PONTIANAK POST–Islam adalah agama yang penuh keindahan, menghadirkan syariat dengan kelembutan dan kemudahan bagi setiap pemeluknya. Dalam setiap perintah, selalu ada ruang keringanan yang menunjukkan kasih sayang Allah Subhanahuwata’ala kepada hamba-Nya. Hal ini tampak jelas dalam ibadah puasa maupun ibadah haji.
Kemudahan Syariat dalam Islam
Saat Ramadan, umat Islam diwajibkan berpuasa, namun tidak dalam bentuk paksaan. Orang yang sakit diperbolehkan menunda, musafir bisa mengganti di hari lain, dan mereka yang tidak mampu diberikan opsi membayar fidyah. Semua disesuaikan dengan kondisi, tanpa memberatkan.
Baca Juga: Manasik Haji 2026 Kayong Utara Diikuti 12 Jamaah, Persiapan Ibadah Dilakukan Sejak Dini
Hal serupa juga berlaku dalam ibadah haji, rukun Islam kelima yang hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu. Mampu di sini mencakup fisik, finansial, dan keamanan. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, maka kewajiban haji gugur tanpa dosa.
Kelembutan Islam
Sebagaimana dijelaskan Syafiq Riza Basalamah, syariat Islam selalu hadir dengan prinsip kemudahan, bukan kesulitan. Allah Subhanahuwata’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
Baca Juga: Pembekalan Jemaah Calon Haji dari Kalbar: Layanan Berbasis Digital Bisa Ubah Wajah Ibadah Haji
ﵟوَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَﵞ
“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS Ali Imran: 97)
Betapa lembutnya Islam mengatur hidup manusia, betapa sayangnya Allah Subhanahuwata’ala kepada hamba-hamba-Nya.
Maka ketika masih ada yang tidak merasa bangga dengan Islam, mungkin yang perlu dilakukan bukan menyalahkan. Tapi mencoba mengenal lebih dalam, karena semakin dikenali, semakin terasa Islam bukan agama yang berat, melainkan agama yang penuh kasih dan kemudahan.
Haji Bukan Kebutuhan Allah, Tapi Kebutuhan Manusia
Ayat tersebut menegaskan Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Bahkan jika tidak ada satu pun manusia yang berhaji, kemuliaan Allah tidak akan berkurang sedikit pun.
Baca Juga: Kesiapan Jemaah Haji Sintang Jadi Kunci Kelancaran Ibadah di Tanah Suci Tahun Ini
Sebaliknya, manusia lah yang membutuhkan ibadah haji. Ibadah ini menjadi sarana untuk membersihkan jiwa, memperkuat iman, dan mendekatkan diri kepada Allah. Haji bukan tentang Allah yang menunggu, tetapi tentang manusia yang diberi kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya.
Wallahua’lam bishawab
Editor : Silvina