PONTIANAK POST – Hukum sesajen dalam Islam kembali menjadi perhatian setelah banyak masyarakat mempertanyakan bagaimana seharusnya menyikapi tradisi tersebut. Menurut Ustaz Mujiman, sesajen merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam karena mengandung unsur mengagungkan selain Allah Subhanahuwata’ala. Namun, ia mengingatkan agar umat Islam mengedepankan dakwah dan edukasi sebelum bertindak terhadap praktik tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Ustaz Mujiman dalam tayangan di kanal YouTube Al-Hanabilah, saat menjawab pertanyaan mengenai hukum sesajen serta cara menyikapi masyarakat yang masih melakukannya.Dalam tayangan tersebut, pemillik kanal YouTube menyebut Ustaz Mujiman merupakan pendakwah dari organisasi Muhammadiyah.
Sesajen Tidak Diperbolehkan dalam Islam
Baca Juga: Ustaz Syafiq Riza Basalamah Jelaskan Hukum Sesajen dalam Islam, Bisa Masuk Syirik Besar
Ustaz Mujiman menegaskan Islam melarang praktik sesajen karena bertentangan dengan akidah tauhid. Menurutnya, hanya Allah Subhanahuwat’ala yang berhak disembah dan diagungkan.
Ia menjelaskan Allah tidak membutuhkan makanan, minuman, maupun persembahan apa pun dari manusia. Sebaliknya, manusialah yang sepenuhnya bergantung kepada Allah Subhanahuwata’ala.
"Allah hanya berhak diibadahi. Kita yang membutuhkan Allah, bukan Allah yang membutuhkan kita," jelasnya.
Baca Juga: Apa Itu Syirik? Begini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Ajaran Islam
Karena itu, memberikan sesajen kepada selain Allah dipandang sebagai bentuk pengagungan yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.
Dakwah Didahulukan Sebelum Mencegah Kemungkaran
Meski demikian, Ustaz Mujiman mengingatkan agar umat Islam tidak terburu-buru merusak sesajen atau simbol yang berkaitan dengan praktik tersebut apabila masyarakat belum memahami bahwa perbuatan itu termasuk kemungkaran.
Baca Juga: Waspada Syirik, Dosa Besar Paling Besar yang Menghapus Amal
Menurutnya, dakwah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam memberikan teladan penting tentang cara mengubah masyarakat.
Ia mencontohkan ketika Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam masih berada di Makkah, Ka'bah dipenuhi ratusan berhala. Namun, selama masa dakwah di sana, Nabi tidak langsung menghancurkan berhala-berhala tersebut.
Hal itu dilakukan karena masyarakat saat itu belum memahami ajaran tauhid secara utuh.
"Yang dilakukan Nabi adalah memberikan pemahaman terlebih dahulu. Setelah masyarakat memahami mana yang benar dan mana yang salah, perubahan itu terjadi dari masyarakat sendiri," ujar Ustaz Mujiman.
Ia membandingkan metode dakwah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang memiliki kondisi dan situasi berbeda.
Menurutnya, metode dakwah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam lebih mengedepankan pendidikan akidah agar masyarakat memahami alasan di balik larangan syirik.
Syirik Mengundang Murka Allah
Ustaz Mujiman juga menjelaskan syirik merupakan dosa besar yang mengundang kemurkaan Allah Subhanahuwata’ala.
Ia mengutip makna firman Allah bahwa dosa syirik tidak akan diampuni apabila seseorang meninggal dunia tanpa bertaubat. Menurutnya, murka Allah terhadap pelaku syirik dapat dirasakan di dunia maupun di akhirat.
Baca Juga: Membaca Yasin di Malam Jumat, Benarkah Diampuni Dosa? Simak Kajian Muhammadiyah
Karena itu, umat Islam diimbau menjauhi segala bentuk perbuatan yang mengarah kepada pengagungan selain Allah, termasuk praktik yang melibatkan sesajen maupun keyakinan kepada selain-Nya.
Tidak Boleh Bergantung kepada Selain Allah
Ustaz Mujiman menegaskan bahwa akidah Islam mengajarkan setiap Muslim hanya bergantung, bertawakal, dan beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Baca Juga: Menyambut Tahun Baru Hijriah, Ini Amalan yang Dinilai Keliru oleh Ulama
Ia juga mengingatkan agar tidak menjalin kerja sama atau meminta pertolongan kepada bangsa jin dalam bentuk apa pun karena bertentangan dengan ajaran Alquran.
Menurutnya, seluruh bentuk ibadah dan permohonan pertolongan harus ditujukan hanya kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Amar Makruf Nahi Mungkar Harus Disertai Ilmu
Baca Juga: Ini Tujuh Amalan Berpahala Seperti Ibadah Haji yang Bisa Dilakukan Setiap Hari
Di akhir penjelasannya, Ustaz Mujiman mengingatkan amar makruf nahi mungkar harus dilakukan dengan ilmudan hikmah.
Ia menegaskan seseorang hendaknya terlebih dahulu diberi pengetahuan mengenai mana yang merupakan kebaikan dan mana yang termasuk kemungkaran.
Apabila masyarakat belum memahami suatu perbuatan sebagai kemungkaran, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memberikan edukasi dan penjelasan. Tidak langsung melakukan tindakan yang berpotensi menimbulkan mudarat lebih besar.
Baca Juga: Rajin Baca Alquran Bisa Mengubah Hidup, Ustaz Adi Hidayat Ungkap Rahasianya
"Beritahu dahulu kalau itu baik, baru ajak melakukannya. Beritahu dahulu kalau itu mungkar, baru cegah dari kemungkaran," tutup Ustaz Mujiman.
Wallahua'lam bishawab
Editor : Silvina