Oleh: Chep Ahmad
Panas bedengkang ini telah meluluh lantakkan semangatnya. Peluh bercucuran seperti air terjun dari dahi dan pelipis pipinya. Dia benar-benar kehausan sekarang.
Entah kenapa hari ini matahari begitu terik menyengat. Padahal ini masih bulan Oktober, masih musim penghujan. Justru inilah bulan basah di Pontianak, curah hujan sedang tinggi-tingginya. Mestinya cuaca teduh sepanjang hari.
Arman menyeka wajahnya yang penuh peluh. Sambil membungkuk dia memegang dada kirinya, nafasnya sedikit memburu. Dia menarik nafas lagi dalam-dalam, mencoba mengendalikan kembali dirinya yang tersengal-sengal. Namun dia tak kuat lagi berlari.
“Sudahlah, kuakhiri saja sampai di sini”
Kemudian dia pandangi langit yang terik menyilaukan. Masih penasaran dia. Telapak tangan kirinya disilangkan melindungi mata dari silau. Di hadapannya berdiri kokoh tembok penghalang yang menghentikan laju larinya.
Biasanya dia mampu melompati tembok pembatas antarkomplek perumahan, lalu naik dari atap ke atap rumah-rumah tersebut. Berkejaran dengan teman-temannya membawa penyauk layangan.
Hanya Pol-PP yang mampu menghentikan langkahnya. Namun kali ini dia benar-benar tak kuat. Dia ikhlaskan layangan putus itu lolos dari tangkapannya, terus meluncur menunjam dan kemudian terjerembab di semak-semak komplek sebelah. Sejurus kemudian layangan itu sudah berada dalam tangkapan tangan Maman, saingannya.
“Maan! Oo Maman! Kau kah yang dapat tuh?”
“Ye!”
Terdengar suara bersautan di komplek sebelah. Dan aksi pengejaran hari itu pun berakhir.
***
Emak baru saja pulang dari pasar. Belanja kebutuhan dapur hari itu. Bapak hari ini minta dibuatkan asam pedas.
Bagi yang tidak tahu, belanja di pasar itu bukan pekerjaan mudah, ini pekerjaan yang membutuhkan banyak effort. Hanya emak-emak yang mampu melakukan pekerjaan ini dengan sempurna, the power of emak-emak!
Di pasar Emak memainkan talentanya sebagai negosiator tak terkalahkan, tawar menawar sampai titik harga yang terendah. Kadang-kadang Emak menjadi ‘preman’ jika penjual main curang. Sementara anak dan suaminya di rumah,yang menikmati hasilnya.
Biasanya Emak memakai ikan Manyong. Tapi terlalu siang Emak pergi ke pasar, kios-kios sudah banyak tutup. Ikan pun sudah banyak habis.
Pasar rakyat dekat rumah Emak di Tanray memang tidak terlalu besar, pedagang yang berjualan pun tidak seramai di Pasar Flamboyan. Tapi pembeli ramai. Siang sedikit semua sudah ranap.
“Par, masih ade ke ikan Manyong kau tuh?” Emak menyapa bang Gopar, penjual ikan langganannya.
“Habis dah Mak, tak ade agik dah,” jawab Gopar
“Waduh, sikitnye kau jualan tuh Par,” Emak menimpali
“Mak mau bikin ape?” Gopar tanya kembali
“Asam pedas, pak long kau minta bikin kan,” jawab Emak.
Emak masih penuh harap, semoga Gopar bisa memberi solusi. Memang Gopar pandai sekali mengikat pelanggannya. Dia selalu berusaha tidak mengecewakan pelanggannya.
“Pakai Paten jak Mak, nyaman pula itu,” Gopar meyakinkan. Kemarin istrinya juga memasakkannya asam pedas memakai ikan patin, rasanyapun tidak gagal, lemak lah! Jelasnya kepada Mak.
“Okelah Par, dua kelo. Siangkan ye!” Pinta Emak. Gopar mengangguk dan segera menyiapkan pesanan Emak.
Kali ini Emak membawa ikan patin ke rumah. Di dapur segera ia mengeksekusinya. mengolahnya menjadi Patin asam pedas.
Arman pulang, masih kesal dia. Layangan putus tak bisa dia bawa pulang. Tanpa ketok pintu dan salam langsung masuk rumah. Melewati Bapak yang tengah berbaring di ruang tengah. Lalu menuju meja makan dan membuka tudung saji.
