Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rupiah Terancam Tembus Rp17.400 per USD, Dampak Konflik Iran–AS

Aristono Edi Kiswantoro • Senin, 13 April 2026 | 22:40 WIB
Ilustrasi penukaran Rupiah dengan Dolar AS.
Ilustrasi penukaran Rupiah dengan Dolar AS.

 

PONTIANAK POST - Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan setelah memanasnya konflik Timur Tengah menyusul gagalnya perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat.

Situasi geopolitik tersebut mendorong penguatan dolar AS dan berpotensi menekan rupiah hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan Senin (13/4/2026), rupiah berada di level Rp17.122 per USD atau melemah tipis dibanding posisi Jumat (10/4) yang berada di Rp17.112 per USD.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Menurutnya, pelaku pasar global kini cenderung memburu dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Hal itu terlihat dari indeks dolar AS yang melonjak dari kisaran 98,6 menjadi di atas 99.

Di saat yang sama, harga minyak mentah dunia jenis WTI juga melonjak hingga menembus USD 104 per barel.

“Jika konflik di Selat Hormuz benar-benar memanas, rupiah berpotensi menuju Rp17.400 per dolar AS. Padahal sebelumnya proyeksi itu baru terjadi di akhir tahun,” ujarnya.

Lonjakan Harga Minyak Tekan Rupiah

Kenaikan harga energi menjadi tekanan ganda bagi Indonesia.

Ketergantungan terhadap impor minyak membuat kebutuhan devisa meningkat ketika harga minyak dan dolar AS sama-sama naik.

Jika konflik mengganggu distribusi minyak di Selat Hormuz, harga minyak bahkan diperkirakan dapat melonjak hingga USD 115–116 per barel.

“Impor energi membesar, kebutuhan dolar meningkat, dan itu menekan rupiah,” jelas Ibrahim.

Risiko Merembet ke Fiskal

Pelemahan rupiah juga berpotensi berdampak pada kondisi fiskal nasional.

Dengan asumsi nilai tukar dalam APBN sekitar Rp16.500 per USD, pelemahan rupiah di atas Rp17.000 berisiko memperbesar beban subsidi energi serta defisit anggaran.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Langkah tersebut membuat pergerakan rupiah sempat kembali stabil setelah sebelumnya tertekan tajam.

Pergerakan Rupiah terhadap USD (April 2026)*

Tanggal Nilai Tukar
1 April Rp17.002 per USD
2 April Rp17.015 per USD
6 April Rp17.037 per USD
7 April Rp17.092 per USD
8 April Rp17.009 per USD
9 April Rp17.082 per USD
10 April Rp17.112 per USD
13 April Rp17.122 per USD

*) Sumber: Bank Indonesia

Namun, arah rupiah dalam jangka pendek dinilai masih sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Ini bukan lagi soal suku bunga atau perang dagang. Fokus pasar sekarang ada pada geopolitik, khususnya kawasan Timur Tengah,” imbuh Ibrahim. (mim/dio)


 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#rupiah terhadap dolar #nilai tukar rupiah 2026 #konflik iran amerika #harga minyak dunia #rupiah melemah