Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Seperti Apa Definisi Haji Bagi  yang Mampu ? Ini Penjelasan Ulama 

Silvina • Rabu, 6 Mei 2026 | 11:32 WIB
Jemaah haji sedang berada di Baitullah (DOK JAWA POS)
Jemaah haji sedang berada di Baitullah (DOK JAWA POS)

 

PONTIANAK POST–Islam adalah agama yang penuh keindahan, menghadirkan syariat dengan kelembutan dan kemudahan bagi setiap pemeluknya. Dalam setiap perintah, selalu ada ruang keringanan yang menunjukkan kasih sayang Allah Subhanahuwata’ala kepada hamba-Nya. Hal ini tampak jelas dalam ibadah puasa maupun ibadah haji.

Kemudahan Syariat dalam Islam

Saat Ramadan, umat Islam diwajibkan berpuasa, namun tidak dalam bentuk paksaan. Orang yang sakit diperbolehkan menunda, musafir bisa mengganti di hari lain, dan mereka yang tidak mampu diberikan opsi membayar fidyah. Semua disesuaikan dengan kondisi, tanpa memberatkan.

 Baca Juga: Manasik Haji 2026 Kayong Utara Diikuti 12 Jamaah, Persiapan Ibadah Dilakukan Sejak Dini

Hal serupa juga berlaku dalam ibadah haji, rukun Islam kelima yang hanya diwajibkan bagi mereka yang mampu. Mampu di sini mencakup fisik, finansial, dan keamanan. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, maka kewajiban haji gugur tanpa dosa.

Kelembutan Islam

Sebagaimana dijelaskan Syafiq Riza Basalamah, syariat Islam selalu hadir dengan prinsip kemudahan, bukan kesulitan. Allah Subhanahuwata’ala berfirman dalam Al-Qur’an: 

Baca Juga: Pembekalan Jemaah Calon Haji dari Kalbar: Layanan Berbasis Digital Bisa Ubah Wajah Ibadah Haji

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS Ali Imran: 97)

Betapa lembutnya Islam mengatur hidup manusia, betapa sayangnya Allah Subhanahuwata’ala  kepada hamba-hamba-Nya.

Baca Juga: Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah 2026, Prestasi Syarifah Azizah Bikin Bangga Penyuluh Agama Islam

Maka ketika masih ada yang tidak merasa bangga dengan Islam, mungkin yang perlu dilakukan bukan menyalahkan. Tapi mencoba mengenal lebih dalam, karena semakin dikenali, semakin terasa Islam bukan agama yang berat, melainkan agama yang penuh kasih dan kemudahan. 

Haji Bukan Kebutuhan Allah, Tapi Kebutuhan Manusia

Ayat tersebut menegaskan Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Bahkan jika tidak ada satu pun manusia yang berhaji, kemuliaan Allah tidak akan berkurang sedikit pun.

Baca Juga: Kesiapan Jemaah Haji Sintang Jadi Kunci Kelancaran Ibadah di Tanah Suci Tahun Ini

Sebaliknya, manusia lah yang membutuhkan ibadah haji. Ibadah ini menjadi sarana untuk membersihkan jiwa, memperkuat iman, dan mendekatkan diri kepada Allah. Haji bukan tentang Allah yang menunggu, tetapi tentang manusia yang diberi kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya.

 Wallahua’lam bishawab

Editor : Silvina
#mampu #ibadah #Definisi #ulama #haji