Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Inflasi Kalbar Naik 1,2% pada April 2025, Emas Jadi Penyumbang Utama

Novantar Ramses Negara • Sabtu, 10 Mei 2025 | 13:27 WIB
Ilustrasi inflasi.
Ilustrasi inflasi.

PONTIANAK POST - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat (Kalbar) mencatat adanya kenaikan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 1,20 persen pada April 2025.

Kepala BPS Kalbar, Muh Saichudin, mengungkapkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalbar meningkat dari 106,57 pada April 2024 menjadi 107,85 pada April 2025.

Data yang dihimpun dari lima kabupaten/kota di Kalbar ini juga menunjukkan inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,95 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 0,96 persen.

Saichudin menjelaskan bahwa kenaikan harga pada sepuluh dari sebelas kelompok pengeluaran utama menjadi pendorong utama inflasi ini.

"Inflasi ini terjadi karena kenaikan harga pada sepuluh kelompok pengeluaran utama," jelas Saichudin dalam keterangan persnya, Jumat (9/5).

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 3,96 persen, diikuti oleh kelompok pendidikan (2,42 persen), serta makanan, minuman, dan tembakau (1,78 persen). Menariknya, hanya kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami penurunan harga atau deflasi sebesar 1,20 persen.

Lebih lanjut, Saichudin merinci sejumlah komoditas yang memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi tahunan. Emas perhiasan dan cabai rawit menjadi penyumbang utama, diikuti oleh minyak goreng, udang basah, kopi bubuk, ikan kembung, ikan baung, mobil, sigaret kretek mesin (SKM), dan cumi-cumi.

Di sisi lain, beberapa komoditas berhasil menahan laju inflasi atau bahkan menyumbang deflasi, seperti daging ayam ras, beras, telur ayam ras, angkutan udara, tomat, telepon seluler, sawi hijau, tarif pulsa ponsel, ikan tenggiri, dan popok bayi sekali pakai.

Untuk inflasi bulanan, kenaikan tarif listrik, harga emas perhiasan, mobil, dan tarif angkutan udara menjadi pendorong utama. Selain itu, beberapa komoditas pangan seperti sawi hijau, ikan tenggiri, udang basah, dan bawang merah juga turut menyumbang inflasi bulanan.

Sementara itu, penurunan harga daging ayam ras, kangkung, cabai rawit, wortel, jeruk, dan beberapa komoditas lainnya berhasil menahan laju inflasi bulanan.

Dari sisi andil, sembilan dari sebelas kelompok pengeluaran memberikan kontribusi terhadap inflasi tahunan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar, mencapai 0,64 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan sumbangan yang signifikan sebesar 0,26 persen.

Kelompok transportasi tercatat tidak memberikan andil yang berarti, sementara kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru menyumbang deflasi sebesar 0,06 persen.

Menutup penjelasannya, Muh Saichudin menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap fluktuasi harga, terutama pada komoditas bahan kebutuhan pokok dan energi.

Menurutnya, perubahan harga pada kedua sektor ini dapat memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat secara luas.

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Barat dan Pemerintah Provinsi Kalbar diprediksi akan terus memantau perkembangan inflasi ini secara seksama.

Langkah-langkah stabilisasi harga, terutama pada komoditas pangan yang rentan terhadap gejolak, menjadi krusial untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi agar tidak semakin tinggi.

Koordinasi antara pemerintah daerah, BI, dan instansi terkait diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang efektif dalam mengatasi tekanan inflasi di Kalbar. (mse)

Editor : Miftahul Khair
#harga emas #naik #kalbar #inflasi