Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tamu yang Tak Mau Menyebut Nama

Super_Admin • Minggu, 20 Desember 2020 | 09:58 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi
Oleh: E. Widiantoro

 

AKU Hasan, tinggal di Dusun Ujung Tanjung Nipah, di rumah bapak yang pindah ke Ketapang lima tahun silam. Belakangan, aku dekat dengan seseorang sebaya bapak, namanya Pak Rosidi. Karena sebaya bapak, tentu usianya jauh di atasku. Selisih dua puluh tujuh tahun.

Aku senang bertemu Pak Rosidi, seorang pendatang di Tanjung Nipah kira-kira baru tujuh bulan. Ia ramah. Taat beribadah. Selalu salat lima waktu berjemaah di masjid. Wawasannya  luas, bisa diajak bicara apa saja. Soal politik, terutama. Ia suka politik. Katanya politik sekarang telah dikuasai sistem oligarki. Politik dinasti. Ketika sang bapak telah berhasil menduduki satu jabatan publik, misalnya jadi gubernur, ramai-ramai keluarga yang lain melakukan hal sama, terjun ke dunia politik.

Setelah pemilu secara langsung di satu daerah bisa saja bapak terpilih sebagai gubernur, ibu jadi bupati,  anak anggota dewan provinsi, adik kandung wakil bupati, keponakan wakil wali kota dan paman anggota dewan kabupaten. Belum lagi jika ada keluarga, entah sepupu, mertua atau menantu yang menjadi pejabat partai. Punya pengaruh kuat, sanggup melakukan lobi-lobi dan deal politik untuk mendapatkan proyek yang dananya berasal dari anggaran negara. Pak Rosidi bicara keras; ini namanya nepotisme. Praktiknya lebih parah dibanding zaman orde baru dulu.

Pernah setelah Isya kami ngobrol di rumah, Pak Rosidi menyinggung perihal kehidupan. Katanya,  apa yang kita cari dalam hidup ini, Hasan? Harta benda, pangkat dan jabatan pada saatnya akan kita tinggalkan. Perbanyak saja amal kebajikan, selalu mengerjakan sesuatu yang disukai  Allah  sehingga bisa menjadi bekal ketika kelak benar-benar menghadap-Nya.

Tanda manusia bersyukur ya begitu. Selalu menggunakan semua yang telah Allah berikan berupa akal, hati, panca indra, bakat dan keterampilan,  harta benda, pangkat dan jabatan, apa saja untuk berbuat kebajikan semata karena Allah sehingga bernilai ibadah. Tanda syukur tak sekadar ucapan alhamdulillah yang terlontar dari mulut tetapi lebih dari itu, harus dibuktikan dengan selalu beramal saleh tanpa mengeluh, tak henti memaksa diri berbuat taat, konsisten berada di jalan hidup yang lurus. Tak menca-mencle.

Hidup itu pilihan. Tentukan yang terbaik sesuai kehendak Allah dan Rasul-Nya dan bersiaplah menerima akibatnya. Ketika kita telah berkomitmen, mantap memilih jalan ketaatan lalu mengalami ujian dan cobaan, ditimpa musibah, yakinlah begitu cara Allah men-tarbiyah atau mendidik kita, membimbing kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Ngobrol  terakhir, Pak Rosidi lagi-lagi berpesan agar aku selalu bersyukur dengan semua nikmat Allah yang telah kuterima. Sangat banyak. Tak bisa aku menghitungnya dan gratis! Suara Pak Rosidi kudengar bergetar; “Hasan, sebanyak apa harta yang kita punya tak akan pernah bisa membeli fasilitas yang telah Allah berikan secara cuma-cuma di muka bumi ini, apalagi jika ternyata kita memang benar-benar melarat!”

Ia lantas bercerita tentang Antonio Veiera Monteiro seorang milyarder presiden direktur Santander Bank Portugal yang meninggal dunia karena Covid-19 setelah pulang dari kunjungan di Italia. Perihal kematian itu, putrinya menulis di media sosial; “Kami keluarga kaya raya. Ayahku meninggal seorang diri, sulit bernapas seperti tercekik karena mencari sesuatu yang gratis dan tanpa biaya yaitu udara sedangkan harta yang dikumpulkan ternyata tidak bisa membantunya bahkan ditinggalkannya begitu saja.” Ia tahu cerita itu dari unggahan satu akun yang ia follow di Instagram. Aku mengangguk pelan merenungi cerita Pak Rosidi dan membenarkannya dalam hati. Ah, jadi tahu aku, Pak Rosidi ternyata aktif juga di media sosial.

