PONTIANAK POST – Setelah sempat terhenti, ekspor ikan hias Arwana Super Red dari Kalimantan Barat (Kalbar) kembali bisa dilakukan melalui Bandara Internasional Supadio, Kabupaten Kubu Raya. Ekspor perdana dilakukan, Senin (30/9), dan menjadi momentum baru bagi pengusaha maupun petani Arwana di daerah.
Ketua Umum Asosiasi Penangkar dan Pedagang Siluk Indonesia (APPSI), Eri Hikmatul Basyir, mengatakan ekspor sempat terhenti karena pencabutan status internasional Bandara Supadio. Namun, dengan dikembalikannya status internasional, proses pengurusan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) kini dapat kembali dilakukan langsung dari Kalbar.
“Kalbar merupakan pusat produksi Arwana, khususnya jenis Super Red yang sudah mendunia. Dengan kembalinya Supadio sebagai bandara internasional, ekspor bisa dilakukan langsung dari daerah asalnya,” ujarnya.
Eri menilai peluang ekspor akan semakin terbuka lebar. Selain memberi kebanggaan bagi pengusaha Arwana, kondisi ini juga menjadi harapan baru untuk membangkitkan perekonomian daerah.
Dari sisi teknis, ekspor melalui Pontianak membawa dampak positif karena proses menjadi lebih cepat tanpa harus melalui pengecekan ulang di Jakarta atau bandara transit lain.
“Ini sangat penting, karena Arwana adalah makhluk hidup. Semakin singkat waktu ekspor, semakin kecil risiko kematian atau kerusakan selama perjalanan,” jelasnya.
Ia juga berharap dukungan dari berbagai pihak, termasuk Komisi IV DPR RI, Badan Karantina Indonesia, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan, dapat memperkuat posisi Arwana sebagai maskot ikan hias air tawar Indonesia.
“Kami berharap Kalbar bisa memiliki direct flight ke kota-kota besar di luar negeri, khususnya Guangzhou yang menjadi pasar terbesar Arwana. Selain itu, pasar baru seperti India dan Kamboja perlu dibuka, karena selama ini peminat di sana lebih banyak membeli dari Thailand dan Vietnam. Padahal, Arwana Super Red asli hanya bisa diproduksi di Indonesia, terutama Kalimantan Barat,” pungkasnya. (bar)
Editor : Miftahul Khair