Setengah membanting, dia menutup kembali tudung saji itu dengan kesal. Huh! Belum ada apa-apa tersaji.
Dia masuk ke kamarnya. Melewati ayahnya kembali tanpa tegur sapa. Hubungan mereka memang sudah lama tidak baik, apalagi semenjak dua tahun belakangan Bapak kembali kerumah.
Sepertinya dia belum bisa memaafkan ayahnya. Dan inilah karma yang harus diterima Bapak.
Sewaktu masih sehat Bapak meninggalkan Arman dan ibunya berjuang menyambung hidup tanpa perhatian sedikitpun darinya.
Kini Bapak sakit-sakitan. Penyakit telah menenggelamkan kegagahan masa jayanya. Seminggu sekali harus cuci darah. Emaklah yang menanggung biayanya, mengurus dan merawatnya setiap hari. Emak terlalu mencintai lelaki sampah itu!
Ketika masih sehat dan banyak uang. Bapak senang sekali menghambur-hamburkan uang. Berpoya-poya, mabuk-mabukan dengan wanita penghibur. Liver-nya remuk, ginjalnya hancur tak mampu menyaring darah lagi. Kini jadilah dia lelaki tua tak berguna dengan gagal ginjalnya itu.
Pelacur itu telah merenggut kebahagiaan Arman dan ibunya. Bapak memilih menikah dan pergi bersama istri mudanya itu entah ke mana, meninggalkan Arman yang masih kecil dan Emak yang kebingungan harus bertahan hidup tanpa pegangan.
Dari dapur Emak memanggil Arman. Maan, suara Emak cukup jelas ditelinga Arman. Arman segera meloncat dari dipannya dan bergegas menjumpai ibunya di dapur.
“Ye Mak, ade ape Mak?” tanya Arman.
“Jangan lah kau gituk dengan Bapakmu,Man, tak baik gitu,” Emak mulai mengajak bicara. Arman diam saja tak keluar suara sedikitpun dari mulutnya. Dia lebih memilih Membantu ibunya memotong-motong cabai dan kunyit, mengiris bawang dan bawang putih. Beberapa bumbu lain mulai dirajang kemudian dimasukan kedalam blander untuk dihaluskan. Setelah itu mereka mulai mengolah ikan patin itu menjadi asam pedas dalam sebuah kuali yang cukup besar.
Emak mulai mencicipi, mengambil kuah dengan sendok kecil dan menjilatnya. Mmmh,, rasanya enak. Sudah sesuai dengan yang diinginkan. Semoga Bapak menyukainya.
Sudah lama Bapak kehilangan napsu makan. Makannya hanya sedikit, badannya semakin kurus saja. Kesehatannya pun semakin menurun. Entah kenapa pagi ini tiba-tiba Bapak ingin makan asam pedas.
“Pak,, Paak,” ibu memanggil bapak “Asam pedasnya sudah jadi nih, ayo kita makan Pak,” sahut emak dari meja makan.
Tidah ada sedikitpu suara dari mulut Bapak, masih dengan posisi seperti awal. Bapak bertelungkup didalam selimut. Badannya agak melengkung, seluruh bagian tubuhnya tertutup selimut.
Paak, Bapaak! Emak mencoba membangunkan kembali. Kali ini Emak mendekati Bapak ditilamnya, tapi Bapak belum juga bergerak. Emak menggoyang-goyangkan Bapak. Emak mulai was-was, jangan jangaaan? Emak membuka selimut Bapak. Didapatinya lelaki yang sangat dicintainya itu diam tak berdaya. Pucat pasi, darah tak mengalir, diraba tangannya nadi tak berdenyut. Diusap hidungnya tak ada tarikan nafas sedikitpun. Sontak Emak meraung.
Bapaaak!
Emak menggapai-gapai tangannya kearah Arman. “Bapak mu mati Man!” kemudian menangis kembali sejadi-jadinya.
Kali ini Arman bingung, dia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Ingin menangis tapi dia tidak sedih. Ingin diam saja tapi takut dosa. Biar bagaimanapun, lelaki itu adalah Ayahnya. Hatinya memang kesal, marah dan dendam. Tetapi lelaki itu benar-benar mengabulkan permintaannya. Arman memintanya pergi jauh dari hidupnya. Dan kini Bapak benar-benar pergi untuk selamanya.
Tanpa bisa terbendung, gejolak didalam dada Armanpun membuncah seketika. Arman pun meraung tak terbendung. Dia juga menangis kehilangan.(*)
Editor : A'an