Begitulah aku dan Pak Rosidi biasa duduk ngobrol di selasar masjid setelah salat Magrib menunggu tiba waktu salat Isya. Jika tak di masjid, Pak Rosidi yang datang ke rumah. Kami jadi makin akrab. Ia telah kuanggap seperti  bapak sendiri. Sebelum di Tanjung Nipah, Pak Rosidi mengaku tinggal di Jawa. Di kota mana atau di daerah mana pastinya, Pak Rosidi tak mau terbuka, ia tak pernah cerita. Pun bagaimana keadaannya dulu, di mana anak dan istrinya, Pak Rosidi tak mau cerita.

Datang ke Tanjung Nipah, Pak Rosidi berdagang batik. Di rumah milik kepala kampung yang disewanya, entah ada berapa lusin kain bahan batik dan kemeja batik beragam corak yang bagus, kualitas bagus, harga pun murah. Aku membeli tiga lembar kemeja batik dari Pak Rosidi, satu lengan pendek, dua lengan panjang. Bisalah kupakai untuk pergi menghadiri undangan resepsi pernikahan atau acara yang lain.

Akhir bulan kemarin aku kedatangan tamu, seorang lelaki mengaku dari Jakarta ingin bertemu Pak Rosidi. Ada masalah penting, katanya. Aku sontak heran. Masalah sepenting apa dari orang tua berambut putih gondrong seleher yang biasa mengenakan blangkon, kumis dan janggutnya telah memutih pula, pedagang batik dari Jawa dan hidup sebatang kara tanpa seorang pun keluarga? Tamu yang gagah itu tak mau memberi tahu. Ketika ia bertanya lagi ke mana Pak Rosidi, aku yang baru pulang dari masjid setelah salat Isya menggeleng saja. Aku tak tahu.

Sejak obrolan terakhir, dua hari sebelum ada tamu yangdatang mencari,  Pak Rosidi memang tak kulihat di rumah sewa milik kepala kampung. Tak ada baju-baju batik barang dagangannya dipajang di beranda. Pun tak  tampak batang hidungnya salat berjemaah di masjid seperti biasa. Ke mana Pak Rosidi?

Kutanya orang-orang, tetangga kiri-kanan mungkin mereka tahu ke mana Pak Rosidi. Apakah diam-diam telah pulang ke Jawa? Ada apa dengan lelaki tua itu? Kenapa ia pergi tanpa pamit. Tak ada tetangga yang tahu ia ke mana. Sama seperti aku, mereka pun terakhir kali bertemu Pak Rosadi akhir bulan kemarin.

Tamu yang mencari Pak Rosidi masih di rumahku. Duduk tenang di beranda. Merokok. Ngopi. Istriku yang menyajikan secangkir kopi sejak mula ia datang. Sesekali ia membuka ponsel. Mungkin membaca pesan WhatsApp. Mungkin membuka aplikasi media sosial. Mungkin pula sedang membaca media online. Aku tak tahu.

Tamu itu sepertinya pendiam. Tak banyak bicara. Kalaupun bicara, cuma sesekali bertanya tentang Pak Rosidi. Di mana aku mengenalnya. Pak Rosidi itu, menurutku bagaimana. Semua pertanyaan kujawab saja apa adanya. Sering benar ia bertanya tentang Pak Rosidi, lama-lama aku jadi curiga lelaki ini siapa. Ada urusan apa ia mencari Pak Rosidi. Jangan-jangan...!

Aku mulai menduga-duga. Pak Rosidi sang pedagang batik itu semula pasti butuh uang untuk modal. Uang itu ia dapatkan dari tamu yang mencarinya sekarang. Uang pinjaman. Jumlahnya lumayan. Ratusan juta. Ya, ini soal utang-piutang. Ia datang mencari Pak Rosidi karena hendak menagih utang. Pak Rosidi yang belum punya uang cukup untuk membayar utang lantas lari sembunyi entah di mana. Mungkin begitu. Kukira begitu. Mungkin...!

