PONTIANAK POST –Berbakti kepada orang tua, terutama ibu, menjadi salah satu ajaran penting dalam Islam. Bahkan, menyakiti hati ibu disebut memiliki akibat yang sangat berat, baik di dunia maupun di akhirat.
Salah satu kisah yang sering dijadikan pelajaran adalah kisah sahabat bernama ‘Alqamah. Meski dikenal sebagai ahli ibadah, ia mengalami kesulitan saat menghadapi sakaratul maut karena pernah melukai hati ibunya.
Kisah tersebut disampaikan oleh Tatam Wijaya sebagaimana dimuat di NU Online.
Baca Juga: Psikolog Ungkap Pentingnya Bahasa Ibu di Tengah Tren Multibahasa Anak
Alqamah Dikenal Rajin Beribadah
Dalam riwayat disebutkan, ‘Alqamah digambarkan sebagai sosok yang sangat taat kepada Allah Subhanahuwata’ala. Ia dikenal rajin melaksanakan salat, puasa, zakat, dan sedekah.
Namun, di akhir hayatnya, ia mengalami kesulitan mengucapkan kalimat tauhid: Laailahaillallah. Padahal, kalimat tersebut sangat penting bagi seorang Muslim yang sedang menghadapi kematian.
Baca Juga: BGN Ultimatum SPPG: Targetkan Lonjakan Penerima Gizi Ibu Hamil dan Balita, Ancaman Suspend Mengintai
Rasulullah Mengetahui Penyebabnya
Ketika keadaan itu dilaporkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, beliau kemudian menelusuri penyebabnya. Ternyata, ‘Alqamah masih memiliki seorang ibu yang pernah tersakiti hatinya.
Sang ibu merasa anaknya lebih mementingkan istrinya dibanding dirinya sebagai ibu kandung. Perasaan kecewa dan sakit hati itulah yang menjadi penghalang bagi ‘Alqamah saat menghadapi ajalnya.
Baca Juga: Perjanjian Hudaibiyah, Strategi Damai Rasulullah yang Mengubah Sejarah Islam
Kisah ini menunjukkan betapa besar pengaruh ridha orang tua, terutama ibu, dalam kehidupan seorang anak.
Hati Sang Ibu Akhirnya Luluh
Untuk membuka pintu maaf dari ibunda ‘Alqamah, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam meminta para sahabat mengumpulkan kayu bakar seolah hendak membakar jasad ‘Alqamah.
Mendengar hal tersebut, naluri keibuan sang ibu pun bangkit. Ia tidak tega melihat anaknya mendapat hukuman demikian.
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam kemudian bersabda kepada sang ibu siksa akhirat jauh lebih pedih dibanding api dunia. Mendengar nasihat itu, hati sang ibu luluh dan akhirnya memaafkan ‘Alqamah.
Pelajaran Penting tentang Ridha Ibu
Baca Juga: Kisah Aila Afifah, Calon Haji Termuda Indonesia Asal Pontianak yang Berangkat Gantikan Ibunda
Setelah mendapatkan maaf dari ibunya, ‘Alqamah akhirnya mampu mengucapkan kalimat syahadat dengan lancar sebelum meninggal dunia.
Kisah yang terdapat dalam kitab Irsyadul-‘Ibad karya Zainuddin al-Malaibari ini menjadi pengingat penting bagi umat Islam agar selalu menjaga sikap kepada orang tua.
Berbakti kepada ibu bukan hanya soal memberi materi atau kebahagiaan, tetapi juga menjaga ucapan dan perilaku agar tidak melukai hatinya.
Introspeksi Diri
Kisah ‘Alqamah juga menjadi renungan mendalam. Umat Islam diajak untuk memperbaiki sikap kepada orang tua dan terus mendoakan mereka, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
Jika belum mampu membahagiakan orang tua, setidaknya jangan sampai menyakiti hati mereka. Sebab dalam ajaran Islam, ridha Allah Subhanahuwata’ala juga bergantung pada ridha kedua orang tua.
Wallahua’lam bishawab
Editor : Silvina