PONTIANAK POST - Kalimantan Barat (Kalbar) berpeluang menjadi pemain utama dalam industri energi terbarukan Indonesia dengan mengubah limbah cair sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) menjadi bio-gas setara LPG atau yang disebut Bio Natural Gas (BNG).
Proyek ini tak hanya menjanjikan energi murah dan bersih, tapi juga membuka potensi pendapatan dari skema carbon credit global.
Kalbar, yang menempati peringkat ketiga sebagai produsen CPO nasional setelah Riau dan Kalimantan Tengah, menghasilkan jutaan meter kubik limbah POME setiap tahun.
Menurut Guru Besar Kimia Agro Industri Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Thamrin Usman, DEA pengolahan limbah ini secara anaerobik dapat menghasilkan 20 m³ biogas per ton POME, dengan kandungan metana sekitar 60%, cukup untuk dimurnikan menjadi gas siap pakai bagi rumah tangga atau industri.
“Potensi BNG dari limbah sawit sangat besar, apalagi jika dikaitkan dengan pasar karbon yang mulai berkembang,” kata Thamrin.
Model Bisnis Hijau: Energi + Karbon
Dengan investasi awal Rp30–50 miliar untuk skala pabrik 100 ton POME/hari, proyek ini diproyeksikan mencapai break-even point dalam 4–5 tahun. Dari sisi pendapatan, skema ini menawarkan dua sumber utama:
- Penjualan BNG: Potensi produksi 2.000 m³ CH₄/hari setara Rp360 juta/bulan.
- Carbon Credit: Pengurangan emisi hingga 7.319 tCO₂e/tahun/pabrik berpeluang mendatangkan Rp560 juta/tahun, dengan harga karbon saat ini \$4.8/ton — berpotensi naik drastis pada 2030–2050.
Produk sampingan seperti pupuk organik dan minyak sawit tambahan juga memperkuat nilai ekonomi proyek.
Teknologi dan Mitra Strategis
Teknologi kunci mencakup anaerobic digester dan sistem pemurnian berbasis metakaolin sulfonat atau POMEVap dari Alfa Laval.
Teknologi ini diklaim hemat lahan (300 m²) dan mampu mengekstrak hingga 810 ton minyak sawit tambahan per tahun untuk pabrik kapasitas 45 ton/jam.
PT Pertamina dan PGN disebut sebagai mitra potensial untuk distribusi BNG, baik melalui jaringan pipa maupun moda distribusi tabung gas.
Thamrin sendiri mendorong regulasi daerah yang mempercepat adopsi teknologi energi bersih, termasuk penerapan pajak karbon dan insentif untuk proyek circular economy.
Proyek ini juga direncanakan masuk ke Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon), atau didaftarkan ke skema internasional seperti Article 6.4 Paris Agreement.
Outlook 2030: 10% Kebutuhan Gas Kalbar & Emisi Turun 1 Juta Ton
Jika terimplementasi penuh, BNG dari POME diproyeksikan mampu memenuhi 10% kebutuhan gas Kalbar dan menurunkan emisi hingga 1 juta ton CO₂e per tahun.
Indonesia sendiri menargetkan pengurangan emisi 377 juta ton CO₂e pada 2035 dalam komitmennya kepada Paris Agreement.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro