PONTIANAK POST – Pernah mendengar anggapan atau mitos bulan Safar itu bulan malapetaka atau bulan yang membawa nasib buruk ? Anggapan atau mitos ini tidak boleh dipercaya Sebab tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Anggapan bulan Safar membawa nasib buruk justru merupakan warisan kepercayaan masyarakat Arab pada masa jahiliah yang kemudian diluruskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.
Hal itu sebagaiaman dijelaskan Muhammad DN, S.Ag., M.H.I., Ketua PDM Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, dalam khutbah Jumat yang dimuat di laman Suara Muhammadiyah.
Baca Juga: Tahun Baru Islam Segera Tiba, Ini Amalan yang Dianjurkan di Bulan Muharram
Mitos Bulan Safar Berasal dari Tradisi Arab Jahiliah
Menurut Muhammad DN, masyarakat Arab sebelum datangnya Islam menghubungkan berbagai musibah dengan bulan Safar. Mereka menganggap bulan tersebut sebagai waktu yang penuh kesialan sehingga berbagai aktivitas penting sebisa mungkin dihindari.
Islam kemudian datang untuk menghapus berbagai bentuk takhayul dan keyakinan yang tidak memiliki landasan syariat.
Baca Juga: Muharram Awal Kebangkitan Umat Islam
Dalam ajaran Islam, tidak ada hari, bulan, maupun tahun yang membawa kesialan. Seluruh waktu adalah ciptaan Allah Subhanahuwata’ala dan berada sepenuhnya dalam kekuasaan-Nya.
Karena itu, setiap kebaikan maupun musibah yang terjadi bukanlah disebabkan oleh suatu bulan tertentu, melainkan atas izin dan ketentuan Allah Subhanahuwata’ala.
Rasulullah Tegas Membantah Anggapan Bulan Safar Membawa Sial
Baca Juga: Mengapa Muharram Disebut Bulan Allah,? Ini Keistimewaannya dalam Islam
Penegasan tersebut disampaikan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melalui sabdanya:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَر
Artinya:"Tidak ada penyakit menular (yang menular dengan sendirinya), tidak ada kesialan, tidak ada pengaruh buruk dari burung hantu, dan tidak ada kesialan bulan Safar." (HR Bukhari dan Muslim).
Baca Juga: Ustaz Adi Hidayat: Harta dan Jabatan Tak Menjamin Kebahagiaan, Ini yang Harus Dimiliki
Hadis tersebut menjadi salah satu dalil utama bahwa Islam menolak segala bentuk keyakinan terhadap kesialan yang dikaitkan dengan waktu tertentu, termasuk bulan Safar.
Musibah maupun keberuntungan tidak datang karena suatu bulan, tetapi semuanya berada dalam kehendak Allah Subhanahuwata’ala.
Mengapa Dinamakan Bulan Safar?
Baca Juga: Begini Sejarah Penetapan Tahun Baru Islam dan Kalender Hijriah yang Mendunia
Muhammad DN juga mengutip penjelasan Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan Surah At-Taubah ayat 36.
Menurut Ibnu Katsir, kata Safar berasal dari makna "kosong". Penamaan tersebut berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab pada masa lampau yang meninggalkan kampung halaman pada bulan tersebut untuk bepergian atau berperang sehingga daerah tempat tinggal mereka menjadi kosong.
Artinya, nama Safar sama sekali tidak berkaitan dengan kesialan ataupun musibah sebagaimana yang berkembang di tengah masyarakat.
Baca Juga: Apa Itu Syirik? Begini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Ajaran Islam
Nabi Justru Melakukan Peristiwa Penting pada Bulan Safar
Tidak hanya melalui sabda, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam juga memberikan teladan secara nyata.
Dalam kitab Mandhûmah Syarh al-Atsar fî Mâ Warada 'an Syahri Shafar, Habib Abu Bakar al-'Adni menjelaskan sejumlah peristiwa penting dalam kehidupan Rasulullah terjadi pada bulan Safar.
Baca Juga: Waspada Syirik, Dosa Besar Paling Besar yang Menghapus Amal
Di antaranya adalah pernikahan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dengan Sayyidah Khadijah serta pernikahan putri beliau, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, dengan Ali bin Abi Thalib.
Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa Rasulullah tidak pernah menganggap bulan Safar sebagai bulan yang harus dihindari untuk melaksanakan sesuatu yang sakral maupun penting.
Umat Islam Diminta Meninggalkan Takhayul
Baca Juga: Sejarah Malam Satu Suro, Tradisi Jawa yang Berawal dari Upaya Sultan Agung Menyatukan Rakyat
Muhammad DN menegaskan seorang muslim hendaknya menjadikan Alquran dan sunah sebagai pedoman dalam memandang segala sesuatu, termasuk persoalan waktu.
Meyakini adanya bulan pembawa sial merupakan bentuk keyakinan yang bertentangan dengan ajaran tauhid karena seolah-olah memberikan pengaruh kepada selain Allah Subhanahuwata’ala
Memasuki bulan Safar seharusnya menjadi momentum untuk semakin memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, dan meninggalkan berbagai mitos maupun takhayul yang tidak memiliki dasar dalam Islam.
Editor : Silvina