Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Bolehkah Mengeraskan Suara Saat Zikir Setelah Salat? Ini Penjelasan Ulama

Silvina • Jumat, 12 Juni 2026 | 14:54 WIB

 

Ilustrasi kaum muslimin sedang berzikir usai salat berjamaah di masjid
Ilustrasi kaum muslimin sedang berzikir usai salat berjamaah di masjid

 

PONTIANAK POST – Praktik berzikir setelah salat merupakan amalan yang lazim dilakukan umat Islam di berbagai masjid. Namun, muncul pertanyaan yang kerap menjadi perbincangan di kalangan masyarakat,  apakah zikir setelah salat sebaiknya dilakukan dengan suara keras atau cukup secara perlahan.

Pembahasan ini pernah dijelaskan oleh ulama hadits terkemuka, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, sebagaimana dimuat dalam laman Almanhaj. Menurut beliau, terdapat dalil yang menunjukkan Rasulullah Shallallahua’laihiwasallam pernah mengeraskan suara ketika berzikir setelah salat. Namun, para ulama memberikan penjelasan lebih rinci mengenai maksud dari praktik tersebut.

Hadis Ibnu Abbas tentang Zikir dengan Suara Keras

Baca Juga: Zikir Ini Ringan di Lisan Tapi Berat di Timbangan Amal, Yuk Rutinkan  

Syaikh Al-Albani mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma:

كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ الصَّلاَةِ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَفْعِ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ

"Dahulu kami mengetahui selesainya shalat pada masa Nabi karena suaradzikir yang keras."

Baca Juga: Inilah Keutamaan dan Manfaat Besar yang Dirasakan dari Zikir

Hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim ini sering dijadikan dasar oleh sebagian kalangan yang membolehkan zikir dengan suara keras setelah shalat.

Namun, menurut Al-Albani, sejumlah ulama besar memberikan penjelasan praktik tersebut tidak menunjukkan kebiasaan yang dilakukan terus-menerus.

Penjelasan Imam Asy-Syafi'i

Baca Juga: Ingin Bebas dari Neraka? Bacalah Selalu Zikir Ini dan Buktikan Melalui Amal    

Dalam kitab Al-Umm, Imam Asy-Syafi'i menjelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mengeraskan suara ketika berzikir setelah salat dengan tujuan mengajarkan bacaan zikir kepada para sahabat yang belum mengetahuinya.

Karena tujuannya adalah pengajaran, maka amalan tersebut tidak harus dilakukan secara berkelanjutan setiap selesai salat.

Pendapat ini juga diperkuat oleh sejumlah ulama lainnya, termasuk Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Baca Juga: Keutamaan Zikir Pagi dan Petang, Amalan Ringan dengan Manfaat Luar Biasa

Analogi dengan Bacaan Salat yang Dikeraskan

Syaikh Al-Albani menjelaskan  Nabi Muhammad terkadang memperdengarkan bacaan Alquran dalam shlat Zuhur dan Ashar kepada para sahabat. Padahal kedua salat tersebut pada dasarnya dibaca secara sirr atau perlahan.

Tujuannya bukan untuk mengubah tata cara salat, melainkan sebagai sarana pembelajaran bagi para sahabat.

Baca Juga: Ini Bacaan Zikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah, Lengkap dengan Artinya (Bagian 1)

Demikian pula dengan zikir setelah salat. Jika sesekali dikeraskan untuk tujuan mengajarkan bacaan kepada jamaah, maka hal itu diperbolehkan.

Zikir Perlahan Dinilai Lebih Utama

Menurut Al-Albani, banyak dalil shahih yang menunjukkan zikir dan doa pada dasarnya lebih utama dilakukan dengan suara yang tidak mengganggu orang lain.

Baca Juga: Ini Bacaan Zikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah, Lengkap dengan Artinya (Bagian 2)

Beliau mengutip hadis Abu Musa Al-Asy'ari ketika para sahabat sedang melakukan perjalanan bersama Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Saat itu mereka mengeraskan suara ketika bertakbir dan bertasbih.

Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا

Baca Juga: Ini Bacaan Zikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah, Lengkap dengan Artinya (Bagian 2)

"Wahai manusia, bersikaplah lembut terhadap diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak sedang menyeru Dzat yang tuli dan tidak pula jauh."

Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahuwata’ala Maha Mendengar sehingga tidak diperlukan suara yang berlebihan dalam berzikir maupun berdoa.

Jangan Sampai Mengganggu Jamaah Lain

Baca Juga: Ini Bacaan Zikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah, Lengkap dengan Artinya (Bagian 3)

Syaikh Al-Albani menegaskan salah satu alasan penting mengapa zikir tidak dianjurkan dilakukan dengan suara keras adalah agar tidak mengganggu orang lain yang sedang beribadah.

Di dalam masjid sering kali masih terdapat jamaah yang sedang menyelesaikan shalat karena terlambat datang (masbuk), membaca Alquran, atau berdoa secara khusyuk.

Karena itu, mengeraskan suara secara berlebihan dapat mengurangi kekhusyukan jamaah lainnya.

Baca Juga: Ini Bacaan Zikir Pagi dan Petang Sesuai Sunnah, Lengkap dengan Artinya (Bagian 4-Terakhir)

Beliau juga mengutip sabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُّكُمْ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقِرَاءَةِ

"Wahai manusia, masing-masing kalian sedang bermunajat kepada Rabb-nya. Maka janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan sehingga mengganggu yang lain."

Baca Juga: Jangan Langsung Main HP, Ini Enam Fadhilah Zikir Setelah Salat Fardhu

Dalam riwayat yang disebutkan Al-Baghawi terdapat tambahan:

فَتُؤْذُوا الْمُؤْمِنِينَ

"Sehingga kalian mengganggu kaum mukminin."

Baca Juga: Ini Bacaan Zikir Setelah Salat Fardhu yang Dianjurkan Rasulullah

Menjaga Kekhusyukan dalam Berzikir

Dari penjelasan tersebut, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyimpulkan bahwa mengeraskan suara dalam zikir setelah salat diperbolehkan apabila bertujuan untuk mengajarkan bacaan kepada orang lain.

Namun, apabila tidak ada kebutuhan tersebut, maka berzikir dengan suara yang lebih pelan dan tidak mengganggu jamaah lain dinilai lebih sesuai dengan petunjuk syariat.

Baca Juga: Jangan Lewatkan, Ini Tujuh Amalan Sunnah di Hari Jumat yang Penuh Berkah

Tujuan utama zikir adalah menghadirkan hati yang khusyuk, mengingat Allah Subhanahuwata’ala, serta menjaga kenyamanan sesama muslim yang sedang beribadah di masjid.

Dengan demikian, setiap muslim hendaknya memperhatikan adab berzikir agar ibadah yang dilakukan tidak hanya bernilai pahala bagi diri sendiri, tetapi juga tetap menghormati kekhusyukan orang lain di sekitarnya.

Wallahua'lam bishawab 

Editor : Silvina
#zikir setelah salat fardhu #mengeraskan suara saat zikir #syaikh albani #imam syafii #penjelasan ulama