Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Penjualan Otomotif Hampir Pasti Gagal Target

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 23 November 2025 | 17:19 WIB

 

RAMAI PENGUNJUNG: Suasana pameran otomotif di Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2025, di ICE BSD City Tangerang, Banten, Jumat (21/11).
RAMAI PENGUNJUNG: Suasana pameran otomotif di Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2025, di ICE BSD City Tangerang, Banten, Jumat (21/11).

JAKARTA - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melihat pasar otomotif nasional mulai kembali bergairah menjelang akhir 2025.

Meski penjualan diperkirakan tidak mencapai target awal 850 ribu unit, asosiasi menegaskan bahwa permintaan kendaraan menunjukkan pemulihan yang lebih kuat dalam dua bulan terakhir.

Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, mengatakan tren penjualan dari September ke Oktober bergerak positif dan momentum tersebut diperkirakan berlanjut hingga November.

“Walaupun tidak mencapai proyeksi 850 ribu unit, kami melihat penjualan tahun ini akan berada di kisaran 800 ribu unit,” ujarnya saat membuka Gaikindo Jakarta Auto Week (GJAW) 2025 di Tangerang, Jumat (21/11).

Putu menjelaskan peningkatan tersebut tercermin dari naiknya Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) yang diperoleh peserta pameran.

Kehadiran berbagai model baru, baik yang menawarkan teknologi terkini maupun opsi harga terjangkau, dinilai mempercepat minat beli masyarakat.

Sebagai pameran penutup tahun, GJAW 2025 diharapkan menjadi pemantik penjualan jelang tutup tahun. Ajang tersebut diikuti 80 peserta, terdiri atas 33 merek mobil penumpang, 10 merek sepeda motor, dua karoseri, dan lebih dari 45 perusahaan industri pendukung.

“Kami harapkan GJAW 2025 menjadi momentum penjualan yang masif sekaligus penggerak industri di akhir tahun,” kata Putu.

Untuk menarik pengunjung, penyelenggara menyiapkan sejumlah program, termasuk test drive kendaraan listrik sebagai edukasi bagi masyarakat yang mempertimbangkan transisi ke elektrifikasi.

Selain itu, ada kegiatan komunitas serta kolaborasi pembiayaan dengan Permata Bank untuk mempermudah transaksi.

Menanggapi banyaknya merek Tiongkok yang masuk pasar Indonesia, Putu menilai kompetisi tersebut justru berpotensi mengangkat penjualan nasional. Gaikindo, kata dia, memberikan perlakuan setara kepada seluruh peserta.

“Bukan hanya kendaraan Tiongkok, semua merek ada di sini. Soal siapa yang unggul dalam penjualan atau teknologi, itu bergantung pada apa yang mereka tawarkan,” ujarnya.

Gaikindo optimistis ruang pertumbuhan industri tetap luas. Rasio kepemilikan kendaraan di Indonesia masih sekitar 100 unit per 1.000 penduduk, jauh lebih rendah dibanding Malaysia yang mendekati 500 unit dan Thailand yang berada di kisaran 200–300 unit.

 

Potensi Masih Besar

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan industri otomotif Indonesia memiliki ruang besar untuk terus berekspansi, seiring potensi pasar domestik yang belum sepenuhnya tergarap.

“Kemampuan industri otomotif masih terbuka untuk ekspansi, mengingat potensi pasar dalam negeri sangat besar,” kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, dalam acara yang sama.

Berdasarkan data vehicles in use 2024 dari International Organization of Motor Vehicle Manufacturers (OICA), Indonesia, sebagai negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara, baru memiliki Car Ownership Ratio (COR) 99 unit per 1.000 penduduk.

Angka ini masih jauh di bawah Malaysia 490/1.000, Thailand 275/1.000, dan Singapura 211/1.000, menunjukkan ruang pasar yang masih luas.

Industri otomotif nasional juga menjadi subsektor penting bagi manufaktur, dengan kontribusi 1,28 persen terhadap PDB triwulan III 2025.

Sektor ini meliputi 39 pabrikan kendaraan roda empat dengan kapasitas 2,39 juta unit per tahun, serta 82 pabrikan kendaraan roda dua dan tiga dengan kapasitas 11,2 juta unit per tahun.

Pada Januari–September 2025, produksi kendaraan roda empat mencapai 0,85 juta unit, dengan ekspor Completely Built-Up (CBU) 0,38 juta unit atau hampir 45 persen dari total produksi. Sementara kendaraan roda dua dan tiga tercatat produksi 5,25 juta unit dengan ekspor CBU 0,41 juta unit.

Tingginya porsi ekspor menegaskan posisi Indonesia sebagai basis produksi penting bagi pabrikan global, meski kompetisi dengan negara produsen lain kian ketat.

Untuk mendorong kendaraan rendah emisi, Kemenperin meluncurkan Program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) melalui Permenperin Nomor 36 Tahun 2021.

Saat ini, 15 perusahaan berpartisipasi memproduksi berbagai jenis kendaraan rendah emisi, termasuk KBH2 (Kendaraan Bermotor Hemat Energi dan Harga Terjangkau), HEV, PHEV, dan BEV, dengan tambahan investasi Rp22,37 triliun.

Pemerintah juga mempercepat ekosistem kendaraan listrik melalui berbagai insentif strategis, termasuk Pajak Penjualan Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) untuk mobil hybrid dan listrik.

Langkah ini dinilai mampu meningkatkan penjualan, sebagaimana pengalaman saat pandemi COVID-19. Pada 2020, penjualan mobil hanya 532 ribu unit, dan produksi 690 ribu unit. Setelah insentif, 2021 penjualan melonjak menjadi 887 ribu unit, dan produksi 1,12 juta unit.

“Langkah ini menegaskan komitmen kita membangun industri otomotif yang berdaya saing, modern, dan berkelanjutan,” ujar Setia Diarta. (jpc/ant)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Target #penjualan #mobil #gaikindo #otomotif