Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Nilai Tukar Rupiah Sentuh Level Terlemah, BI Intervensi di Tengah Tekanan Global dan Geopolitik

Hanif • Jumat, 24 April 2026 | 06:26 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat Pertemuan Musim Semi IMF–World Bank di Washington DC, Jumat (17/04/2026). Keduanya kini menghadapi tekanan berat menjaga stabilitas moneter dan fiskal di tengah pelemahan rupiah. (BI)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat Pertemuan Musim Semi IMF–World Bank di Washington DC, Jumat (17/04/2026). Keduanya kini menghadapi tekanan berat menjaga stabilitas moneter dan fiskal di tengah pelemahan rupiah. (BI)

PONTIANAK POST - Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menyentuh level psikologis Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (23/4). Angka ini menjadi yang terlemah sejak berdirinya republik ini.

Namun, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan tekanan terhadap rupiah masih sejalan dengan mata uang regional yang juga terdampak ketidakpastian global. “Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional,” ujarnya.

Merespons kondisi tersebut, BI meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan. Langkah dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar offshore non-deliverable forward (NDF), pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter agar tetap kompetitif dan menarik bagi investor di tengah tekanan global. “Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tegas Destry.

Dari sisi fundamental, kondisi eksternal Indonesia dinilai masih cukup kuat. Cadangan devisa hingga akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD 148,2 miliar, setara pembiayaan sekitar enam bulan impor—jauh di atas standar kecukupan internasional.

Namun, tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari faktor global umum, melainkan juga dipicu eskalasi geopolitik. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama.

Menurutnya, risiko gangguan distribusi minyak dunia di jalur strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Oman meningkatkan kekhawatiran pasar. Akibatnya, investor cenderung beralih ke aset aman berbasis dolar AS. “Potensi gangguan pasokan minyak dunia menjadi sentimen negatif bagi rupiah,” ujarnya.

Kurs Jauh Lampaui Asumsi APBN

Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan rupiah saat ini tidak lepas dari gejolak global yang sulit dikendalikan. “Ya, kita monitor saja. Ini kan dipengaruhi gejolak global juga,” ujarnya.

Airlangga menambahkan, pemerintah terus mencermati perkembangan nilai tukar mengingat asumsi kurs dalam APBN 2026 berada di level Rp16.500 per dolar AS—jauh di bawah posisi saat ini.

Ke depan, arah rupiah dinilai sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global, harga energi, serta respons kebijakan domestik. Jika tekanan eksternal terus berlanjut, rupiah masih berpotensi melemah lebih lanjut.

Analisis serupa disampaikan analis Bank Woori Saudara, Rully Nova. Ia menegaskan kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang menekan rupiah.

“Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat berlanjutnya perang AS dan Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz,” ucapnya.

Lonjakan harga minyak dunia memang menjadi tekanan signifikan. Harga Brent tercatat di kisaran USD 103 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati USD 98 per barel. Sebagai negara pengimpor minyak, kondisi ini meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi dan memperlemah rupiah.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga menunggu arah kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve) yang dinilai belum memberikan kepastian. Situasi ini memperkuat arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari dalam negeri, tekanan juga tercermin dari pasar obligasi. Aksi jual surat utang pemerintah mendorong kenaikan imbal hasil di berbagai tenor, yang mengindikasikan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan.

Pengaruh Struktur Dalam Negeri

Pandangan lebih kritis disampaikan Direktur Utama PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER), Didik Prasetiyono. Ia menilai pelemahan rupiah tidak semata dipicu faktor global, tetapi juga mencerminkan persoalan struktural dalam negeri.

Menurut Didik, ketergantungan terhadap impor energi yang masih tinggi, beban subsidi yang melebar, serta arah kebijakan fiskal yang belum sepenuhnya memberi kepastian menjadi faktor yang memperdalam tekanan terhadap rupiah.

“Dalam konteks ini, kurs rupiah lebih mencerminkan tingkat kepercayaan terhadap kebijakan kita,” ujarnya. Ia menilai respons yang selama ini dilakukan masih cenderung bersifat jangka pendek. Intervensi BI dinilai penting untuk meredam gejolak, namun belum menyentuh akar persoalan.

Didik menekankan perlunya langkah yang lebih fundamental, seperti memperbaiki struktur impor energi, menata ulang subsidi agar lebih tepat sasaran, serta menjaga arah kebijakan yang konsisten dan dapat diprediksi. “Kalau tidak, setiap kali ada gejolak global, kita akan terus terdampak," pungkasnya. (ant/jpc/ars)

Editor : Hanif
#terlemah #minyak dunia #usd #nilai tukar #rupiah