran ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memberi kemudahan, namun tetap menekankan tanggung jawab.
Ibadah tidak sekadar dilakukan, tetapi juga dijaga kualitasnya agar benar-benar menghadirkan ketenangan dan kedekatan kepada Tuhan. (*)
Editor : Miftahul Khair