PONTIANAK POST - Pasar saham Indonesia disebut memasuki fase transisi berisiko, di mana reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai rapuh dan tidak ditopang fundamental kuat.
Analis ekonomi politik pasar saham, Kusfiardi, menyebut kondisi ini sebagai pergeseran dari fase geopolitical panic menuju fragile risk-on yang rentan berbalik arah.
Dalam keterangannya, Kusfiardi menyoroti IHSG yang hanya mampu menguat terbatas ke level 7.307,59 di tengah pelemahan rupiah hingga sekitar Rp17.090 per dolar AS.
Baca Juga: IHSG Naik 2,52 Persen, Investor Lokal Borong Saham Pelat Merah
Sementara pasar global menguat akibat meredanya ketegangan geopolitik, pasar domestik justru tertinggal, yang menurutnya mengindikasikan adanya arus keluar modal asing.
“Ketika pasar global menguat tetapi IHSG tertahan dan rupiah melemah, itu bukan anomali, melainkan sinyal capital outflow,” ujar Kusfiardi dalam siaran persnya.
Rupiah Tertekan, Risiko Meningkat
Kusfiardi menegaskan bahwa penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menahan laju pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca Juga: OJK Selidiki Saham Gorengan, Prabowo Instruksikan Reformasi Integritas Bursa
Kondisi ini membuat reli di pasar saham domestik sulit bertahan lama.
“Selama dolar AS kuat dan yield tinggi, likuiditas global akan tersedot ke aset berbasis dolar. Reli di emerging market menjadi tidak sustain,” jelasnya.
Ia juga menyoroti level Rp17.000 per dolar AS sebagai batas psikologis penting yang dapat menandai perubahan rezim risiko nilai tukar rupiah.
Pasar Masuk Fase Selektif
Menurut Kusfiardi, pasar kini tidak lagi bergerak dalam pola kenaikan serentak, melainkan memasuki fase stock picker’s market.
Artinya, investor harus lebih selektif dalam memilih sektor dan saham.
Sektor berbasis komoditas dan emiten berpendapatan dolar dinilai lebih tahan terhadap tekanan, sementara sektor perbankan dan berbasis impor diperkirakan menghadapi tekanan ganda.
Baca Juga: Buron Hampir Setahun, Pelaku Penganiayaan di Desa Saham Landak Akhirnya Diciduk Polisi
Ia juga memperkirakan IHSG dalam jangka pendek akan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan melemah, terutama jika rupiah belum stabil dan tidak ada arus masuk dana asing yang signifikan.
“Ini bukan waktu untuk agresif, tetapi untuk bertahan, menjaga likuiditas, dan membaca arah arus modal global,” tegasnya.(*)
Editor : Budi Miank