Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Daya Tarik Pasar Surat Utang Indonesia Masih Tinggi, Arus Masuk Bersih di Obligasi Capai USD 1,26 M

Miftahul Khair • Selasa, 13 Mei 2025 | 14:11 WIB
Ilustrasi surat utang negara.
Ilustrasi surat utang negara.

PONTIANAK POST – Di tengah dinamika global yang terjadi sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif resiprokal, pasar Indonesia dinilai masih menunjukkan kinerja resilien.

Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja menuturkan, ada beberapa dinamika yang terjadi di pasar finansial.

Untuk kelas aset obligasi, beberapa faktor terpenting yang menentukan minat investor adalah persepsi risiko kredit, stabilitas nilai tukar, dan arah suku bunga. “Dari potensi-potensi katalis yang telah kami sampaikan, dapat disimpulkan daya tarik pasar obligasi saat ini masih tetap tinggi,” tuturnya di Jakarta, kemarin (12/5).

Peluang dan urgensi penurunan suku bunga terlihat semakin terbuka, nilai tukar rupiah mulai stabil, penilaian terakhir dari dari Fitch & Moody’s bulan Maret lalu juga tetap mengafirmasi sovereign rating Indonesia di kategori layak investasi ‘BBB’ dengan outlook stabil.

“Inilah yang membuat minat investor domestik tetap kokoh, dan minat investor asing pun relatif terjaga dengan arus masuk bersih tahun berjalan mencapai USD 1,26 miliar, dibandingkan arus keluar USD 2,73 miliar di periode yang sama tahun 2024 lalu,” paparnya.

Sementara itu di kelas aset saham, perkembangan-perkembangan global terkini membuat kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) melejit kembali, walaupun kesinambungannya masih terlihat rentan. Pada empat bulan terakhir IHSG mengalami volatilitas ekstrem diakhiri koreksi tajam,

Freddy menyebutkan, eksekusi kebijakan pro pertumbuhan dan transisi belanja pemerintah yang tepat sasaran sangat diharapkan untuk dapat mendorong konsumsi dan daya beli masyarakat, dan pada akhirnya memperbaiki kinerja korporasi.

Potensi pemangkasan suku bunga, walaupun dampaknya tidak seinstan seperti pada pasar obligasi, diharapkan dapat semakin mendorong stabilitas dan kesinambungan kinerja pasar saham jangka panjang. Karena iklim suku bunga tinggi merupakan salah satu faktor utama yang menekan performa korporasi dan sentimen negatif pasar.

“Terakhir, meningkatnya daya tarik pasar Asia di tengah melemahnya supremasi AS diharapkan sedikit banyak dapat berimbas baik juga ke pasar saham Indonesia,” tuturnya. (dee/dio)

Editor : Miftahul Khair
#daya tarik #surat utang negara #obligasi