PONTIANAK POST - Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW masih menjadi pembahasan di tengah umat Islam, terutama terkait anggapan bahwa peringatan tersebut merupakan bid’ah.
Gus Baha menjelaskan bahwa Maulid dapat dipahami sebagai bagian dari upaya mengingat kembali sejarah, keteladanan, dan perjuangan Rasulullah SAW.
Menurut Gus Baha, pembahasan mengenai Maulid tidak bisa dilepaskan dari kisah umat Islam dalam mengenang sosok Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Rahasia di Balik Perintah Membaca Salawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihiwasallam
Ia menjelaskan bahwa semangat umat Islam dapat kembali tumbuh ketika kisah dan keteladanan Rasulullah dibicarakan.
Maulid dan Kisah Nabi Muhammad
Dalam pemaparan, Gus Baha mengaitkan sejarah Maulid dengan masa ketika umat Islam menghadapi situasi sulit setelah Palestina dikuasai Romawi.
Salahudin al-Ayyubi disebut berupaya membangkitkan kembali semangat umat Islam.
Salah satu cara yang dilakukan adalah mengingatkan umat terhadap sosok Nabi Muhammad SAW melalui pembacaan biografi dan perjalanan hidup beliau.
Baca Juga: Maulid Nabi dan Silaturahmi Akbar KAHMI: Pertegas Komitmen Keummatan dan Kebangsaan
Dari kisah tersebut, Maulid kemudian dipahami sebagai momentum untuk mengenang Rasulullah, termasuk sifat welas asih, kesabaran, serta sikap beliau yang tidak pendendam ketika menghadapi orang yang menyakitinya.
Bukan Sekadar Ramai-Ramai
Gus Baha juga menyoroti pelaksanaan Maulid pada masa sekarang. Menurutnya, ada bagian yang perlu diperhatikan, yakni penghayatan terhadap kisah Nabi.
Ia menggambarkan bagaimana para habaib dan ulama terdahulu ketika membaca riwayat Rasulullah dapat begitu larut dalam penghayatan hingga menitikkan air mata.
Maulid, menurut pemaparan tersebut, tidak berhenti pada kegiatan berkumpul, tetapi berisi riwayat dan kisah Nabi Muhammad SAW yang dapat mengingatkan umat terhadap keimanan dan keteladanan beliau.
Baca Juga: Gus Baha Ungkap Bahagia Tak Harus Jadi Pejabat atau Kaya, Ini Makna Sebenarnya
Bagaimana Bisa Disebut Bid’ah?
Gus Baha kemudian menyoroti anggapan yang menyebut pembacaan Maulid sebagai bid’ah.
“Bagaimana mungkin membaca tarikh seperti itu dikatakan bid’ah? Seandainya paham (maulid), bisa menangis dia. Mau membid’ahkan bagaimana?” ungkapnya dikutip dari Islami.co.
Ia juga menjelaskan bahwa kisah kehidupan Rasulullah menunjukkan orientasi dakwah yang mengajak manusia beribadah kepada Allah SWT.
Menurut Gus Baha, salah satu hal yang dapat direnungkan dari kehidupan Rasulullah adalah ajakan untuk mendirikan salat.
Hal tersebut, dalam penjelasannya, menunjukkan bahwa dakwah Nabi berorientasi pada penghambaan kepada Allah, bukan kepentingan duniawi.
Dengan demikian, Gus Baha memandang Maulid sebagai momentum untuk membaca kembali tarikh Rasulullah SAW, memahami keteladanannya, dan menghayati perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW.
Editor : Khoiril Arif Ya'qob