Mengapa Babi Haram dalam Islam? Guru Besar UI Ulas DNA Babi yang Disebut Mirip Manusia, Benarkah Ada Kaitannya

Silvina • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 10:26 WIB
Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys
Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys

 

PONTIANAK POST – Selama ini banyak orang meyakini babi diharamkan dalam Islam karena dianggap membawa penyakit, mengandung cacing pita, atau hidup di lingkungan yang kotor. Namun, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, Prof. Zulys, menyebut alasan-alasan tersebut belum sepenuhnya dapat dijadikan penjelasan ilmiah yang kuat.

Dalam tayangan YouTube Shorts di kanal OeiRonaldWijaya, Prof. Zulys justru mengangkat pembahasan lain yang menarik perhatian, yakni kemiripan DNA dan sejumlah organ babi dengan manusia. Menurutnya, hal itu merupakan salah satu bahan kajian ilmiah yang dapat menjadi pemantik diskusi, bukan jawaban pasti mengenai alasan babi diharamkan dalam Islam.

Keharaman dalam Islam Tidak Selalu Bisa Dijelaskan oleh Sains

Baca Juga: MUI Ingatkan Hoaks dan Prank Pocong yang Resahkan Warga Hukumnya Haram

Prof. Zulys menjelaskan dalam Islam, setiap perintah dan larangan merupakan bagian dari sistem besar maqashid syariah, yaitu tujuan syariat untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Karena itu, sesuatu yang dihalalkan maupun diharamkan selalu memiliki hikmah, meski tidak semuanya dapat langsung dipahami melalui pendekatan ilmiah.

"Yang dihalalkan dan diharamkan selalu mengarah pada satu kebaikan, meskipun tidak selalu langsung bisa kita pahami," jelasnya.

Baca Juga: MUI Kaji Fatwa Gaji Wamen Rangkap Komisaris BUMN, Halal atau Haram?

Alasan Cacing Pita dan Lingkungan Kotor Dinilai Belum Memadai

Selama ini, keharaman babi sering dikaitkan dengan keberadaan cacing pita, bakteri patogen, hingga kebiasaannya hidup di lingkungan yang kotor.

Namun menurut Prof. Zulys, penjelasan tersebut belum cukup kuat jika dijadikan alasan utama dari sudut pandang ilmu pengetahuan.

Baca Juga: PMKRI Desak Evaluasi MBG, Klaim Makanan Berakhir Jadi Makanan Babi

Perkembangan teknologi modern memungkinkan bakteri dimusnahkan dan parasit dihilangkan melalui proses pengolahan tertentu. Selain itu, terdapat hewan lain yang juga hidup di lingkungan kurang bersih, tetapi tetap dihalalkan dalam Islam.

Karena itu, menurutnya, sains hingga kini belum memiliki jawaban yang benar-benar pasti mengenai hikmah di balik keharaman babi.

Riset Menunjukkan Kemiripan DNA dan Organ Babi dengan Manusia

Baca Juga: Link Nonton Film Pesta Babi Beredar, Ramai Dicari di Tengah Polemik Nobar

Salah satu pembahasan yang menarik perhatian adalah hasil sejumlah penelitian mengenai kedekatan biologis antara babi dan manusia.

Prof. Zulys menyebutkan beberapa riset menunjukkan DNA serta organ-organ tertentu, seperti jantung, ginjal, dan kulit babi, memiliki tingkat kemiripan yang tinggi dengan manusia.

Kemiripan inilah yang membuat organ babi menjadi salah satu objek penelitian dalam pengembangan teknologi xenotransplantasi, yakni pencangkokan organ dari hewan kepada manusia.

Baca Juga: Ratusan Warga Antusias Ikuti Nobar Film Dokumenter Pesta Babi di Mempawah

Dalam sejumlah uji coba, organ babi yang telah direkayasa secara genetika bahkan mampu mempertahankan fungsi kehidupan pasien selama sekitar dua bulan.

Menurut Prof. Zulys, fakta ilmiah tersebut menunjukkan bahwa secara biologis babi memang memiliki kedekatan tertentu dengan manusia.

Apakah Ini Berkaitan dengan Keharaman Babi?

Baca Juga: Habis Nonton Film Pesta Babi, Megawati Menangis dan Singgung Soal Sawit

Dari temuan tersebut, Prof. Zulys kemudian mengajukan sebuah pertanyaan ilmiah yang menurutnya masih terbuka untuk dikaji.

Jika suatu hari organ babi dapat digunakan secara luas sebagai pengganti organ manusia melalui rekayasa genetika, apakah memakan babi dapat dipandang mendekati konsep kanibalisme karena kedekatan biologisnya?

Ia menegaskan pertanyaan tersebut bukan merupakan kesimpulan ilmiah, melainkan pemantik diskusi untuk melihat bagaimana sains terus berkembang dalam memahami berbagai fenomena biologis.

Baca Juga: Jawab Isu “Pesta Babi” di Merauke, Mentan Amran Sebut Pemerintah Bangun Pesta Pangan

Hingga kini, belum ada penelitian yang menyimpulkan bahwa kemiripan DNA babi dengan manusia merupakan alasan ilmiah di balik keharaman babi dalam Islam.

Keimanan Tidak Bergantung pada Hasil Laboratorium

Prof. Zulys mengingatkan sains memiliki keterbatasan dalam menjelaskan seluruh hikmah syariat.

Baca Juga: MUI Imbau Masyarakat Kembalikan Barang Jarahan, Ingatkan Haram dan Melanggar Hukum

Ilmu pengetahuan dapat membantu manusia memahami ciptaan Allah Subhanahuwata’ala dan memperkuat keyakinan, tetapi bukan menjadi dasar utama dalam menjalankan ajaran agama.

Menurutnya, seorang muslim tetap menjalankan perintah Allah Subhanhuwata’ala karena iman, bukan karena menunggu seluruh hikmahnya terbukti melalui penelitian ilmiah.

"Kita taat karena yakin Allah Maha Mengetahui. Tidak perlu menunggu sains menemukan seluruh hikmahnya terlebih dahulu," ujarnya.

Baca Juga: Pria Kenaman, Sanggau Ditangakap Polsek Sekayam Terkait Barang Haram Narkotika

Wahyu Menjadi Dasar, Sains Terus Berkembang

Penjelasan Prof. Zulys menjadi pengingat bahwa dalil agama dan penelitian ilmiah memiliki ranah yang berbeda.

Keharaman babi telah ditegaskan secara jelas dalam Alquran. Sementara itu, berbagai penelitian mengenai DNA, organ, maupun aspek biologis babi masih terus berkembang dan belum dapat dijadikan dasar untuk menetapkan hikmah syariat secara pasti.

Baca Juga: Satpel PLBN Badau Gagalkan Peredaran Daging Babi Tanpa Dokumen, Musnahkan 24 Kg di Karantina Kalbar

Karena itu, umat Islam tidak perlu menggantungkan keyakinannya pada hasil penelitian yang dapat berubah seiring perkembangan ilmu pengetahuan. Bagi seorang muslim, wahyu tetap menjadi landasan utama, sedangkan sains menjadi sarana untuk semakin mengenal kebesaran ciptaan Allah Subhanahuwata’ala.

Editor : Silvina
Guru Besar UI mengapa babi haram dalam islam dna babi dsebut mirip manusia kajian sains prof zulys