Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

CEK FAKTA: [Prebunking] Hal yang Dilakukan Agar Tidak Terjebak Konten Hoaks di Tahun Politik

Syahriani Siregar • Kamis, 9 Mei 2024 | 19:54 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi.
KONTEN hoaks saat tahun politik rawan terjadi mengingat sentimen menjadi salah satu hal yang diangkat.

Seperti video Soeharto sebut demokrasi Indonesia rusak yang ternyata merupakan hasil rekayasa Artificial Intelligence (AI).

Serupa dengan pengalaman pemilu 2019, pada tahun 2024 ini banyak hoaks menyebar di berbagai platform media sosial, seperti merujuk cekfakta.com.

Volume penyebaran berita ataupun informasi hoaks meningkat drastis selama masa Pemilihan Umum 2024.

Bahkan, jumlahnya meningkat pesat dalam lima tahun terakhir, terutama dibandingkan pemilu sebelumnya pada 2019.

Fenomena itu tidak terlepas dari perkembangan teknologi informasi di sejumlah layanan digital.

Agar tidak lebih masif di masa mendatang, butuh kolaborasi dari segenap pihak untuk meningatkan literasi digital masyarakat.

Demikian mengemuka dalam diskusi bertema ”Temuan dan Tantangan Menghadapi Manipulasi Informasi pada Pemilu 2024” pada pembukaan ”Indonesia Fact Checking Summit 2024” di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (2/5/2024).

Acara itu menjadi bagian dari rangkaian Kongres XII Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Palembang selama 3-5 Mei 2024.

Ketua Presidium Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho mengatakan, dari data yang dikumpulkan Mafindo, penyebaran berita hoaks terus meningkat selama 2018-2023.

Baca Juga: CEK FAKTA: [Hoaks] Kecurangan Pemilu, Data KPU 2024 Ternyata Sudah Jadi

Penyebaran berita hoaks erat kaitannya dengan isu politik. Maka itu, persentase berita hoaks terkait politik meningkat saat memasuki tahun politik, seperti pemilu.

Setidaknya, Mafindo menemukan 997 berita hoaks dengan 48,9 persen terkait politik pada 2018.

Memasuki 2019, berita hoaks yang ditemukan meningkat menjadi 1.221 berita dengan 52,7 persen terkait politik.

Pada 2020, berita hoaks yang ditemukan kembali meningkat menjadi 2.298 berita, tetapi terkait politik turun menjadi 30,5 persen.

Berita hoaks yang ditemukan menurun menjadi 1.888 berita dengan 22,7 persen terkait politik pada 2021 dan 1.698 berita dengan 32,3 persen terkait politik pada 2022.

Namun, pada 2023, temuan itu kembali meningkat menjadi 2.330 berita hoaks dengan 55,5 persen terkait politik pada 2023.

"Secara volume, jumlah berita hoaks pada 2024 memang lebih besar dibandingkan pada 2019. Tetapi, secara dampak, berita hoaks pada 2019 telah memperparah polarisasi (pembelahan) di masyarakat. Terlepas dari itu, fenomena berita hoaks berdampak buruk terhadap masyarakat," ucap Septiaji.

Baca Juga: CEK FAKTA: [Hoaks] Google Hentikan Layanan Gmail

Publik masih ingat dengan kasus Ratna Sarumpaet, yang disebut jadi korban penganiayaan, kasus ini berawal dari unggahan Swary Utami Dewi di media sosial Facebook.

Unggahan Disertai tangkapan layar berasal dari aplikasi pesan WhatsApp pada 2 Oktober 2018.

Unggahan Ratna Sarumpaet itu kemudian direspon oleh sejumlah tokoh, diantaranya Fadli Zon, bahkan hingga calon presiden 2019 Prabowo Subianto.

Setelah ditelusuri pihak kepolisian ternyata klaim Ratna Sarumpaet termasuk hoaks.

Contoh kasus hoaks pada tahun 2024 yang menghebohkan adalah beredar di media sosial postingan yang mengklaim hasil penghitungan suara di Malaysia dan Taiwan telah selesai dilakukan. Postingan itu beredar sejak sebelum Pemilu 2024.

Salah satu akun ada yang mengunggahnya di Facebook. Akun itu mempostingnya pada 8 Februari 2024.

Dalam postingannya terdapat narasi sebagai berikut:

"Taiwan 01 mendapat 5,46% suara, 02 mendapat 88,6% suara, 03 mendapat 3,64% suara. Malaysia 01 mendapat 7,2% suara, 02 mendapat 83,3% suara 03 mendapat 9,5% suara. Di Taiwan and Malaysia Anda sudah menang jendral."

 

Di tahun politik, selalu waspada dengan beragam informasi yang didapatkan di media sosial, apalagi yang tidak jelas sumbernya.

Adapun taktik penyebaran hoaks terkait politik biasanya dilakukan melalui platform media sosial dan disebarkan oleh akun anonymous, narasi yang digunakan cenderung provokatif atau kadang menyudutkan sosok atau kelompok tertentu.

Lalu bagaimana agar kita tidak mudah termakan hoaks?

Pertama, selalu bersikap skeptis alias tidak mudah percaya jika menerima informasi, terutama dari sumber yang tidak jelas.

Jika info tersebut dari medsos, pastikan akun yang membagikan bukan akun anonym, cek dan ricek profil penyebar informasi tersebut.

Kedua, kita juga bisa menggunakan sejumlah tools dari berbagai platform, untuk mencari kebenaran informasi, bisa melalui Google Image ataun Line, penyaringan jenis informasi, hingga rentang waktu postingan.

Jika tidak ada di google kita bisa menggunakan Yandex, metodenya juga hampir sama.

Ketiga, cara ini mungkin paling sederhana, yaitu mencari apakah informasi tersebut juga disampaikan oleh media maenstrim yang kredibel, bisa searching di Google, jika tidak maka patut diragukan kebenarannya.

Keempat, lakukan pengecekan di kanal-kanal cek fakta, seperti cekfakta.com atau turnbackhoax.id.

Mari menjadi masyarakat cerdas dengan selalu mengecek kebenaran informasi agar tidak termakan hoaks! (sya)

Editor : Syahriani Siregar
#mafindo #Prebunking #hoaks #cek fakta #tahun politik