PONTIANAK POST - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melihat potensi besar peningkatan hubungan dagang antara RI dan Amerika Serikat (AS). Itu jika kedua negara dapat menyepakati kerja sama dagang dan isu tarif yang saat ini menjadi topik menghasilkan kesepakatan saling menguntungkan.
Kadin optimistis nilai perdagangan kedua negara bisa mencapai USD 80 miliar dalam 2-3 tahun mendatang. Kemudian naik USD 120 miliar dalam 4 tahun mendatang.
”Prediksi kami di Kadin, setelah negosiasi tarif resiprokal, kalau antara ekspor dan impor (Indonesia-AS, red) itu sekitar USD 39 sampai 40 miliar . Dalam waktu 2-3 tahun, kalau kita pandai, itu bisa menjadi dari USD 40 hingga 80 miliar. Dalam 4 tahun, bisa jadi USD 120 miliar,” beber Anindya.
Anindya menambahkan bahwa data perdagangan AS mencatat ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam itu sekitar USD 25 miliar dan impor USD 13 miliar, sehingga total perdagangan saat ini sekitar USD 40 miliar. Dengan surplus perdagangan Indonesia sekitar USD 18 miliar.
Menurut dia, surplus itu akan diseimbangkan lagi melalui negosiasi tarif dengan AS, agar perdagangan kedua negara setara. ”Sisanya USD 20 miliar akan datang dari dua belah pihak saling ekspor-impor. Kita akan ekspor lebih banyak lagi karena Amerika tidak menerima dari beberapa negara, seperti Tiongkok,” ucapnya.
Sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk alas kaki, RI juga berpeluang menambah ekspor sekitar USD 10 miliar. Sehingga, berpotensi meningkatkan total perdagangan menjadi USD 60-70 miliar.
Sebaliknya, AS berpeluang meningkatkan ekspor komoditas pangan seperti kedelai, gandum, susu, dan daging ke Indonesia. “Dengan potensi-potensi itu bisa menyamai nilai perdagangan Indonesia-Tiongkok sebesar USD 130 miliar,” tuturnya.
Pada kesempatan sebelumnya, Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economic CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pemerintah Indonesia harus menganalisis langkah AS dengan cermat dan kepala dingin. Nilai utama dalam negosiasi adalah mengamankan kepentingan ekonomi nasional.
”Tidak boleh berdampak negatif pada stabilitas makroekonomi dan neraca perdagangan Indonesia, memperburuk kehidupan petani, mengingat sebagian besar impor dari AS adalah produk pertanian,” urainya.
Menurut Yusuf, pemerintah harus bersiap dengan data komprehensif untuk mematahkan tuduhan-tuduhan negatif terhadap Indonesia. ”Pemerintah juga perlu mewaspadai tantangan tersembunyi potensi serbuan produk manufaktur berharga murah atau dumped imports ke pasar domestik dan lonjakan impor produk pertanian dari AS serta negara lain,” bebernya. (agf/dio)
Editor : Miftahul Khair