Pontianak Post–Kehidupan dunia sering dipenuhi gemerlap harta, jabatan, dan popularitas yang membuat manusia terlena. Namun Islam mengajarkan keseimbangan, yakni mencari dunia tanpa harus melupakan akhirat. Pesan ini disampaikan dalam artikel yang dilansir dari laman Muhammadiyah.
Islam tidak melarang umatnya bekerja, meraih kesuksesan, ataupun memanfaatkan kemajuan zaman. Akan tetapi, semua itu harus diarahkan untuk mendapatkan ridha Allah Subhanahuwata’ala dan menjadi bekal kehidupan akhirat.
Dunia Hanya Sementara
Baca Juga: Kerjakan Lima Sebelum Datang Lima, Inilah Nasihat Islam yang Menggetarkan Hati
Al-Qur’an mengingatkan kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Segala kenikmatan yang ada sifatnya sementara dan bisa hilang kapan saja.
Karena itu, kekayaan, jabatan, dan kesenangan bukanlah tujuan utama hidup. Semua hanyalah titipan dari Allah Subhanahuwata’ala yang suatu saat akan kembali kepada-Nya.
Kesadaran ini membuat manusia tidak berlebihan mencintai dunia dan tetap rendah hati dalam menjalani kehidupan.
Baca Juga: Ibadah Dari Rumah, Pemkab Landak Siapkan Tausiyah dan Tadarus Online
Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-An'am [6]: 162)
Dunia Bisa Jadi Jalan Kebaikan
Islam memandang dunia sebagai sarana, bukan tujuan akhir. Harta dapat menjadi jalan sedekah, ilmu bisa digunakan mencerdaskan umat, dan waktu dapat dipakai untuk ibadah serta amal saleh.
Baca Juga: Sepuluh Kebaikan untuk Satu Kali Selawat
Jika dunia dimanfaatkan untuk ketaatan, maka hasilnya akan dirasakan bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.
Sebaliknya, jika hidup hanya dihabiskan mengejar syahwat dan kesenangan semata, maka manusia akan merugi.
Jangan Sampai Tertipu Dunia
Baca Juga: Kesatu Kalbar Hadiri Ceramah Kesehatan, Hj Erlina: Ibu Adalah Menteri Kesehatan di Rumah Tangga
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama, maka hidupnya akan dipenuhi kegelisahan. Namun siapa yang menjadikan akhirat sebagai niat utama, Allah akan menenangkan hatinya dan memudahkan urusannya.
Pesan ini relevan di era modern ketika banyak orang sibuk mengejar materi, namun kehilangan ketenangan jiwa.
Islam Ajarkan Seimbang
Baca Juga: Kemenag dan MUI Singkawang Gelar Safari Ramadan 1446 H Perkuat Ukhuwah Islamiyah
Islam mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan manusia mencari kebahagiaan negeri akhirat tanpa melupakan bagian di dunia.
Artinya, seorang muslim boleh bekerja keras, membangun usaha, belajar teknologi, dan mengejar cita-cita. Namun semua itu harus tetap berada dalam koridor halal dan bernilai ibadah.
Dunia Ibarat Alat
Baca Juga: Salat Fardhu Jadi Penentu Amal Akhirat, Ini Penjelasannya Menurut UAH
Dalam artikel tersebut, dunia diibaratkan seperti pisau. Pisau bisa digunakan untuk hal bermanfaat, tetapi juga bisa dipakai untuk merusak. Begitu pula dunia, nilainya tergantung bagaimana manusia memanfaatkannya.
Jika digunakan untuk menolong sesama, menebar ilmu, dan berbuat baik, maka dunia menjadi ladang amal. Namun jika dipakai untuk kezaliman dan kesombongan, maka dunia justru menjadi sumber kerugian.
Renungan untuk Diri Sendiri
Baca Juga: Manusia “MUSIMAN” (Refleksi Renungan 2025)
Setiap manusia patut bertanya pada dirinya: apakah harta, waktu, ilmu, dan kesempatan yang dimiliki sudah digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah atau justru menjauh dari-Nya?
Dunia bukan musuh yang harus dijauhi, melainkan sarana perjalanan yang harus digunakan dengan bijak. Dengan begitu, kesuksesan dunia bisa diraih tanpa kehilangan kebahagiaan akhirat.
Wallahua’lam bishawab
Editor : Silvina