Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Emas Tembus Rp2,6 Juta, Harga Perak Naik 100 Persen: Bagaimana Prediksi di 2026?

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 28 Desember 2025 | 20:48 WIB

 

 

Pekerja menunjukkan emas yang dijual di Butik Emas Logam Mulia PT. Aneka Tambang (Antam) di Pulogadung, Jakarta Timur, Kamis (28/11/2024).
Pekerja menunjukkan emas yang dijual di Butik Emas Logam Mulia PT. Aneka Tambang (Antam) di Pulogadung, Jakarta Timur, Kamis (28/11/2024).

PONTIANAK POST – Harga emas di pasar domestik kembali menguat pada Sabtu (27/12), seiring tren kenaikan harga logam mulia global. Kenaikan terjadi pada seluruh produk emas utama, mulai dari Antam, UBS, hingga Galeri24.

Di saat yang sama, perak justru mencuri perhatian investor setelah mencatat lonjakan harga lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025, memicu spekulasi kuat soal prospeknya pada 2026.

Berdasarkan data laman resmi Sahabat Pegadaian, harga emas Galeri24 naik Rp15.000 menjadi Rp2.612.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.597.000. Sementara emas UBS mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni Rp23.000, dari Rp2.648.000 menjadi Rp2.671.000 per gram.

Kenaikan juga terjadi pada emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. Harga emas Antam naik Rp16.000 menjadi Rp2.605.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.589.000. Harga pembelian kembali (buyback) turut meningkat menjadi Rp2.464.000 per gram.

Penguatan harga emas ini mempertegas posisi logam mulia sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global, meski perhatian investor mulai terbelah oleh lonjakan agresif harga perak.

 

Rincian Harga Emas di Pegadaian dan Antam

Emas Galeri24 dijual dalam ukuran 0,5 gram hingga 1.000 gram. Harga terendah untuk ukuran 0,5 gram tercatat Rp1.370.000, sementara ukuran 1 kilogram dibanderol Rp2.531.687.000.

Sementara emas UBS tersedia dalam ukuran 0,5 gram hingga 500 gram. Harga emas UBS 0,5 gram tercatat Rp1.444.000, sedangkan ukuran 500 gram mencapai Rp1.295.095.000.

Adapun harga emas batangan Antam yang dipantau dari laman Logam Mulia menunjukkan harga Rp1.352.500 untuk ukuran 0,5 gram dan Rp2.545.600.000 untuk ukuran 1.000 gram.

Seluruh transaksi emas batangan dikenakan ketentuan pajak sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017.

Pembelian emas batangan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,45 persen bagi pemilik Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 0,9 persen untuk non-NPWP.

Sementara penjualan kembali emas ke Antam dengan nilai di atas Rp10 juta dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemilik NPWP dan 3 persen untuk non-NPWP.

 

 

Perak Melonjak Tajam

Di tengah penguatan emas, perak justru mencatat performa paling agresif sepanjang 2025. Harga perak melonjak dari sekitar USD 30 per ons pada awal tahun menjadi mendekati USD 70 per troy ons pada akhir Desember 2025, atau naik lebih dari dua kali lipat dalam setahun.

Lonjakan ini didorong oleh kombinasi inflasi global, gangguan rantai pasok, serta ketegangan geopolitik yang mendorong investor mencari aset aman.

Selain itu, perak memiliki peran strategis sebagai bahan baku industri energi terbarukan dan teknologi, sektor yang terus mengalami peningkatan permintaan.

Pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve di akhir 2025 turut memperkuat reli harga perak. Penurunan suku bunga membuat biaya peluang memegang logam mulia menjadi lebih rendah dibandingkan instrumen berbasis bunga.

 

Prediksi 2026

Mengutip CBS News, ahli strategi pasar keuangan Birch Gold Group, Peter Reagan, menilai inflasi masih akan menjadi motor utama pergerakan harga perak pada 2026. Kenaikan biaya produksi dinilai akan terus mendorong harga perak ke level lebih tinggi.

Selain faktor fundamental, lonjakan permintaan Exchange-Traded Fund (ETF) berbasis perak juga memperketat pasokan fisik di pasar. Joshua D. Glawson dari Money Metals Exchange menilai pertumbuhan ETF menciptakan permintaan yang melampaui ketersediaan logam fisik, sehingga mendorong harga perak berjangka maupun spot.

Meski demikian, risiko koreksi tetap membayangi. Jika Federal Reserve berbalik arah dan menaikkan suku bunga pada 2026, daya tarik perak berpotensi melemah. CEO Rocket Dollar, Henry Yoshida, mengingatkan investor untuk mencermati pergerakan suku bunga riil, aktivitas manufaktur global, serta ekspansi sektor energi terbarukan.

Ia menekankan perak sebaiknya diposisikan sebagai instrumen diversifikasi portofolio jangka panjang, bukan spekulasi jangka pendek, terutama jika inflasi mereda namun suku bunga tetap tinggi.

Dengan emas yang kembali menguat dan perak yang melonjak tajam, akhir 2025 menjadi momentum penting bagi investor logam mulia untuk menata ulang strategi menghadapi dinamika ekonomi global pada 2026. (jpc)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#perak #Antam #emas #2026