Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kiriman

Miftahul Khair • Minggu, 22 Juni 2025 - 14:24 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Amrin. ZR

 

Mentari condong ke barat, membiaskan cahaya kekuningan melalui celah jendela ruang tengah rumah Wak Dolek dan Uning Bulan. Rumah mereka berdiri kokoh di atas tanah dataran tinggi, jauh dari jangkauan luapan Sungai Besar yang sesekali mengancam perkampungan di hilir.

Di ruangan itu, Ujang Danggut yang baru sekitar tiga mingguan secara resmi melepas seragam putih abu-abunya, tertawa renyah menanggapi celotehan salah seorang dari empat kawannya. Aroma singkong goreng sisa santap siang masih samar tercium di udara.

“Nah, sudah siap semua?” seru Rijal, jari-jarinya sudah lincah menari di atas layar ponsel. Fikri, Gopar, dan Yansah mengangguk mantap.

Sore ini, sesuai percakapan di grup WhatsApp, mereka sepakat untuk mabar – main bareng – game Mobile Legend. Ruang keluarga dengan lantai ubin berlapis tikar pandan, serta televisi tabung besar menjadi saksi bisu keseruan mereka. Ada yang bersila di lantai, menyandar ke dinding semen, bahkan Gopar sesekali berdiri antusias saat war sengit terjadi di layar ponselnya.

Belum lagi hero pilihan terkunci, Uning Bulan muncul di ambang pintu, senyumnya mengembang membawa bungkusan kertas koran yang tampak berisi.

“Ini, Jang,” katanya lembut, menyerahkan bungkusan itu pada Ujang. “Bibit sawo unggul. Emak beli online, katanya lebih cepat berbuah.”

Belum sempat Ujang membalas, mata Uning Bulan menatap ke arah jendela. “Oh, baru ingat. Tadi pagi Emak lihat, pepaya dekat dinding rumah kita, di sebelah daun jendela, dah masak. Petikkan, Jang. Makan sama kawan-kawanmu.”

Saat jeda permainan yang menegangkan, Ujang bangkit dan berlari ke samping rumah.

Di sana, di bawah terik sore yang mulai mereda, menjulang pohon pepaya, yang dari pangkal hingga ke tengah batang agak menempel ke dinding, sedangkan bagian atasnya membungkuk. Selain pucuknya seolah hendak menyundul talang air, juga timbulkan rasa prihatin, betapa ringkihnya pohon pepaya itu menanggung buah-buah yang menggantung ranum.

Andai Bapak tidak menongkatkan sebuah kayu kasau, mungkin dari kemarin-kemarin pohon pepaya itu tumbang ke bumi. Ujang meraih sebatang galah bambu yang tersandar di dinding. Dengan cekatan, ia menjolok dua buah pepaya berwarna jingga kekuningan hingga jatuh ke tanah dengan bunyi tumpul. Mereka pun berbagi pepaya manis itu di sela-sela jari yang terus mengetuk layar ponsel. Gelak tawa dan umpatan khas gamer sesekali pecah di antara mereka.

Tak terasa, lantunan sholawat sebelum azan Magrib berkumandang, terdengar dari kejauhan. Satu per satu kawan Ujang berpamitan.

Yansah, yang pulang paling akhir, menepuk bahu Ujang pelan. “Jang,” bisiknya seraya melirik ke lantai ubin di dekat tempat Gopar tadi berdiri, “tadi pas main, aku perhatikan ada retak di ubin. Aneh.”

Ujang mengerutkan kening. “Retak? Ah, mungkin sudah lama. Nanti kulihat.”

Setelah Yansah menghilang di balik rimbun pohon pisang depan rumah, Ujang kembali ke ruang keluarga. Ia berjongkok, meneliti ubin yang dimaksud Yansah. Benar saja. Di antara nat ubin berwarna abu-abu kusam, tersembul garis retakan tipis, selebar batang cotton bud dengan panjang hampir dua jengkal.

Sulit terlihat karena persis berada di sambungan ubin. Ujang merebahkan diri, menempelkan pipinya ke lantai. Dari sudut pandang ini, retakan itu tampak sedikit meninggi, permukaannya terasa lebih kasar. Seketika dadanya berdebar.

Malam merayap masuk, membawa serta suara jangkrik dan hembusan angin dari lembah. Di teras rumah yang diterangi cahaya putih dari lampu LED 10 watt, Ujang dan Uning Bulan duduk di bangku kayu panjang. Bapak, masih mengenakan baju koko dan sarung, berdiri dengan menyandarkan bahu kanannya di bingkai pintu.

Uning Bulan menghela napas. “Emak juga merasakannya, Jang. Beberapa hari ini perasaan Emak ndak enak. Seperti ada hawa dingin yang ndak biasa di dalam rumah.”

Wak Dolek yang baru bergabung menyahut, “Jangan berpikiran buruk dulu. Mungkin saja ubinnya memang sudah tua.”

“Tapi retaknya itu… seperti bukan retak biasa, Pak,” timpal Ujang, mengingat permukaannya yang sedikit terangkat.

“Sudahlah,” Uning Bulan menyela, raut wajahnya tampak khawatir, “jangan-jangan benar kata orang-orang. Ada yang tidak suka dengan keluarga kita.”

Wak Dolek menenangkan istrinya. “Sudah kubilang, jangan khawatir. Nanti Bapak akan menghubungi Tok Nam dari seberang. Ingat kejadian Pak Kades desa hilir tempo hari? Jatuh dari sampan di Sungai Besar? Nah, Tok Nam itu yang kasih petunjuk lokasi mayatnya. Ilmunya kuat.”

