PONTIANAK POST – Rajin melaksanakan salat, puasa sunah, zakat, hingga berhaji ternyata tidak otomatis menjamin seseorang selamat di akhirat. Sebab, ada amalan lain yang bisa menghapus pahala ibadah apabila tidak mampu menjaga lisan dan perilaku terhadap sesama manusia.
Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam tayangan YouTube Shorts yang diunggah akun @munaraudatull. UAH juga menyebut hadis Nabi Muhammad Shallallhu’alaihiwasallam tentang orang yang bangkrut (muflis) di akhirat.
Rajin Ibadah, tetapi Gemar Menyakiti Orang Lain
Baca Juga: Bolehkah Berwudhu di Toilet? Ini Penjelasan Ustadz Adi Hidayat
Menurut Ustaz Adi Hidayat, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam secara khusus menyebut umat beliau sendiri sebagai pihak yang harus berhati-hati terhadap kebangkrutan di akhirat.
Orang tersebut datang pada hari kiamat dengan membawa banyak pahala. Ia rajin melaksanakan salat wajib dan sunah, seperti tahajud dan duha. Ia juga tekun menjalankan puasa sunah, seperti Senin-Kamis, Ayyamul Bidh, hingga puasa Syawal. Selain itu, ia menunaikan zakat, bahkan berhaji dan umrah.
Namun, di balik banyaknya ibadah tersebut, ia memiliki kebiasaan menyakiti orang lain."Cuma sayang, lisannya gatal. Senang mencela orang," kata Ustaz Adi Hidayat.
Baca Juga: Salat Fardhu Jadi Penentu Amal Akhirat, Ini Penjelasannya Menurut UAH
Bukan Hanya Lisan, Jari di Media Sosial Juga Bisa Menjadi Dosa
UAH menjelaskan bentuk mencela pada masa sekarang tidak hanya dilakukan melalui ucapan secara langsung. Menurutnya, perkembangan teknologi membuat seseorang bisa menyakiti orang lain melalui tulisan di media sosial.
Ia mengingatkan komentar yang berisi cacian, hinaan, tuduhan tanpa bukti, hingga penyebaran hoaks tetap akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahuwata'ala.
Baca Juga: Benarkah Hewan Kurban Jadi Kendaraan di Akhirat? Ini Penjelasan UAH
Pahala Ibadah Bisa Berpindah kepada Orang yang Dizalimi
Dalam penjelasannya, Ustaz Adi Hidayat menguraikan pada hari kiamat, pahala ibadah seseorang dapat berpindah kepada orang-orang yang pernah ia zalimi.
"Kalau ada orang salat, tetapi senang usil kepada orang dengan lisannya, pahala salatnya diberikan kepada orang yang dicaci," jelasnya.
Baca Juga: Ternyata Ini Manfaat Salat Ketika Dikerjakan dengan Benar Menurut Ustaz Adi Hidayat
Begitu pula dengan orang yang rajin berpuasa, tetapi menyebarkan berita bohong."Ada orang puasa, tetapi saat yang bersamaan bikin hoaks, maka pahala puasanya ditarik untuk menutup dosa hoaksnya," tutur UAH.
Ia juga mencontohkan seseorang yang telah menunaikan ibadah haji, tetapi gemar memfitnah orang lain."Kalau ada orang haji, saat bersamaan memfitnah orang, pahala hajinya diberikan kepada orang yang difitnah," katanya.
Jika Pahala Habis, Dosa Orang Lain Dipindahkan
Baca Juga: Sulit Bangun Salat Tahajud? Ini 4 Tips Ulama yang Bisa Dicoba
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan kondisi paling berat terjadi ketika seluruh pahala seseorang telah habis digunakan untuk membayar kezaliman kepada orang lain.
Apabila masih ada dosa yang belum tertutupi, maka dosa orang-orang yang pernah dizaliminya akan dipindahkan kepadanya.
"Kalau habis modalnya, sementara masih tersisa keburukannya karena pernah mencela orang, maka itulah yang disebut bangkrut. Lalu dilemparkan ke neraka untuk dibersihkan," ujarnya.
Baca Juga: Tak Sempat Salat Tahajud Karena Ketiduran atau Sakit? Begini Cara Mengqadhanya Sesuai Hadis
Perbanyak Silaturahmi dan Perbaiki Hubungan Sebelum Terlambat
Di akhir ceramahnya, Ustaz Adi Hidayat mengajak umat Islam untuk melakukan introspeksi selama masih diberi kesempatan hidup.
Ia mengingatkan agar setiap muslim memperbaiki hubungan dengan keluarga, tetangga, teman, maupun rekan kerja sebelum datang hari pembalasan.
"Bertakwalah engkau yang telah beriman. Jangan sampai pulang masih punya persoalan dengan teman, keluarga, anak, istri, tetangga, ataupun rekan kerja. Maka bangun silaturahmi," pesan Ustaz Adi Hidayat.
UAH menegaskan bahwa ibadah kepada Allah Subhanahuwata’ala harus berjalan seiring dengan menjaga hak-hak sesama manusia. Sebab, kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah ritual, tetapi juga dari kemampuannya menjaga lisan, menjauhi fitnah, tidak menyebarkan hoaks, serta menghormati dan tidak menzalimi orang lain. Dengan demikian, pahala ibadah yang telah dikumpulkan tidak hilang akibat kesalahan kepada sesama manusia.
Wallahua'lam bishawab
Editor : Silvina