PONTIANAK POST –Tradisi yang menyertai ibadah haji masih banyak ditemukan di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Mulai dari selamatan sebelum keberangkatan hingga ritual tertentu sepulang dari Tanah Suci.
Sebagian praktik tersebut dianggap telah bercampur dengan ajaran agama meski tidak memiliki dasar yang kuat dalam syariat Islam.
Dalam tulisannya di laman Almanhaj, Ustaz Zaenal Abidin, LC menyoroti fenomena masyarakat yang lebih mempertahankan kebiasaan turun-temurun dibanding membiasakan diri mengikuti tuntunan agama secara benar.
Baca Juga: Kloter 14 Haji Kalbar Sempat Tertunda Dua Jam Akibat Kendala Teknis Pesawat
Tradisi Lebih Dipertahankan daripada Syariat
Menurutnya, sebagian masyarakat awam kerap menjadikan budaya nenek moyang sebagai bagian dari ritual agama yang dianggap sakral.
Bahkan, tradisi tersebut dibela dan dilestarikan dengan penuh keyakinan karena takut dicap sesat, puritan, atau anti budaya apabila meninggalkannya.
Baca Juga: Dari Jimat hingga Sesajen, Ini 12 Kesyirikan yang Masih Dianggap Tradisi
Dalam artikelnya dijelaskan sebagian orang menganggap tekanan sosial dan penolakan masyarakat sebagai bentuk azab. Padahal, Alquran telah mengingatkan fitnah manusia bukanlah azab dari Allah Subhanahuwata’ala.
Fenomena ini dinilai menyebabkan tumpang tindih antara syariat Islam dengan budaya yang berkembang di masyarakat.
Beragam Ritual Haji yang Masih Dilakukan
Baca Juga: Simak Doa Rasulullah untuk Orang yang Hendak Pergi Haji Beserta Dalilnya
Beberapa tradisi yang disebut masih banyak dilakukan menjelang dan setelah haji antara lain walimatus safar atau selamatan keberangkatan haji. Ada pula kebiasaan melepas calon jamaah dengan azan, hingga meminta doa keberkahan sebelum jamaah memasuki rumah sepulang dari Makkah.
Selain itu, air zamzam yang dibawa jamaah haji juga kerap dicampurkan ke sumur rumah dengan keyakinan membawa keberkahan tertentu. Selama jamaah berada di Tanah Suci, sebagian masyarakat juga mengadakan yasinan, tahlilan, ratiban, hingga manaqiban secara rutin di rumah jamaah haji.
Bahkan dalam praktik tertentu, ada kelompok yang terlebih dahulu berziarah ke makam wali sebelum berangkat haji. Tradisi semacam ini, menurut Ustaz Zaenal Abidin, dianggap tidak memiliki landasan dalam tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.
Baca Juga: Kisah Abdullah bin Mubarak yang Ibadah Hajinya Digantikan Malaikat
Kritik terhadap Tokoh Agama
Ustaz Zaenal Abidin menilai kesalahan praktik ibadah tidak sepenuhnya berasal dari masyarakat awam. Ia menyoroti adanya sebagian tokoh agama yang justru menguatkan tradisi tersebut dengan berbagai argumentasi sehingga masyarakat semakin menganggapnya sebagai bagian dari agama.
Padahal, dalam Alquran telah dijelaskan larangan mengikuti tradisi nenek moyang tanpa dasar ilmu dan petunjuk yang benar.
Menurutnya, umat Islam seharusnya membangun cara beragama berdasarkan ittiba’ atau mengikuti Alquran dan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasalla, bukan berdasarkan kebiasaan, tokoh, maupun budaya yang diwariskan turun-temurun.
Baca Juga: Ini Pesan Buya Yahya dalam Menyikapi Kasus Asusila Tokoh Agama
Pentingnya Memahami Ibadah Sesuai Tuntunan
Dalam artikel itu juga dikutip pandangan Ibnu Taimiyah yang menegaskan agama Islam dibangun di atas Alquran, sunnah, dan ijma ulama. Semua persoalan agama harus dikembalikan kepada ajaran Allah Subhanahuwata’ala dan Rasul-Nya, bukan kepada hawa nafsu maupun tradisi manusia.
Karena itu, masyarakat diimbau lebih berhati-hati dalam menjalankan ritual ibadah, termasuk yang berkaitan dengan haji. Memahami ajaran agama berdasarkan ilmu dinilai penting agar ibadah tetap murni sesuai tuntunan syariat Islam.
Wallahua’lam bishawab
Editor : Silvina