PONTIANAK POST – Haji merupakan salah satu ibadah terbesar dalam Islam yang memiliki kedudukan sangat mulia. Dalam pelaksanaannya, ibadah haji tidak hanya sekadar perjalanan spiritual ke Tanah Suci, tetapi juga memiliki rukun-rukun yang wajib dipenuhi agar hajinya sah menurut syariat.
Dikutip dari Almanhaj karya Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi, dijelaskan haji memiliki sejumlah rukun penting yang tidak boleh ditinggalkan oleh jamaah.
Niat Menjadi Awal Sahnya Ibadah Haji
Baca Juga: Sejak Kapan Ibadah Haji Disyariatkan? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Rukun pertama dalam ibadah haji adalah niat. Dalam Islam, setiap amal ibadah sangat bergantung pada niat yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah Subhanahuwata’ala.
Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahuwata’ala dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5 yang menjelaskan pentingnya memurnikan ketaatan kepada Allah.
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam juga bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.”
Baca Juga: Haji Pakai Uang Korupsi Apakah Sah? Ini Penjelasan Ulama soal Syarat Haji Mabrur
Karena itu, jamaah haji harus menata niat sejak awal agar ibadah yang dijalankan benar-benar dilakukan untuk mencari ridha Allah Subhanahuwata’ala.
Wukuf di Arafah Menjadi Inti Ibadah Haji
Rukun kedua adalah wukuf di Arafah. Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menegaskan inti dari ibadah haji adalah wukuf di padang Arafah. Dalam hadis disebutkan: “Al-hajju ‘Arafah” atau “Haji adalah wukuf di Arafah.”
Baca Juga: Gubernur Kalbar Ingatkan Jemaah Haji Siapkan Fisik Prima Jelang Wukuf di Arafah
Wukuf dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah dan menjadi momen paling penting dalam rangkaian ibadah haji. Jamaah biasanya memperbanyak doa, zikir, dan istighfar saat berada di Arafah.
Bermalam di Muzdalifah Hingga Shalat Subuh
Rukun berikutnya adalah menginap di Muzdalifah hingga terbit fajar dan melaksanakan salat Subuh di sana.
Baca Juga: Waspadai Hadits Dhaif dan Palsu Seputar Amaliyah Haji yang Tidak Boleh Dipercaya
Muzdalifah menjadi tempat persinggahan jamaah setelah meninggalkan Arafah. Di lokasi ini jamaah biasanya beristirahat, memperbanyak doa, sekaligus mengumpulkan batu kerikil untuk lempar jumrah.
Dalam hadis Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam disebutkan orang yang mengikuti salat di Muzdalifah setelah wukuf di Arafah maka hajinya dianggap sempurna.
Thawaf Ifadhah Wajib Dilaksanakan
Baca Juga: Info Haji 2026: 71 Ribu Jemaah Masuki Madinah, Waspadai Cuaca Panas 43 Derajat di Makkah
Rukun selanjutnya adalah thawaf ifadhah, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran.
Allah Subhanahuwata’ala berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 29: “Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).”
Thawaf ifadhah menjadi salah satu rukun yang sangat penting karena jamaah tidak dapat meninggalkan Makkah sebelum melaksanakannya.
Sa’i antara Shafa dan Marwah
Baca Juga: Gus Baha Sentil Orang yang Minta Doa Haji Mabrur Tanpa Memahami Rukun Haji
Rukun terakhir adalah sa’i antara bukit Shafa dan Marwah. Sa’i dilakukan dengan berjalan atau berlari kecil sebanyak tujuh kali perjalanan antara dua bukit tersebut.
Ibadah ini menjadi simbol perjuangan dan keteguhan Siti Hajar ketika mencari air untuk putranya, Nabi Ismail Alaihissalam.
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Kerjakanlah sa’i, sesungguhnya Allah telah mewajibkan sa’i atas kalian.”
Memahami Rukun Haji Sebelum Berangkat ke Tanah Suci
Baca Juga: Belum Mampu Haji? Gus Baha Punya Amalan Sederhana agar Tetap Terhubung ke Tanah Suci
Memahami rukun-rukun haji sangat penting bagi setiap calon jamaah agar ibadah yang dijalankan sah dan sesuai tuntunan syariat.
Dengan mempelajari tata cara haji sejak dini, jamaah diharapkan dapat lebih tenang, khusyuk, dan fokus dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Wallahua’lam bishawab
Editor : Silvina