Hadapi Tsunami Informasi di Era Digital, Inilah Pentingnya Tabayyun Dalam Ajaran Islam

Miftahul Khair • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 16:40 WIB
Ilustrasi seorang pria membaca berita di media sosial. (MAGNIFIC)
Ilustrasi seorang pria membaca berita di media sosial. (MAGNIFIC)

PONTIANAK POST - Di tengah perkembangan teknologi yang kian masif, berbagai bentuk informasi sangat mudah tersebar melalui media digital. Namun demikian, dari banyaknya informasi yang tersebar, beberapa di antaranya terkadang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Informasi yang belum jelas kebenaran dan sumbernya sangat berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, apalagi jika disebarkan secara masif seperti pesan berantai. Di tengah maraknya penyebaran informasi yang tidak valid, Islam telah mengajarkan umatnya untuk senantiasa melakukan Tabayyun.

Bagaimana konsep Tabayyun yang difirmankan Allah SWT kepada Rasulullah SAW 1400 tahun yang lalu, bisa sangat relevan di era digital sekarang? Simak penjelasan di bawah ini.

Baca Juga: Amalan Ringan Ini Sering Terlupakan, Padahal Bisa Menghapus Dosa dan Mengangkat Derajat

Memastikan Kebenaran Informasi

Dalam Al Qur'an Surah Al Hujurat ayat 6, Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.

Ayat tersebut menjelaskan mengenai perintah untuk bersikap teliti jika ada seseorang yang fasik menyampaikan suatu kabar.

Dilansir dari almanhaj.id, Syekh Abdul Azhim Al Badawi, seorang Cendikiawan Muslim Mesir, menjelaskan dalam ayat ini, Allah SWT memberitahukan, bahwa orang-orang fasik itu pada dasarnya (jika berbicara) dia dusta, akan tetapi kadang ia juga benar.

Baca Juga: Jangan Tunda Qadha Puasa sampai Ramadan Berikutnya, Ini Hukum dan Konsekuensinya

Karenanya, berita yang disampaikan tidak boleh diterima dan juga tidak ditolak begitu saja, kecuali setelah diteliti. Jika benar sesuai dengan bukti, maka diterima dan jika tidak, maka ditolak.

Oleh karena itu, QS. Al-Hujurat ayat 6 memerintahkan umat Islam untuk bersikap teliti atau melakukan tabayyun ketika menerima suatu informasi yang belum jelas kebenarannya agar tidak mengambil keputusan berdasarkan informasi yang keliru.

Menghindari Kesalahpahaman

Di era tsunami informasi saat ini, begitu banyak informasi seakan tak terbendung derasnya. Di antara arus informasi tersebut, banyak informasi keliru yang lolos dan menjadi konsumsi publik.

Mengutip artikel yang dimuat dalam blog pribadi wartawan senior Andreas Harsono, andreasharsono.net, Bill Keller, seorang wartawan Amerika, memaknai istilah tsunami informasi sebagai pasokan informasi yang meluap, masyarakat menjadi kesulitan untuk menyaring mana yang masuk akal, mana propaganda, mana tipu-tipu, dan lain sebagainya

Pertikaian antar warga, perselisihan antar umat beragama, dan banyak dampak negatif lainnya dapat terjadi akibat kesalahpahaman yang dipicu oleh peredaran informasi keliru di masyarakat.

Baca Juga: Tak Puasa Ramadan karena Tidak Tahu Hukumnya Wajib, Apakah Tetap Harus Qadha? Ini Jawabannya

Disinilah pentingnya sikap tabayyun diterapkan untuk menghindari kesalahpahaman yang akan terjadi jika mengkonsumsi berita yang tidak jelas sumbernya dan belum terbukti kebenarannya.

Berhati-hati Sebelum Menyebarkan Berita

Sebelum menyebarkan sebuah berita, penting untuk memastikan informasi tersebut benar dan berasal dari sumber yang dapat dipercaya. Sikap berhati-hati dapat membantu mencegah penyebaran informasi keliru yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Sebagaimana dalam sebuah tafsir yang dikutip melalui laman NU Online mengenai Q.S. Al Hujurat Ayat 6 di atas, juga dijelaskan bahwa perlunya kehati-hatian dalam menerima berita .

Berhati-hati dalam menerima sebuah berita memiliki peran untuk menghindarkan kita dari penyesalan akibat berita yang tidak diteliti atau berita bohong. Ayat tersebut memberikan pedoman bagi sekalian kaum mukmin supaya berhati-hati dalam menerima berita, terutama jika bersumber dari seorang yang fasik.

Baca Juga: Tak Puasa Ramadan Bertahun-tahun Lalu Bertaubat, Masih Wajib Qadha? Ini Jawabannya

Baca, Pahami, dan Bandingkan dengan Sumber Lainnya

Dalam menghadapi berbagai bentuk informasi, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan sebelum menyebarluaskan informasi tersebut untuk mengetahui apakah informasi  tersebut benar atau salah.

Pertama, kita perlu melihat dan membaca secara utuh isi dari informasi tersebut. Informasi yang meragukan biasanya terdapat ketidaksesuaian judul dengan isi (clickbait) hanya untuk memancing pembaca.

Kedua, pahami isi informasi dengan memperhatikan konteks, sumber, waktu kejadian, serta pihak yang menyampaikan informasi tersebut. Hal ini penting agar kita tidak salah memahami informasi hanya berdasarkan judul atau potongan informasi.

Ketiga, bandingkan informasi tersebut dengan sumber lain yang kredibel. Jika informasi serupa diberitakan oleh beberapa sumber terpercaya dan memiliki fakta yang konsisten, kebenaran informasi tersebut dapat lebih mudah diperiksa.

Tabayyun pada akhirnya bukan hanya berkaitan dengan berita besar, tetapi juga informasi yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di media sosial.

Oleh karena itu, kebiasaan memeriksa sumber dan kebenaran informasi sebelum mempercayai atau membagikannya menjadi bagian penting dalam menerapkan prinsip tersebut.

Wallahu a’lam bishawab. (fhn/mgg)

Editor : Miftahul Khair
tabayyun tsunami informasi surah al hujurat media sosial Era Digital