PONTIANAK POST - Banyak orang datang meminta doa agar hajinya mabrur. Namun bagi KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, permintaan itu tidak cukup hanya dengan doa.
Ia justru menegaskan, pemahaman tentang syarat dan rukun haji jauh lebih penting sebelum berharap pada kemabruran.
Utamakan Ilmu Sebelum Doa
Menyadur NU Online, setiap kali menerima tamu yang hendak berangkat haji, Gus Baha tidak langsung mengamini permintaan doa.
Baca Juga: Empat Kloter Jemaah Haji Pontianak Siap Berangkat Awal Mei 2026, Berikut Rinciannya
Ia terlebih dahulu bertanya, apakah mereka sudah memahami syarat dan rukun haji.
Jika belum, ia menyarankan untuk belajar terlebih dahulu. Baginya, sowan kepada kiai seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai meminta doa, tetapi juga kesempatan untuk menimba ilmu.
“Kiai, saya mau haji, syarat rukunnya apa? Kan saya bisa nerangkan,” ujarnya.
Menurutnya, hal-hal pokok seperti rukun tawaf, sa’i, hingga pengertian miqat harus dipahami lebih dulu sebelum membicarakan kemabruran haji.
Baca Juga: Kemlu Pastikan Jemaah Haji Indonesia Kecelakaan di Madinah Ditangani Baik, Tidak Ada Korban Jiwa
Analogi Naik Motor
Gus Baha kemudian memberikan analogi sederhana namun mengena. Ia menyamakan orang yang meminta doa haji mabrur tanpa ilmu dengan orang yang belum bisa mengendarai motor, tetapi ingin didoakan selamat di jalan.
“Orang yang minta didoakan jadi haji mabrur itu seperti orang yang gak bisa mengendarai sepeda motor tapi minta didoakan selamat.”
Menurutnya, keselamatan hanya bisa diraih jika seseorang sudah mampu mengendarai motor.
Begitu pula dengan haji kemabruran bisa dicapai jika seseorang memahami dan menjalankan syarat serta rukunnya dengan benar. “Hajinya gak bisa kok minta didoakan selamat,” tegasnya.
Pernah Menolak Permintaan Doa di Makkah
Sikap tegas ini juga ditunjukkan Gus Baha saat berada di Mekah. Ketika santri-santri dari pesantrennya meminta doa di Multazam, ia justru menolak. “Moh (gak mau)!” ungkapnya.
Alih-alih langsung mendoakan, ia meminta para santri untuk mengaji terlebih dahulu. Bahkan, ia menegaskan bahwa doa baru akan dipanjatkan setelah mereka belajar, itu pun jika ia ingat.
Baca Juga: Kronologi Bus Jemaah Calon Haji Probolinggo Kecelakaan di Jabal Magnet Madinah
“Ngaji dulu. Setelah ngaji, saya doakan kalau ingat. Kalau nggak yaudah,” ucapnya.
Mengaji Hingga Subuh, Baru Didoakan
Permintaan itu akhirnya diikuti para santri. Mereka mengaji kitab Sahih Bukhari bersama Gus Baha sejak pukul 02.00 dini hari hingga menjelang Subuh.
Setelah itu, barulah Gus Baha memanjatkan doa. Namun menariknya, doa yang ia ucapkan bukan tentang haji atau keinginan pribadi para santri.
Ia justru memohon agar mereka menjadi orang yang bermanfaat bagi umat dan mau mengajarkan ilmu.
Baca Juga: Biaya Haji 2026 Terbaru: Jemaah Bayar Rp54 Juta, Naik Jauh dari Tahun ke Tahun
“Gusti… semoga anak-anak ini ada manfaatnya bagi umat Rasulullah. Mau mengajar bukan keduniawian,” pesan Gus Baha menegaskan bahwa ibadah tidak hanya soal ritual, tetapi juga pemahaman. Doa memang penting, tetapi tanpa ilmu, ibadah bisa kehilangan arah.
Bagi Gus Baha, kemabruran haji bukan sesuatu yang instan diminta, melainkan hasil dari kesungguhan belajar dan menjalankan syariat dengan benar. (*)
Editor : Miftahul Khair