Kupandangi tamu yang tak mau menyebut nama menyulut sebatang rokok filter. Asap putih mengepul sejenak menutupi wajahnya lantas lenyap tersapu angin. Tiba-tiba ia berujar ingin menginap di rumahku. O, tidak! Aku langsung menolak keras. Tak bisa. Tak boleh. Aku tak mau. Apa kata orang nanti jika tahu aku menerima lelaki asing yang tak pernah kukenal sebelumnya menginap di rumah padahal aku hanya tinggal berdua dengan istri.

Aku menggeleng. Lelaki tamuku itu membujuk. Satu kamar bisa ia sewa, sehari  lima ratus ribu. Aku tak mau. Memang ada dua kamar kosong di rumah tetapi itu bukan untuk disewakan. Rumahku bukan tempat penginapan. Kusarankan ia bertemu kepala kampung, silakan menginap saja di rumah yang telah disewa Pak Rosidi. Toh rumah itu kosong. Tak ada lagi Pak Rosidi yang menempati.

Lelaki itu mengangguk setuju, mau mendengar saranku. Pamitlah ia dari rumahku hendak pergi menemui kepala kampung. Setelah itu aku tak melihatnya lagi, kira-kira lima hari.

Sabtu pagi, aku telah berada di atas sepeda motor bebek hitam lawas,  siap berangkat ke tempat kerja di Pontianak ketika ia yang sebaya denganku, rambutnya hitam pendek selalu disisir rapi datang lagi dengan sebuah mobil bagus, tersenyum ramah.

Aku turun dari sepeda motor, membuka helmet menyilakannya masuk rumah, duduk di ruang tamu. Ia menolak. Ingin ngobrol di beranda, sebentar saja. Kuminta istriku membuat secangkir kopi untuk sang tamu.Setelah tersaji di meja, ia cecap air kopi masih panas. Berkali-kali meminta maaf telah datang pagi-pagi. Tak sopan katanya, terlalu mengganggu dan menyita waktuku yang hendak berangkat kerja. Ia merasa tak banyak waktu lagi di Tanjung Nipah, harus segera terbang ke Jakarta melalui Supadio Internasional Airport di Kubu Raya jarak tempuhnya dari sini pake mobil hampir satu jam.  Dengan waktu singkat begitu ia masih menyempatkan diri menemuiku, membawa kabar tentang Pak Rosidi. Dahiku sontak berkerut. Lelaki tua itu, apa kabarnya, di mana ia berada.

Tamu berwajah oval tanpa janggut dan kumis itu mengaku tak sengaja bertemu Pak Rosidi dalam keadaan sakit, sedang dirawat di rumah kepala kampung selama lima hari. Setelah sembuh, ia langsung diterbangkan ke Jakarta dan ditahan.

“Ditahan?!” tanyaku terkejut.

“Ya,” jawab lelaki itu singkat, menyecap lagi air kopi masih panas.

“Untuk kasus apa? Utang piutang?” dugaku asal saja.

“Bukan,”

“Lalu apa?”

“Korupsi!”

Haahhh?!” Aku tersentak lagi. Lelaki tamuku itu lantas membuka cerita tentang Pak Rosidi yang sebenarnya.

Kemarin di rumah kepala kampung, Pak Rosidi tak bisa menghindar. Penyamarannya telah terbongkar. Ia bukan pedagang batik seperti yang selama ini kukenal melainkan seorang bupati di Jawa yang terlibat korupsi tujuh tahun silam. Tak tanggung-tanggung. Karena ulahnya menyelewengkan biaya perjalanan dinas untuk memperkaya diri sendiri selama lima tahun menjabat, negara dirugikan sampai sebelas milyar rupiah. Dalam proses penyidikan, ia melarikan diri kabur ke Kalimantan, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain sampai akhirnya tinggal di Tanjung Nipah. Aparat intelijen berhasil mengendus keberadaannya. Sekarang, lelaki tamuku itu lega. Tugasnya memimpin lima orang dalam satu tim yang harus menangkap Pak Rosidi sebagai buron kasus korupsi telah selesai. Ia pamit, harus kembali ke Jakarta melanjutkan proses penyidikan kasus yang menjerat Pak Rosidi di gedung Komisi Anti Korupsi.

Setelah tamu itu benar-benar pamit pulang, aku tertegun. Kuingat Pak Rosidi sepenuhnya, pun dengan semua obrolan ketika kami nongkrong di rumah, di selasar masjid Tanjung Nipah. Kutarik napas panjang, menghembuskan perlahan. Aku menggelengkan kepala dan istigfar! (*)

 

Kalimas, 3 September 2020 Editor : Super_Admin
#Cerpen