PONTIANAK POST - Bagi banyak anak muda hari ini, mimpi punya rumah sendiri perlahan pudar—digantikan pilihan hidup yang lebih fleksibel: menyewa.
Generasi Z dan milenial kini tak lagi melihat rumah sebagai simbol kesuksesan.
Bahkan, kepemilikan properti tak lagi dianggap sebagai investasi masa depan.
CEO PT Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono menyebut perubahan ini sebagai pergeseran cara pandang generasi muda.
“Membeli rumah itu tidak lagi dianggap sebagai investasi. Kalau mau tinggal di Jakarta ya sewa,” ujarnya dalam forum Asia Connect 2026 di The Westin Jakarta.
Fenomena ini muncul di tengah tekanan harga properti yang terus melonjak.
Sementara itu, pendapatan generasi muda tidak tumbuh sebanding.
Akibatnya, mereka harus memilih antara kualitas hidup atau memiliki aset.
“Mereka harus membagi prioritas,” kata Hendra.
Dari sekitar 32 juta penduduk Jabodetabek, separuhnya adalah usia produktif.
Namun, kelompok ini justru banyak yang menunda membeli rumah.
Sebagian bahkan memilih tidak membeli sama sekali.
Masalahnya tak hanya soal harga.
Produk properti yang tersedia juga dinilai tidak sesuai kebutuhan generasi muda.
Leads Property mencatat sekitar 90 persen dari 41.300 unit hunian di Jakarta belum terjual.
Unit-unit tersebut dianggap terlalu kecil dan kualitasnya belum memenuhi ekspektasi.
Hunian ideal bagi generasi muda kini lebih sederhana namun spesifik.
Kualitas bangunan, pengelolaan gedung, akses transportasi, dan harga terjangkau menjadi kunci.
Direktur Arsitektur Masgroup M. Adhiguna Sosiawan menyebut pola pikir ini dipengaruhi gaya hidup digital.
“Mereka terbiasa akses, bukan memiliki. Seperti Spotify atau Netflix,” katanya.
Bagi generasi ini, fungsi ruang lebih penting dibanding luasnya.
Yang utama adalah efisiensi dan kenyamanan hidup.
Meski demikian, minat terhadap properti belum sepenuhnya hilang.
Selama produk sesuai kebutuhan, peluang pasar tetap terbuka.
Pengembang pun diminta beradaptasi.
Mulai dari menyesuaikan harga hingga meningkatkan kualitas hunian.
“Ini bukan sekadar salah produk, tapi salah untuk generasi,” tegas Hendra. (ant)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro