Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Orang Indonesia Makin Jarang Menabung, Biaya Pendidikan dan Cuaca Ekstrem Tekan Kemampuan Ekonomi Masyarakat

Aristono Edi Kiswantoro • Senin, 2 Juni 2025 | 15:40 WIB
Ilustrasi LPS.
Ilustrasi LPS.

PONTIANAK POST – Optimisme konsumen Indonesia dan kecenderungan mereka untuk menabung mengalami penurunan signifikan pada Mei 2025, seiring meningkatnya tekanan biaya hidup dan gejolak cuaca yang berdampak pada perekonomian rumah tangga.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat bahwa Indeks Menabung Konsumen (IMK) melemah 4,4 poin ke level 79,0, menandai pelemahan niat dan kemampuan menabung masyarakat.

Sementara itu, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) juga mengalami penurunan sebesar 3,4 poin menjadi 99,7—kembali ke bawah ambang batas optimisme (100) setelah beberapa bulan bertahan di atasnya.

Data terbaru ini memperlihatkan adanya tekanan multidimensi terhadap konsumsi rumah tangga, yang berasal dari lonjakan pengeluaran untuk pendidikan, tingginya harga sembako, dan meningkatnya cicilan utang.

Di saat yang sama, bencana banjir dan cuaca ekstrem menyebabkan gangguan pada panen dan infrastruktur di sejumlah daerah, memperburuk persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini.

“Perkembangan ini mengindikasikan rencana dan intensitas menabung yang cenderung melemah. Hal ini antara lain berhubungan dengan pengeluaran rumah tangga yang lebih tinggi untuk pendidikan selama masa penerimaan siswa baru dan jelang dimulainya tahun ajaran baru,” ujar Seto Wardono, Direktur Group Riset LPS di Jakarta.

Kecenderungan Menabung Menurun, Khususnya di Kalangan Pendapatan Rendah

Pelemahan IMK pada Mei dipicu oleh turunnya dua komponen utama: Indeks Intensitas Menabung (IIM) yang anjlok 7,1 poin ke level 65,1, dan Indeks Waktu Menabung (IWM) yang turun 1,7 poin ke 92,9.

Baca Juga: LPS Sesuaikan Tingkat Bunga Penjaminan untuk Menjaga Stabilitas Sektor Keuangan dan Perbankan

Data ini menunjukkan bahwa walaupun ada sedikit peningkatan jumlah konsumen yang menilai saat ini sebagai waktu yang tepat untuk menabung, secara keseluruhan niat dan kemampuan aktual untuk menabung justru semakin menurun.

Sebanyak 30,3% responden menyatakan tidak pernah menabung, naik dari 29,3% pada April.

Lebih mencolok lagi, persentase konsumen yang menyatakan bahwa mereka menabung lebih sedikit dari rencana naik tajam dari 49,1% menjadi 56,7%.

Pelemahan IMK paling dalam terjadi pada kelompok rumah tangga berpendapatan rendah, yakni di bawah Rp1,5 juta/bulan, dengan penurunan 12,5 poin.

Kelompok pendapatan menengah dan atas pun tak luput dari tekanan, meski dalam skala lebih kecil.

Hanya kelompok rumah tangga dengan pendapatan di atas Rp7 juta/bulan yang masih mencatat IMK di atas level 100, menandakan mereka masih memiliki kapasitas untuk menabung secara moderat.

Kepercayaan Konsumen Tergerus oleh Kenaikan Harga dan Ketidakpastian Ekonomi

Dari sisi persepsi terhadap kondisi ekonomi, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) menunjukkan pelemahan di dua komponen utamanya.

Indeks Situasi Saat Ini (ISSI) turun dari 81,9 ke 79,4, sedangkan Indeks Ekspektasi (IE) melemah dari 118,9 ke 114,9. Ini mencerminkan penurunan kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun masa depan.

Menurut LPS, penurunan ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor rutin seperti harga pangan dan ketatnya lapangan kerja, tapi juga cuaca ekstrem yang berdampak langsung pada rumah tangga dan sektor pertanian.

Banjir dan kegagalan panen turut menekan keyakinan masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang terdampak.

“Faktor cuaca ekstrem menyebabkan kerusakan infrastruktur dan turunnya hasil panen, yang secara langsung menurunkan kepercayaan masyarakat di wilayah terdampak,” tambah Seto.

Dampak Luas: Konsumsi Rumah Tangga Bisa Terhambat

Jika tren ini berlanjut, ada risiko bahwa konsumsi rumah tangga, komponen terbesar dalam struktur PDB Indonesia, akan mengalami perlambatan dalam beberapa bulan mendatang.

Sinyal ini penting bagi pembuat kebijakan fiskal dan moneter, karena daya beli dan sentimen konsumen memainkan peran kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Meskipun kelompok berpendapatan tinggi masih mencatat IKK di atas level 100, penurunan tajam sebesar 14,6 poin pada kelompok ini menjadi indikasi awal bahwa tekanan ekonomi kini dirasakan lintas segmen.

Kelompok berpendapatan rendah dan menengah juga mencatat penurunan, dengan dampak terbesar pada RT berpendapatan hingga Rp1,5 juta/bulan.

Implikasi Kebijakan: Saatnya Intervensi yang Terarah?

Tren penurunan ini dapat menjadi pertimbangan penting bagi pemerintah dalam merancang kebijakan intervensi sosial, subsidi pendidikan, atau stimulus fiskal tambahan menjelang semester kedua 2025.

Di sisi moneter, Bank Indonesia kemungkinan akan mencermati data ini sebagai bagian dari pertimbangan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas harga.

Dengan meningkatnya tekanan terhadap daya beli, serta persepsi ekonomi yang menurun, stabilisasi konsumsi akan menjadi tantangan utama dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global dan domestik.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Ekonomi #Indeks Menabung Konsumen #menabung #LPS #bank #indeks kepercayaan konsumen