PONTIANAK POST – Tahun Baru Hijriah sering disambut dengan berbagai kegiatan keagamaan di sejumlah daerah. Mulai dari puasa awal dan akhir tahun, doa bersama, pengajian khusus, hingga perayaan yang meriah. Namun, muncul pertanyaan yang penting untuk dipahami oleh umat Islam, apakah semua amalan tersebut memiliki dasar yang kuat dalam syariat?
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc dalam tulisannya di laman Rumaysho menjelaskan seorang Muslim hendaknya berhati-hati dalam beribadah. Setiap amalan yang dikerjakan seharusnya memiliki landasan dari Alquran dan sunah yang sahih.
Puasa Awal dan Akhir Tahun, Apakah Ada Dalilnya?
Baca Juga: Tahun Baru Islam Segera Tiba, Ini Amalan yang Dianjurkan di Bulan Muharram
Salah satu amalan yang cukup populer menjelang pergantian tahun Hijriah adalah puasa pada akhir bulan Dzulhijah dan awal bulan Muharram.
Sebagian orang mengamalkannya berdasarkan sebuah riwayat yang menyebutkan:
Hadis yang Sering Dijadikan Dasar
Baca Juga: Begini Sejarah Penetapan Tahun Baru Islam dan Kalender Hijriah yang Mendunia
مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبِلَةَ بِصَوْمٍ
"Barang siapa berpuasa pada akhir bulan Dzulhijah dan awal bulan Muharram, maka ia telah menutup tahun dengan puasa dan membuka tahun berikutnya dengan puasa."
Namun, para ulama ahli hadis menilai riwayat tersebut tidak dapat dijadikan dasar ibadah.
Baca Juga: Mengapa Muharram Disebut Bulan Allah,? Ini Keistimewaannya dalam Islam
Penilaian Ulama terhadap Hadis Puasa Awal dan Akhir Tahun
Sejumlah ulama hadis memberikan penilaian tegas terhadap riwayat tersebut.
1. Dinilai Mengandung Perawi Pemalsu Hadis
Baca Juga: Doa Awal dan Akhir Tahun Hijriah Banyak Diamalkan, Benarkah Ada Tuntunannya?
Imam Adz-Dzahabi dalam Tartib Al-Maudhu'at menjelaskan salah satu jalur periwayatan hadis tersebut berasal dari perawi yang dikenal sebagai pemalsu hadis.
2. Disebut Memiliki Perawi Pendusta
Imam Asy-Syaukani dalam Al-Fawa'id Al-Majmu'ah menyatakan dalam sanad hadis tersebut terdapat perawi yang dikenal sebagai pendusta.
Baca Juga: Bolehkah Mengeraskan Suara Saat Zikir Setelah Salat? Ini Penjelasan Ulama
3. Dikategorikan Hadis Palsu
Imam Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu'at juga menyebut riwayat tersebut sebagai hadis yang tidak dapat dijadikan hujah karena berasal dari perawi yang bermasalah.
Berdasarkan penjelasan para ulama tersebut, hadis mengenai keutamaan puasa awal dan akhir tahun dinilai lemah bahkan dikategorikan palsu oleh sebagian ahli hadis.
Baca Juga: Ini Bacaan Zikir Setelah Salat Fardhu yang Dianjurkan Rasulullah
Karena itu, tidak terdapat dasar syariat untuk mengkhususkan puasa pada hari terakhir Dzulhijah dan hari pertama Muharram dengan keyakinan memperoleh keutamaan tertentu sebagaimana disebutkan dalam riwayat tersebut.
Memeriahkan Tahun Baru Hijriah dengan Berbagai Ritual Khusus
Selain puasa awal dan akhir tahun, sebagian masyarakat juga menyambut Tahun Baru Hijriah dengan berbagai kegiatan khusus seperti pesta kembang api, menyalakan lilin, acara makan bersama, zikir berjamaah yang dikhususkan, salat tasbih khusus malam tahun baru, hingga pengajian yang diyakini sebagai ritual khusus pergantian tahun.
Baca Juga: Jangan Langsung Main HP, Ini Enam Fadhilah Zikir Setelah Salat Fardhu
Menurut Muhammad Abduh Tuasikal, berbagai bentuk perayaan tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam maupun para sahabat.
Tidak ditemukan riwayat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, maupun generasi tabi'in mengadakan perayaan khusus saat memasuki tahun baru Hijriah.
Peringatan tentang Menyerupai Tradisi Kaum Lain
Baca Juga: Sejak Kapan Ibadah Haji Disyariatkan? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Dalam pembahasannya, Muhammad Abduh Tuasikal juga mengutip hadis Nabi Muhammad:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka."
Baca Juga: Jangan Sampai Dilakukan, Ini Larangan Penting Saat Menjalankan Ibadah Haji
Hadis tersebut sering dijadikan pengingat agar umat Islam berhati-hati dalam mengadopsi tradisi keagamaan yang tidak memiliki dasar dalam syariat.
Menurut sebagian ulama, perayaan Tahun Baru Hijriah yang dibuat menyerupai perayaan tahun baru Masehi perlu dicermati agar tidak keluar dari tuntunan yang diajarkan Islam.
Tahun Baru Hijriah Seharusnya Menjadi Momentum Muhasabah
Baca Juga: Zikir Ini Ringan di Lisan Tapi Berat di Timbangan Amal, Yuk Rutinkan
Alih-alih disibukkan dengan berbagai ritual yang tidak memiliki dasar yang kuat, pergantian tahun Hijriah semestinya dijadikan momentum untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri.
Setiap pergantian tahun mengingatkan manusia umur terus berkurang dan kematian semakin dekat.
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah menggambarkan kehidupan dunia dengan sangat sederhana:
Baca Juga: Hukum Salat di Masjid bagi Laki-Laki, Wajib atau Sunnah? Ini Penjelasan Ulama
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
"Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya."
Pesan yang sama juga disampaikan oleh ulama tabi'in, Hasan Al-Bashri rahimahullah.
Baca Juga: Ternyata Ada Sunnah Saat Memasuki Kota Makkah, Ini Penjelasan Lengkapnya
Nasihat Hasan Al-Bashri tentang Waktu
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ
"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Ketika satu hari berlalu, maka berkurang pula sebagian dari dirimu."
Baca Juga: Hukum Sutrah atau Pembatas Salat, Wajib atau Sunnah? Simak Penjelasannya
Nasihat tersebut mengingatkan waktu merupakan nikmat yang sangat berharga. Setiap pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka dalam kalender, melainkan pengingat bahwa perjalanan menuju akhir kehidupan semakin dekat.
Mengisi Tahun Baru dengan Amal Saleh
Menyambut Tahun Baru Hijriah tidak harus dilakukan dengan perayaan khusus. Yang lebih penting adalah memperbanyak amal saleh, memperbaiki ibadah, meningkatkan kualitas akhlak, memperbanyak istigfar, membaca Alquran, serta melakukan evaluasi diri atas perjalanan hidup selama setahun terakhir.
Dengan cara itulah pergantian tahun Hijriah dapat menjadi momentum yang benar-benar membawa manfaat bagi kehidupan seorang Muslim.
Wallahua’lam bishawab
Editor : Silvina