Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ketidakpastian Perang Dagang, PIER Turunkan Proyeksi Ekonomi RI

Miftahul Khair • Kamis, 15 Mei 2025 | 14:04 WIB
Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (14/5). IHSG ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (14/5).
Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (14/5). IHSG ditutup menguat pada akhir perdagangan Rabu (14/5).

*The Fed Berpotensi Turunkan Suku Bunga

PONTIANAK POST ― Memasuki kuartal II 2025, semakin banyak lembaga riset yang merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. Terbaru, Permata Institute for Economic Research (PIER) yang menyebutkan kinerja produk domestik bruto (PDB) naik 4,5-5 persen. Angka itu lebih rendah dari proyeksi awal sebesar 5,11 persen.

Hal itu seiring dengan ketidakpastian perang dagang yang membuat perusahaan menunda investasi dan rencana ekspansi. "Oleh karena itu, kami berharap pemerintah dapat merespons dengan kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dan stimulus tepat sasaran, agar konsumsi dan investasi domestik kembali bergerak," ujar Chief Economist Permata Bank Josua Pardede dalam economic review di kantor Permata Bank, kemarin (14/5).

Indikasi perlambatan sudah tercermin dari pertumbuhan PDB Indonesia di kuartal I 2025 sebesar 4,87 persen year on year (YoY). Angka itu lebih rendah dibandingkan 5,02 persen YoY pada kuartal sebelumnya serta menjadi laju paling lambat sejak kuartal III 2021.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang biasanya menjadi motor utama ekonomi melambat di level 4,89 persen YoY. Sejalan dengan melemahnya daya belanja pada sub-komponen makanan dan minuman serta transportasi dan komunikasi.

Pertumbuhan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga menurun hanya 2,12 persen YoY. Terutama akibat melemahnya investasi pada bangunan dan struktur serta mesin dan peralatan. Di sisi lain, belanja pemerintah terkontraksi 1,38 persen YoY setelah pada tahun sebelumnya terdongkrak oleh aktivitas pemilu.

 “Meski, ekspor barang dan jasa meningkat dengan didukung oleh kinerja ekspor nonmigas yang lebih kuat,” ucapnya.

Menurut Josua, ketidakpastian global akibat perang dagang akan menekan laju investasi dan konsumsi domestik. Selain itu, juga memengaruhi pertumbuhan sektoral, meskipun dampaknya akan bervariasi.

Sektor dengan orientasi ekspor dan memiliki ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat (AS) yang relatif tinggi, seperti tekstil dan garmen, kulit dan alas kaki, elektronik, furnitur, serta produk karet, akan terkena dampak yang cukup signifikan di 2025.

Di sisi lain, sektor-sektor yang berorientasi pada pasar domestik, seperti jasa dan perdagangan, diyakini masih akan menjadi motor utama pertumbuhan tahun ini.

 “Meningkatnya kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan yang tampak lesu dapat membuka ruang bagi pelonggaran moneter. Jika ketidakpastian global mereda dan ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral AS (The Fed) menguat, maka Bank Indonesia dapat memangkas suku bunga acuan (BI-Rate) hingga 50 basis poin (bps) sepanjang sisa tahun ini," papar Josua. (han/dio)

Editor : Miftahul Khair
#the fed #perang dagang #PIER #proyeksi ekonomi #suku bunga