Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Gus Mus Jelaskan Arti Haji Mabrur: Bukan Soal Cium Hajar Aswad, tapi Sikap kepada Sesama

Khoiril Arif Ya'qob • Kamis, 7 Mei 2026 | 13:45 WIB
Ilustrasi ibadah haji. (DOK JAWAPOS)
Ilustrasi ibadah haji. (DOK JAWAPOS)

 

PONTIANAK POST - Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, KH. Mustofa Bisri atau Gus Mus, menjelaskan makna haji mabrur yang selama ini kerap disalahpahami banyak orang.

Dalam ceramah yang tayang di kanal YouTube Kanal Mataair, Gus Mus menegaskan bahwa haji mabrur bukan sekadar urusan ritual ibadah, melainkan bagaimana seseorang memperlakukan sesama jemaah selama berhaji.

Banyak yang Tidak Paham Arti Haji Mabrur

Dalam ceramahnya, Gus Mus mengawali dengan mempertanyakan makna ‘mabrur’ yang sering diucapkan para jemaah saat mendoakan orang berhaji.

Baca Juga: Gus Baha Sentil Orang yang Minta Doa Haji Mabrur Tanpa Memahami Rukun Haji

“Biasane wong ngaji niku seneng nek didungakno muga-mugo kajine mabrur. Amin. Tapi nek kulo takoki, mabrur niku nopo?” kata Gus Mus disambut tawa jamaah.

Menurutnya, banyak orang rajin mengamini doa haji mabrur, tetapi tidak benar-benar memahami apa arti mabrur itu sendiri.

Ia menilai penjelasan tentang haji mabrur sering berhenti pada hadis populer:

Baca Juga: Haji Pakai Uang Korupsi Apakah Sah? Ini Penjelasan Ulama soal Syarat Haji Mabrur

“Alhajjul mabrur laisa lahu jaza illal jannah.” “Haji mabrur itu tidak ada balasan selain surga.”

Namun, kata Gus Mus, jarang ada yang melanjutkan penjelasan mengenai seperti apa ciri haji yang mabrur.

Mabrur Itu Soal Akhlak Sosial

Gus Mus kemudian mengutip pertanyaan para sahabat kepada Baginda Rasulullah SAW tentang makna mabrur.

“Ada sahabat yang bertanya, ‘Wa ma birruhu ya Rasulullah?’ Mabrurnya itu seperti apa?” ujarnya.

Menurut Gus Mus, jawaban tentang haji mabrur justru tidak terletak pada ritual teknis seperti tawaf, sai, atau wukuf semata.

“Ternyata isine mboten perkoro tawafe, saine, wukufe. Tapi soal ibadah sosial,” tegasnya.

Baca Juga: Kisah  Abdullah bin Mubarak yang Ibadah Hajinya Digantikan Malaikat  

Ia menjelaskan, inti haji mabrur adalah kemampuan seseorang mencintai dan menghargai orang lain sebagaimana dirinya sendiri.

Gus Mus lalu mengutip hadis Nabi Muhammad SAW: “La yukminu ahadukum hatta yuhibba li akhihi ma yuhibbu linafsihi.”

Ia menerangkan bahwa hadis tersebut bukan sekadar tentang mencintai saudara, tetapi benar-benar merasa senang jika orang lain memperoleh kebaikan yang juga diinginkan dirinya.

“Nek sampeyan seneng dihormati, sampeyan kudu seneng nek dulur sampeyan dihormati. Nek sampeyan seneng warunge laris, sampeyan kudu seneng warunge dulur sampeyan laris,” ujarnya.

Baca Juga: Benarkah Haji Cukup Sekali Seumur Hidup? Ini Penjelasan Kemenag

Kritik Sikap Saling Sikut demi Cium Hajar Aswad

Dalam ceramahnya, Gus Mus juga menyoroti fenomena jemaah yang saling dorong hingga menyakiti orang lain demi mencium Hajar Aswad.

“Ngambung Hajar Aswad paling dhuwur iku sunah. Nyikut wong iku haram. Kok golek kesunatan nganggo keharaman,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa mencium Hajar Aswad bukan syarat sah haji. Karena itu, menurutnya, tidak sepatutnya jemaah sampai saling menyikut dan berebut tempat.

“Nek dulurku iso ngambung Hajar Aswad, aku ya seneng. Podo karo aku dhewe sing ngambung,” tuturnya.

Haji Mabrur Dinilai Tampak dari Sikap kepada Sesama

Gus Mus mengatakan ukuran haji mabrur justru terlihat dari perilaku sosial seseorang selama berada di Tanah Suci, seperti mau mengalah, membantu jemaah lain, hingga tidak egois mengejar kepentingan pribadi.

“Nek ono wong kesasar sampeyan tulungi. Nek ono wong butuh sampeyan bantu. Niku mabrur,” ujarnya.

Baca Juga: Tips Menabung Haji untuk Anak Muda dengan Penghasilan Terbatas

Ia juga mengingatkan para jemaah agar memperbanyak doa dan menjaga niat selama menjalankan ibadah haji maupun umrah.

“Sing penting dongo, nyuwun sehat walafiat lahir batin, iso ngelampahi ibadah kanthi sempurno lan gampang,” pesan Gus Mus. (*)

Editor : Miftahul Khair
#gus mus #Hajar Aswad #haji mabrur