Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Indonesia Alami Deflasi 0,76 Persen di Awal 2025, Dampak Diskon Tarif Listrik

Miftahul Khair • Selasa, 4 Februari 2025 | 15:04 WIB
Ilustrasi - Petugas PLN sedang melakukan pemeliharaan jaringan.
Ilustrasi - Petugas PLN sedang melakukan pemeliharaan jaringan.

PONTIANAK POST - Kondisi ekonomi Indonesia pada awal tahun ini berjalan lambat. Hal itu tercermin dari indeks harga konsumen (IHK) pada Januari yang alami deflasi sebesar 0,76 persen secara bulanan (month to month) (MtM).

“Deflasi ini terjadi akibat adanya diskon 50 persen bagi pelanggan dengan daya listrik sampai dengan 2200 VA di Januari 2025,’’ kata Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, kemarin (3/2).

Secara historis dalam lima tahun terakhir, lanjut Amalia, perubahan tarif listrik juga pernah terjadi pada Juni dan Agustus 2022. Saat itu, ada penyesuaian tarif pada kuartal III 2022. Diskon tarif listrik turut menjadi acuan dalam perhitungan indeks harga konsumen.

 “Artinya, diskon itu dicatat dalam perhitungan inflasi jika kualitas barang atau jasa sama dengan kondisi normal. Harga diskon bisa didapatkan atau tersedia untuk banyak orang. Dengan demikian diskon tarif listrik sebesar 50 persen juga tercatat dalam perhitungan inflasi yang dilakukan BPS,’’ bebernya.

Amalia melanjutkan, kelompok terbesar penyumbang deflasi pada Januari adalah kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Nilainya mencapai 9,16 persen dan memberikan andil deflasi 1,44 persen.

Sementara, komoditas yang memberikan andil deflasi adalah tomat sebesar 0,03 persen; serta timun, tarif kereta api, tarif angkutan udara dengan andil masing-masing mencapai 0,01 persen.

Terpisah, Kepala BPS Jawa Timur Zulkipli mengatakan, siklus pergerakan IHK Jawa Timur mengikuti pergerakan nasional. Menurut dia, diskon tarif listrik serta kembalinya harga produk dan layanan setelah masa libur Natal dan Tahun Baru menjadi penyebab deflasi di provinsi tersebut.

 “Pada Januari, deflasi sebesar 0,54 persen (MtM). Terutama dari segmen perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang turun sebanyak 10,1 persen,” ucapnya.

ekoBaca Juga: Pertamina Luncurkan Diesel X, BBM Ramah Lingkungan dengan Emisi Lebih Rendah

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu merespons positif kebijakan diskon tarif listrik yang memicu deflasi.

’’Kebijakan program diskon tarif listrik sebesar 50 persen kepada sebagian besar pengguna merupakan bagian dari program pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi,’’ paparnya.

Deflasi pada Januari 2025 diluar prediksi para ekonom. Sebelumnya, mereka memprediksi awal tahun ini akan terjadi inflasi meski, tidak besar. Yakni, dibawah 0,5 persen. Pengamat pun mengatakan bahwa IHK yang minus itu bisa dianggap terjadi penurunan daya beli.

“Jika tren ini berlanjut, maka bisa berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi karena bisnis dan industri akan mengalami tekanan akibat rendahnya konsumsi,” ujar Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman. (dee/bil/dio)

Editor : Miftahul Khair
#Deflasi #diskon tarif listrik