Ujang dan Uning Bulan mengangguk, masih menyimpan kecemasan.

“Mudah-mudahan dalam dua tiga hari ke depan, Tok Nam datang. Dia akan melihat ubin itu,” lanjut Wak Dolek, mencoba mengakhiri percakapan yang mulai terasa berat.

Dua hari kemudian, menjelang pukul satu siang, seorang pria usia paruh baya berambut mullet, dengan sepatu kulit mengkilap dan celana jeans robek di lutut tiba di rumah Wak Dolek. Kaos hitam bergambar logo grup musik SLIPKNOT tampak pas di tubuhnya yang tegap.

Sebuah anting perak kecil menghiasi telinga kirinya. Ini adalah Tok Nam. Ia menjinjing tas ransel hitam yang tampak modern, berbeda jauh dari bayangan seorang tokoh spiritual tradisional. Aroma kemenyan menguar dari dalam tas saat Tok Nam membuka resletingnya, memperlihatkan berbagai benda seperti tulang dan taring binatang, kristal berwarna, dan kain hitam. Tok Nam langsung menuju ruang tengah.

Tak lama kemudian, usai meneliti retakan ubin, Tok Nam mulai bersila khidmat. Mata terpejam. Satu dua tarikan napas, mulutnya komat-kamit. Sekilas mirip dengungan lebah. Sejurus kemudian, diawali pekik kecil, tubuh Tok Nam tiba-tiba menegang, matanya terbuka dan nyalang. Suaranya berubah serak.

Cen duen pinang janten! Ada dengki di rumah ini! Ada hati busuk yang mengirim ulah!”

Ujang dan kedua orang tuanya terdiam membeku. Kata-kata Tok Nam yang keluar di sela-sela kesurupannya semakin menguatkan dugaan buruk mereka. Setelah beberapa saat, tubuh Tok Nam lemas dan ia terduduk dengan napas terengah-engah.

Setelah meminum air putih yang disuguhkan Uning Bulan, Tok Nam menjelaskan dengan tenang, sambil mengusap keringat di dahinya. “Retak itu bukan retak biasa. Ada kiriman dari orang yang membenci keluarga kalian. Tujuannya buruk.”

Ia mengeluarkan botol seukuran jempol bayi berisi cairan hijau pekat dari dalam ranselnya.

"Leburkan darah Antu Kulang Kalit ini ke dalam wadah tanah liat. Beri ia minuman tujuh tangkup tangan kiri dari tujuh teluk Sungai Besar. Setiap penghuni rumah, rendamkan tujuh potongan kuku dan tujuh helai rambut."

Ujang sekeluarga menyimak saksama.

"Setelah tujuh jam, Air Tujuh Benteng Kulak Kalit akan siap digunakan. Amalkan tiga hari berturut, ketika cahaya matahari menyentuh retak lantai."

Mata Tok Nam menyapu tiga wajah didepannya laksana panglima perang membakar jiwa-jiwa juang seluruh pasukan, "Dalam tiga hari, niat dan kuasa jahat akan berbalik kepada si pengirim secara...tunai."

Sebelum berpamitan, Ujang sempat melihat Bapak menyelipkan amplop cokelat yang tampak tebal ke tangan Tok Nam saat mereka bersalaman di teras. Ujang pura-pura tak melihat.

Dengan rona penuh harap, tiga anak beranak itu melepas kepergian Tok Nam. Nuansa horor yang menyesakkan dada dan kepala di hari-hari belakangan, sebentar lagi akan sirna.

Sedangkan bagi Tok Nam, perkara yang dibereskannya tadi cuma receh. Orang yang di mata Ujang sekeluarga menjelma superhero, memberantas kekuatan jahat di rumah mereka, melangkah ringan melintasi halaman sambil bersiul.

Nada yang mengalun dihembus angin petang, menyusun irama lagu Madu dan Racun-nya Arie Wibowo. Hampir mendekati tikungan jalan, siulan berubah menjadi vokal sedih namun penuh harga diri saat bagian reffrein: Madu, di tangan kananmu... Racun, di tangan kirimu... Aku tak tahu mana yang akan kau berikan padaku...

Tepat pukul tiga sore di hari pertama, kedua, dan ketiga, Wak Dolek dengan khusyuk menyiramkan campuran air dan cairan hijau ke atas retakan ubin sambil membacakan mantera yang diajarkan Tok Nam. Ujang dan Uning Bulan hanya bisa mengawasi dengan harap cemas.

Hari keempat berlalu tanpa perubahan yang berarti. Retakan itu tetaplah retakan. Hari kelima pun sama. Kekhawatiran mulai menyelimuti hati Ujang dan kedua orang tuanya. Apakah Tok Nam salah? Atau apakah kiriman itu terlalu kuat?

Namun, di hari keenam, saat Ujang hendak membantu Emaknya mengangkat jemuran kain di samping rumah, matanya terpaku pada pemandangan yang membuatnya membeku.

Uning Bulan berdiri mematung di dekat tiang jemuran seraya memandang pohon pepaya yang tumbuh menyerempet dinding di dekat jendela ruang tengah.

Daun-daunnya yang hijau segar kini berubah warna. Dari pangkal batang hingga ke pucuknya, pohon pepaya itu tampak menguning layu, seolah seluruh kehidupannya tersedot habis dalam semalam. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Cerpen