PONTIANAK POST–Ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual menuju Tanah Suci. Di balik rangkaian ibadah yang dijalankan umat Islam di Makkah, terdapat hikmah besar yang menunjukkan persatuan umat Islam tanpa membedakan ras, suku, budaya, hingga status sosial.
Hal ini seperti dijelaskan Muhammad Yunus, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan Jawa Timur di laman NU Online.
Menurut dia hikmah disyariatkannya haji sejatinya tidak jauh berbeda dengan ibadah berjamaah lainnya seperti salat Jumat dan salat Id, yakni memperlihatkan persatuan umat Islam.
Baca Juga: Menata Kuota Haji: Dari Logika Pasar Menuju Integritas Ibadah
Haji Menghapus Sekat Antarmanusia
Dalam ibadah haji, seluruh umat Islam berkumpul di satu tempat dengan pakaian ihram yang sama. Tidak ada perbedaan antara orang kaya dan miskin, pejabat atau rakyat biasa, kulit putih maupun kulit hitam.
Semua berdiri dalam satu barisan sebagai hamba Allah Subhanahuwata’ala yang memiliki tujuan sama, yakni meraih ridha-Nya.
Baca Juga: Kisah Abdullah bin Mubarak yang Ibadah Hajinya Digantikan Malaikat
Islam menginginkan adanya ibadah yang mampu menyatukan umat manusia tanpa memandang identitas duniawi. Jika ibadah berjamaah lainnya hanya mempersatukan umat Islam dalam lingkup daerah tertentu, maka ibadah haji mampu mempertemukan umat Islam dari seluruh penjuru dunia.
Dalil Al-Qur’an tentang Seruan Haji
Allah Subhanahuwata’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ
Baca Juga: Inilah Lima Keutamaan Ibadah Haji yang Mengubah Kehidupan Muslim
Artinya, “(Wahai Ibrahim), serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS Al-Hajj: 27).
Ayat ini menunjukkan ibadah haji memang disyariatkan untuk menghimpun umat Islam dari berbagai negeri dan latar belakang.
Haji Menjadi Ajang Persaudaraan Umat Islam
Baca Juga: Manasik Haji 2026 Kayong Utara Diikuti 12 Jamaah, Persiapan Ibadah Dilakukan Sejak Dini
Syekh Ali Ahmad al-Jarjawi dalam kitab *Hikmatut Tasyri’ wa Falsafatuh* menjelaskan Allah Subhanahuwata'ala mensyariatkan haji agar umat Islam dari berbagai bangsa berkumpul di satu tempat dengan membawa identitas yang sama, yakni Islam.
Pertemuan besar tersebut melahirkan hubungan persaudaraan yang erat antarsesama Muslim. Jamaah dari Indonesia dapat mengenal jamaah dari Arab Saudi, Turki, India, Afrika, hingga negara-negara Barat.
Dari sana muncul rasa kasih sayang, saling mengenal budaya, hingga bertukar pengalaman tentang perkembangan Islam di berbagai negara.
Baca Juga: Kesiapan Jemaah Haji Sintang Jadi Kunci Kelancaran Ibadah di Tanah Suci Tahun Ini
Syekh al-Jarjawi juga mengatakan:
وعلى الجملة فانهم يتبادلون كل ما فيه مصلحتهم الدنيوية والأخروية. وهذا هو معنى الجامعة الاسلامية التي تتخوف.
Artinya, “Oleh karenanya, sesungguhnya mereka bisa bertukar pendapat tentang kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat. Dan ini maksud dari persatuan Islam yang ditakuti (musuh-musuh Islam).”
Baca Juga: Pembekalan Jemaah Calon Haji dari Kalbar: Layanan Berbasis Digital Bisa Ubah Wajah Ibadah Haji
Haji Membawa Banyak Manfaat bagi Umat Islam
Manfaat besar dari ibadah haji juga diisyaratkan dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahuwata’ala berfirman yagn artinya : “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan” (QS Al-Hajj: 28).
Ayat tersebut menjelaskan ibadah haji bukan hanya bernilai ibadah spiritual, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial, persaudaraan, hingga peradaban bagi umat Islam.
Keistimewaan Kota Makkah dalam Ibadah Haji
Selain memiliki Ka’bah sebagai kiblat umat Islam, kota Makkah juga mempunyai banyak keistimewaan.Menurut Syekh al-Jarjawi, Makkah merupakan tanah kelahiran Nabi Muhammad ﷺ sekaligus tempat awal munculnya cahaya Islam yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.
Di kota ini pula umat Islam dapat mengenang perjuangan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam saat membangun Ka’bah sebagai kiblat umat Islam.
Baca Juga: Ternyata Ada Sunnah Saat Memasuki Kota Makkah, Ini Penjelasan Lengkapnya
Rasulullah ﷺ juga bersabda: Tidak akan berkumpul dua agama di Jazirah Arab.”
Haji Bukan Sekadar Kewajiban
Dari berbagai penjelasan tersebut, dapat dipahami ibadah haji bukan hanya sebatas menunaikan kewajiban agama. Haji juga menjadi simbol persatuan, kekuatan, dan kejayaan umat Islam.
Baca Juga: Info Haji 2026: 71 Ribu Jemaah Masuki Madinah, Waspadai Cuaca Panas 43 Derajat di Makkah
Di hadapan Ka’bah, seluruh umat Islam memiliki kedudukan yang sama sebagai hamba Allah Subhanahuwata’ala. Tidak ada perbedaan status sosial, suku, ataupun bangsa.
Karena itu, sangat disayangkan apabila umat Islam hanya memandang haji sebagai ritual semata tanpa memahami hikmah besar yang terkandung di dalamnya, yakni mempererat ukhuwah dan memperkuat persatuan umat Islam di seluruh dunia.
Wallahua’lam bihsawab
Editor : Silvina